Aku melihat ke barat dari tempatku duduk. Ke arah matahari yang terbenam diantara beton-beton ibukota. Satu hari lagi terlewat dengan desahan nafas... satu lagi hari yang kusesalkan.
Aku ingat satu pesan dari trainer sebuah pelatihan softskill yang kuikuti dulu...
"ingatlah baik-baik, hidup itu sulit!"
Dan ternyata, baru sekarang aku benar-benar merasakannya:
Hidup memang sulit.
dan sekali lagi aku diingatkan:
sulit bukan berarti mustahil.
yah... mungkin aku harus mengingat kembali pelajaran sejarah yang kusukai itu. Manusia-manusia itu tak akan tercatat namanya dalam sejarah jika mereka tidak berhasil melalui hidupnya dengan bermakna.
Mungkin aku hanya butuh usaha lebih keras... usaha lebih keras...
"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Monday, March 22, 2010
Monday, March 8, 2010
The winner....
Too bad Avatar didn't win Best Picture...Too bad James Cameron didn't win Best Director....
VIVA Hurt Locker :)
Best Picture
The Hurt Locker
Directing
Kathryn Bigelow - The Hurt Locker
Actor in a Leading Role
Jeff Bridges - Crazy Heart
Actress in a Leading Role
Sandra Bullock - The Blind Side
Actor in a Supporting Role
Christoph Waltz - Inglourious Basterds
Actress in a Supporting Role
Mo’Nique - Precious: Based on the Novel ‘Push’ by Sapphire
Animated Feature Film
Up - Pete Docter
Art Direction
Avatar - Art Direction: Rick Carter dan Robert Stromberg; Set Decoration: Kim Sinclair
Cinematography
Avatar - Mauro Fiore
Costume Design
Sandy Powell - The Young Victoria
Film Editing
The Hurt Locker - Bob Murawski and Chris Innis
Foreign Language Film
The Secret in Their Eyes (El Secreto de Sus Ojos)-Argentina
Makeup
Star Trek - Barney Burman, Mindy Hall dan Joel Harlow
Music (Original Score)
Up - Michael Giacchino
Music (Original Song)
The Weary Kind - Crazy Heart
Sound Editing
The Hurt Locker - Paul N.J. Ottosson
Sound Mixing
The Hurt Locker - Paul N.J. Ottosson dan Ray Beckett
Thursday, March 4, 2010
Almost Alice
Will watch Alice in the Wonderland 3D today. Can't wait to see Johnny Depp plays Madhatter.This is the Almost Alice album, not the original soundtrack, but almost the original soundtrack :p
The full list of the album is bellow... just listen it... it's amazing!!!
| 1. | "Alice" | Avril Lavigne | 3:35 |
| 2. | "The Poison" | The All-American Rejects | 3:53 |
| 3. | "The Technicolor Phase" | Owl City | 4:27 |
| 4. | "Her Name Is Alice" | Shinedown | 3:38 |
| 5. | "Painting Flowers" | All Time Low | 3:25 |
| 6. | "Where's My Angel" | Metro Station | 3:39 |
| 7. | "Strange" | Tokio Hotel and Kerli | 3:51 |
| 8. | "Follow Me Down" | 3OH!3 and Neon Hitch | 3:23 |
| 9. | "Very Good Advice" | Robert Smith | 2:58 |
| 10. | "In Transit" | Mark Hoppus and Pete Wentz | 4:02 |
| 11. | "Welcome to Mystery" | Plain White T's | 4:28 |
| 12. | "Tea Party" | Kerli | 3:29 |
| 13. | "The Lobster Quadrille" | Franz Ferdinand | 2:08 |
| 14. | "Always Running Out of Time" | Motion City Soundtrack | 3:00 |
| 15. | "Fell Down a Hole" | Wolfmother | 5:04 |
| 16. | "White Rabbit" | Grace Potter and the Nocturnals | 3:21 |
Tuesday, March 2, 2010
Wednesday, February 24, 2010
Monolog
Ritual sabtu pagi. Seperti biasa, hanya aku dan dia, secangkir kopi hitam dan secangkir teh hijau panas. Cafe ini masih sepi seperti biasa, dan dia pun memulai monolognya dengan kalimat yang sama...
"haaahhh... apa gw resign aja ya???"
