Ritual sabtu pagi. Seperti biasa, hanya aku dan dia, secangkir kopi hitam dan secangkir teh hijau panas. Cafe ini masih sepi seperti biasa, dan dia pun memulai monolognya dengan kalimat yang sama...
"haaahhh... apa gw resign aja ya???"
Pertanyaan retoris itu kembali terlontar dari mulutnya. Aku tak menjawab, karena memang aku tak perlu menjawab, kita berdua sama-sama tahu bahwa dia tak akan pernah resign. Lima tahun mengenalnya aku jadi menganggap pekerjaan akuntan publik hanya cocok untuk orang tukang ngeluh, karena mereka akan mengeluh ingin resign setiap 3 jam sekali, setiap hari, setiap minggu selama peak season, setiap tahunnya. Tapi lima tahun pula aku mengenalnya untuk tahu bahwa dia terlalu mencintai pekerjaan itu untuk bisa resign. Karena itu aku tak perlu menjawabnya, aku hanya butuh tersenyum.
"gila, bisa sinting gw kalo kerja kayak gini terus, nyokap gw udah ribut aja ngeliat jadwal gw balik ke rumah. ya mau gimana lagi, gini kerjaan gw..."
Dia kembali memulai monolog panjangnya, hal yang akan terus diulang olehnya, ini adalah ritual sabtu pagiku selama 5 tahun terakhir dan monolog itu akan berakhir dengan...
"...hah... gw capek"
Aku kembali tersenyum. Memperhatikan dia mengacak rambutnya sendiri, rambut yang jika tidak kuingatkan mungkin akan lupa dia potong. Kenapa rambut laki-laki harus selalu cepat tumbuh? menjengkelkan sekali melihatnya gondrong. Aku mendorong cangkir berisi teh hijau panas ke arahnya.
"minum dulu" kataku.
Dia melirik cangkir teh itu dan tersenyum kecil. Perasaan itu kembali muncul.
Setiap kali aku melihatnya tersenyum, walau di sela kesal yang teramat sangat, senyum itu selalu muncul. Aku sangat menyukai senyumnya itu, membuatku ingin mengacak rambutnya, tertawa dan memeluknya erat. Aku tak perduli dengan segala keluh kesahnya asalkan senyum itu selalu muncul pada akhirnya.
"lu kok tahan dengerin keluhan gw?" tanyanya sambil mengangkat cangkir itu.
"dah kebiasa" balasku.
"hmmm... seandainya Ira gitu ya... hah, kemarin gw ketemu dia..." dan monolognya kembali dimulai. Masih monolog yang pernah kudengar, hanya dengan topic yang tak pernah bisa kunikmati.
Ceritakanlah padaku semua kesalmu, tentang pekerjaanmu, keluargamu, teman-temanmu, tapi kumohon jangan tentang dia. Lima tahun aku mengenalmu, dan tidak sampai setahun kau mengenalnya. Aku lebih banyak mengenalnya lewat keluh kesahmu dan bukan cerita bahagiamu, lalu mengapa harus dia?
Monolognya tetap sepanjang biasanya, dengan setiap kata yang seperti menyayat langsung ke tubuhku. Oh Tuhan, ini sakit sekali, aku butuh anesthesia.
"... tu cewek tuh bikin gw kesel setengah mati, udah tau kerjaan gw ribet, tambah diribetin urusan dia... ngomongnya cerewet lagi... haahhh... dasar cewek!" monolognya selesai.
Aku memperhatikannya erat-erat, menunggu tusukan terakhir yang aku tahu akan datang... dia tersenyum. Dia tersenyum seperti halnya senyum saat dia mengakhiri monolognya yang lain. Betapa senyum yang sama memberikan efek yang berlawanan padaku, membuatku bahagia dan menyiksaku juga. Aku diam, menutup mata, menekan rasa sakit itu sekuatnya.
Selalu aku ingin bertanya, aku yang mengenalmu lebih lama, aku yang mengenalmu lebih baik, aku yang bisa mendengar semua keluhmu tanpa protes dan aku yang selalu melewati ritual sabtu pagi ini selamat lima tahun terakhir, hanya aku dan kamu, lalu mengapa ada dia? mengapa aku selalu melihat senyummu untuk dia?
... aku tak pernah mengerti.
"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Wednesday, February 24, 2010
Thursday, February 18, 2010
Wake up call...
"you're full of energy and always passionate in everything you're doing"
That's my wake up call.
Lately, I'm kind of looking down at myself, being confused of what I'm best at and my actual value. It affects me badly, I lost my spirit at work and think about how small the benefit I give to my surrounding, I reach my lowest point of self esteem. But I got my wake up call this morning. That sentence enough for me. I remember the time when I was in Lustrum VII committee, someone told me this...
"kamu tuh leutik-leutik tapi euweuh kacape, tau kelinci energizer? tah kamu banget itu teh"
Maybe I'm not looking at myself clearly. There's un-optimized values lying in me, waiting to be awaken. It's time to wake up and seize every moment I have and maximize every strong point in me. FIGHTING!!!
That's my wake up call.
Lately, I'm kind of looking down at myself, being confused of what I'm best at and my actual value. It affects me badly, I lost my spirit at work and think about how small the benefit I give to my surrounding, I reach my lowest point of self esteem. But I got my wake up call this morning. That sentence enough for me. I remember the time when I was in Lustrum VII committee, someone told me this...
"kamu tuh leutik-leutik tapi euweuh kacape, tau kelinci energizer? tah kamu banget itu teh"
Maybe I'm not looking at myself clearly. There's un-optimized values lying in me, waiting to be awaken. It's time to wake up and seize every moment I have and maximize every strong point in me. FIGHTING!!!