Pertanyaan retoris itu kembali terlontar dari mulutnya. Aku tak menjawab, karena memang aku tak perlu menjawab, kita berdua sama-sama tahu bahwa dia tak akan pernah resign. Lima tahun mengenalnya aku jadi menganggap pekerjaan akuntan publik hanya cocok untuk orang tukang ngeluh, karena mereka akan mengeluh ingin resign setiap 3 jam sekali, setiap hari, setiap minggu selama peak season, setiap tahunnya. Tapi lima tahun pula aku mengenalnya untuk tahu bahwa dia terlalu mencintai pekerjaan itu untuk bisa resign. Karena itu aku tak perlu menjawabnya, aku hanya butuh tersenyum.
"gila, bisa sinting gw kalo kerja kayak gini terus, nyokap gw udah ribut aja ngeliat jadwal gw balik ke rumah. ya mau gimana lagi, gini kerjaan gw..."
Dia kembali memulai monolog panjangnya, hal yang akan terus diulang olehnya, ini adalah ritual sabtu pagiku selama 5 tahun terakhir dan monolog itu akan berakhir dengan...
"...hah... gw capek"
Aku kembali tersenyum. Memperhatikan dia mengacak rambutnya sendiri, rambut yang jika tidak kuingatkan mungkin akan lupa dia potong. Kenapa rambut laki-laki harus selalu cepat tumbuh? menjengkelkan sekali melihatnya gondrong. Aku mendorong cangkir berisi teh hijau panas ke arahnya.
"minum dulu" kataku.
Dia melirik cangkir teh itu dan tersenyum kecil. Perasaan itu kembali muncul.
Setiap kali aku melihatnya tersenyum, walau di sela kesal yang teramat sangat, senyum itu selalu muncul. Aku sangat menyukai senyumnya itu, membuatku ingin mengacak rambutnya, tertawa dan memeluknya erat. Aku tak perduli dengan segala keluh kesahnya asalkan senyum itu selalu muncul pada akhirnya.
"lu kok tahan dengerin keluhan gw?" tanyanya sambil mengangkat cangkir itu.
"dah kebiasa" balasku.
"hmmm... seandainya Ira gitu ya... hah, kemarin gw ketemu dia..." dan monolognya kembali dimulai. Masih monolog yang pernah kudengar, hanya dengan topic yang tak pernah bisa kunikmati.
Ceritakanlah padaku semua kesalmu, tentang pekerjaanmu, keluargamu, teman-temanmu, tapi kumohon jangan tentang dia. Lima tahun aku mengenalmu, dan tidak sampai setahun kau mengenalnya. Aku lebih banyak mengenalnya lewat keluh kesahmu dan bukan cerita bahagiamu, lalu mengapa harus dia?
Monolognya tetap sepanjang biasanya, dengan setiap kata yang seperti menyayat langsung ke tubuhku. Oh Tuhan, ini sakit sekali, aku butuh anesthesia.
"... tu cewek tuh bikin gw kesel setengah mati, udah tau kerjaan gw ribet, tambah diribetin urusan dia... ngomongnya cerewet lagi... haahhh... dasar cewek!" monolognya selesai.
Aku memperhatikannya erat-erat, menunggu tusukan terakhir yang aku tahu akan datang... dia tersenyum. Dia tersenyum seperti halnya senyum saat dia mengakhiri monolognya yang lain. Betapa senyum yang sama memberikan efek yang berlawanan padaku, membuatku bahagia dan menyiksaku juga. Aku diam, menutup mata, menekan rasa sakit itu sekuatnya.
Selalu aku ingin bertanya, aku yang mengenalmu lebih lama, aku yang mengenalmu lebih baik, aku yang bisa mendengar semua keluhmu tanpa protes dan aku yang selalu melewati ritual sabtu pagi ini selamat lima tahun terakhir, hanya aku dan kamu, lalu mengapa ada dia? mengapa aku selalu melihat senyummu untuk dia?
... aku tak pernah mengerti.
"haaahhh... apa gw resign aja ya???"
Pertanyaan retoris itu kembali terlontar dari mulutnya. Aku tak menjawab, karena memang aku tak perlu menjawab, kita berdua sama-sama tahu bahwa dia tak akan pernah resign. Lima tahun mengenalnya aku jadi menganggap pekerjaan akuntan publik hanya cocok untuk orang tukang ngeluh, karena mereka akan mengeluh ingin resign setiap 3 jam sekali, setiap hari, setiap minggu selama peak season, setiap tahunnya. Tapi lima tahun pula aku mengenalnya untuk tahu bahwa dia terlalu mencintai pekerjaan itu untuk bisa resign. Karena itu aku tak perlu menjawabnya, aku hanya butuh tersenyum.
"gila, bisa sinting gw kalo kerja kayak gini terus, nyokap gw udah ribut aja ngeliat jadwal gw balik ke rumah. ya mau gimana lagi, gini kerjaan gw..."
Dia kembali memulai monolog panjangnya, hal yang akan terus diulang olehnya, ini adalah ritual sabtu pagiku selama 5 tahun terakhir dan monolog itu akan berakhir dengan...
"...hah... gw capek"
Aku kembali tersenyum. Memperhatikan dia mengacak rambutnya sendiri, rambut yang jika tidak kuingatkan mungkin akan lupa dia potong. Kenapa rambut laki-laki harus selalu cepat tumbuh? menjengkelkan sekali melihatnya gondrong. Aku mendorong cangkir berisi teh hijau panas ke arahnya.
"minum dulu" kataku.
Dia melirik cangkir teh itu dan tersenyum kecil. Perasaan itu kembali muncul.
Setiap kali aku melihatnya tersenyum, walau di sela kesal yang teramat sangat, senyum itu selalu muncul. Aku sangat menyukai senyumnya itu, membuatku ingin mengacak rambutnya, tertawa dan memeluknya erat. Aku tak perduli dengan segala keluh kesahnya asalkan senyum itu selalu muncul pada akhirnya.
"lu kok tahan dengerin keluhan gw?" tanyanya sambil mengangkat cangkir itu.
"dah kebiasa" balasku.
"hmmm... seandainya Ira gitu ya... hah, kemarin gw ketemu dia..." dan monolognya kembali dimulai. Masih monolog yang pernah kudengar, hanya dengan topic yang tak pernah bisa kunikmati.
Ceritakanlah padaku semua kesalmu, tentang pekerjaanmu, keluargamu, teman-temanmu, tapi kumohon jangan tentang dia. Lima tahun aku mengenalmu, dan tidak sampai setahun kau mengenalnya. Aku lebih banyak mengenalnya lewat keluh kesahmu dan bukan cerita bahagiamu, lalu mengapa harus dia?
Monolognya tetap sepanjang biasanya, dengan setiap kata yang seperti menyayat langsung ke tubuhku. Oh Tuhan, ini sakit sekali, aku butuh anesthesia.
"... tu cewek tuh bikin gw kesel setengah mati, udah tau kerjaan gw ribet, tambah diribetin urusan dia... ngomongnya cerewet lagi... haahhh... dasar cewek!" monolognya selesai.
Aku memperhatikannya erat-erat, menunggu tusukan terakhir yang aku tahu akan datang... dia tersenyum. Dia tersenyum seperti halnya senyum saat dia mengakhiri monolognya yang lain. Betapa senyum yang sama memberikan efek yang berlawanan padaku, membuatku bahagia dan menyiksaku juga. Aku diam, menutup mata, menekan rasa sakit itu sekuatnya.
Selalu aku ingin bertanya, aku yang mengenalmu lebih lama, aku yang mengenalmu lebih baik, aku yang bisa mendengar semua keluhmu tanpa protes dan aku yang selalu melewati ritual sabtu pagi ini selamat lima tahun terakhir, hanya aku dan kamu, lalu mengapa ada dia? mengapa aku selalu melihat senyummu untuk dia?
... aku tak pernah mengerti.
Thursday, February 18, 2010
Wake up call...
"you're full of energy and always passionate in everything you're doing"
That's my wake up call.
Lately, I'm kind of looking down at myself, being confused of what I'm best at and my actual value. It affects me badly, I lost my spirit at work and think about how small the benefit I give to my surrounding, I reach my lowest point of self esteem. But I got my wake up call this morning. That sentence enough for me. I remember the time when I was in Lustrum VII committee, someone told me this...
"kamu tuh leutik-leutik tapi euweuh kacape, tau kelinci energizer? tah kamu banget itu teh"
Maybe I'm not looking at myself clearly. There's un-optimized values lying in me, waiting to be awaken. It's time to wake up and seize every moment I have and maximize every strong point in me. FIGHTING!!!
That's my wake up call.
Lately, I'm kind of looking down at myself, being confused of what I'm best at and my actual value. It affects me badly, I lost my spirit at work and think about how small the benefit I give to my surrounding, I reach my lowest point of self esteem. But I got my wake up call this morning. That sentence enough for me. I remember the time when I was in Lustrum VII committee, someone told me this...
"kamu tuh leutik-leutik tapi euweuh kacape, tau kelinci energizer? tah kamu banget itu teh"
Maybe I'm not looking at myself clearly. There's un-optimized values lying in me, waiting to be awaken. It's time to wake up and seize every moment I have and maximize every strong point in me. FIGHTING!!!
Wednesday, February 3, 2010
82nd Academy Award : Nominee
There's 10 best-picture nominee at this year's Oscar. Once again, 10! First time in 60 years of Oscars tradition to have 10 nominee instead of the usual 5. For me, it's the right way to do... because last year movie line up is incredible! You can see the complete list here.I won't talk to much for the nominee line up. Actually I agree with 80-90% of them. One thing I regret most is I delay myself to watch The Hurt Locker and it turns out to get 9 nominations, together with Avatar. Why? because I hate war movie! It hurts me too much. Romance or sad movie with too much melancholic scene won't affect me at all, but war movie is another story. But seems that I have to watch it soon before the award presentation at March 7. Lets watch all 10 best picture nominee before March 7!
Best Picture
- Avatar
- The Blind Side
- District 9
- An Education
- The Hurt Locker
- Inglourious Basterds
- A Serious Man
- Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Up
- Up in the Air
- Kathryn Bigelow – The Hurt Locker
- James Cameron – Avatar
- Lee Daniels – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Jason Reitman – Up in the Air
- Quentin Tarantino – Inglourious Basterds
- Jeff Bridges – Crazy Heart
- George Clooney – Up in the Air
- Colin Firth – A Single Man
- Morgan Freeman – Invictus
- Jeremy Renner – The Hurt Locker
- Sandra Bullock – The Blind Side
- Helen Mirren – The Last Station
- Carey Mulligan – An Education
- Gabourey Sidibe – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Meryl Streep – Julie & Julia
Best Actor in the supporting role
- Matt Damon – Invictus
- Woody Harrelson – The Messenger
- Christopher Plummer – The Last Station
- Stanley Tucci – The Lovely Bones
- Christoph Waltz – Inglourious Basterds
Best Actress in the supporting role
- Penélope Cruz – Nine
- Vera Farmiga – Up in the Air
- Maggie Gyllenhaal – Crazy Heart
- Anna Kendrick – Up in the Air
- Mo'Nique – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
Best Original Screenplay
- The Hurt Locker – Mark Boal
- Inglourious Basterds – Quentin Tarantino
- The Messenger – Alessandro Camon and Oren Moverman
- A Serious Man – Joel Coen and Ethan Coen
- Up – Bob Peterson and Pete Docter
Best Adapted Screenplay
- District 9 – Neill Blomkamp and Terri Tatchell
- An Education – Nick Hornby
- In the Loop – Jesse Armstrong, Simon Blackwell, Armando Ianucci and Tony Roche
- Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire – Geoffrey Fletcher
- Up in the Air – Jason Reitman and Sheldon Turner
Best Animated Feature
- Coraline – Henry Selick
- Fantastic Mr. Fox – Wes Anderson
- The Princess and the Frog – Ron Clements and John Musker
- The Secret of Kells – Tomm Moore and Nora Twomey
- Up – Bob Peterson and Pete Docter
Best Original Score
- Avatar – James Horner
- Fantastic Mr. Fox – Alexandre Desplat
- The Hurt Locker – Marco Beltrami and Beck Sanders
- Sherlock Holmes – Hans Zimmer
- Up – Michael Giacchino
Summary:
- 9 nominations: Avatar and The Hurt Locker
- 8 nominations: Inglourious Basterds
- 6 nominations: Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire and Up in the Air
- 5 nominations: Up
- 4 nominations: District 9, Nine and Star Trek
- 3 nominations: An Education, Crazy Heart, The Princess and the Frog and The Young Victoria
- 2 nominations: A Serious Man, The Blind Side, Fantastic Mr. Fox, Invictus, The Imaginarium of Dr. Parnassus, The Last Station, The Messenger, Sherlock Holmes and The White Ribbon
Monday, February 1, 2010
Coba Katakan
"aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan.
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa.
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti.
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini"
[Coba Katakan - Maliq & D'essentials]
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa.
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti.
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini"
[Coba Katakan - Maliq & D'essentials]
This song keeps playing over and over in my head... first time watching Maliq & D'essentials live performance at New Day for Indonesian Music event by LangitMusik Telkomsel last saturday. Really great performance and the music composition at the performance is more fabulous than the one in the recording. And one thing I really like from their songs... it's trying to make us see the reality of something. Dream and hope is one thing... but still... they're imaginary. Real act will bring them to life.
Subscribe to:
Posts (Atom)