Wednesday, February 3, 2010
82nd Academy Award : Nominee
There's 10 best-picture nominee at this year's Oscar. Once again, 10! First time in 60 years of Oscars tradition to have 10 nominee instead of the usual 5. For me, it's the right way to do... because last year movie line up is incredible! You can see the complete list here.I won't talk to much for the nominee line up. Actually I agree with 80-90% of them. One thing I regret most is I delay myself to watch The Hurt Locker and it turns out to get 9 nominations, together with Avatar. Why? because I hate war movie! It hurts me too much. Romance or sad movie with too much melancholic scene won't affect me at all, but war movie is another story. But seems that I have to watch it soon before the award presentation at March 7. Lets watch all 10 best picture nominee before March 7!
Best Picture
- Avatar
- The Blind Side
- District 9
- An Education
- The Hurt Locker
- Inglourious Basterds
- A Serious Man
- Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Up
- Up in the Air
- Kathryn Bigelow – The Hurt Locker
- James Cameron – Avatar
- Lee Daniels – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Jason Reitman – Up in the Air
- Quentin Tarantino – Inglourious Basterds
- Jeff Bridges – Crazy Heart
- George Clooney – Up in the Air
- Colin Firth – A Single Man
- Morgan Freeman – Invictus
- Jeremy Renner – The Hurt Locker
- Sandra Bullock – The Blind Side
- Helen Mirren – The Last Station
- Carey Mulligan – An Education
- Gabourey Sidibe – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
- Meryl Streep – Julie & Julia
Best Actor in the supporting role
- Matt Damon – Invictus
- Woody Harrelson – The Messenger
- Christopher Plummer – The Last Station
- Stanley Tucci – The Lovely Bones
- Christoph Waltz – Inglourious Basterds
Best Actress in the supporting role
- Penélope Cruz – Nine
- Vera Farmiga – Up in the Air
- Maggie Gyllenhaal – Crazy Heart
- Anna Kendrick – Up in the Air
- Mo'Nique – Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire
Best Original Screenplay
- The Hurt Locker – Mark Boal
- Inglourious Basterds – Quentin Tarantino
- The Messenger – Alessandro Camon and Oren Moverman
- A Serious Man – Joel Coen and Ethan Coen
- Up – Bob Peterson and Pete Docter
Best Adapted Screenplay
- District 9 – Neill Blomkamp and Terri Tatchell
- An Education – Nick Hornby
- In the Loop – Jesse Armstrong, Simon Blackwell, Armando Ianucci and Tony Roche
- Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire – Geoffrey Fletcher
- Up in the Air – Jason Reitman and Sheldon Turner
Best Animated Feature
- Coraline – Henry Selick
- Fantastic Mr. Fox – Wes Anderson
- The Princess and the Frog – Ron Clements and John Musker
- The Secret of Kells – Tomm Moore and Nora Twomey
- Up – Bob Peterson and Pete Docter
Best Original Score
- Avatar – James Horner
- Fantastic Mr. Fox – Alexandre Desplat
- The Hurt Locker – Marco Beltrami and Beck Sanders
- Sherlock Holmes – Hans Zimmer
- Up – Michael Giacchino
Summary:
- 9 nominations: Avatar and The Hurt Locker
- 8 nominations: Inglourious Basterds
- 6 nominations: Precious: Based on the Novel "Push" by Sapphire and Up in the Air
- 5 nominations: Up
- 4 nominations: District 9, Nine and Star Trek
- 3 nominations: An Education, Crazy Heart, The Princess and the Frog and The Young Victoria
- 2 nominations: A Serious Man, The Blind Side, Fantastic Mr. Fox, Invictus, The Imaginarium of Dr. Parnassus, The Last Station, The Messenger, Sherlock Holmes and The White Ribbon
Monday, February 1, 2010
Coba Katakan
"aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan.
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa.
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti.
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini"
[Coba Katakan - Maliq & D'essentials]
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa.
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti.
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini"
[Coba Katakan - Maliq & D'essentials]
This song keeps playing over and over in my head... first time watching Maliq & D'essentials live performance at New Day for Indonesian Music event by LangitMusik Telkomsel last saturday. Really great performance and the music composition at the performance is more fabulous than the one in the recording. And one thing I really like from their songs... it's trying to make us see the reality of something. Dream and hope is one thing... but still... they're imaginary. Real act will bring them to life.
Saturday, January 30, 2010
Daily topic...
i'm looking for daily post topic... I found some blog that keep up with something's daily, like teh Nisa with crane-origami photos... or kang Muy that start posting one picture everyday...
Doing this un-ordinary things can keep up our daily spirit and push us to find anything interesting in our daily routine. Once I heard this kind of idea at a seminar with Yoris Sebastian. The problem is... I can't decide what kind of topic I want to commit, any suggestion???
Doing this un-ordinary things can keep up our daily spirit and push us to find anything interesting in our daily routine. Once I heard this kind of idea at a seminar with Yoris Sebastian. The problem is... I can't decide what kind of topic I want to commit, any suggestion???
Friday, January 29, 2010
Kembali ke pojok : perang bubat dan dilarang nikah
Saya baru saja membaca satu posting di blog Serba Sejarah, sedikit komentar dan pengantar tentang sejarah Perang Bubat. Bukan postingan baru, tapi menarik perhatian saya. Seperti diketahui bahwa peristiwa bubat menjadi satu tonggak fundamental perubahan hubungan masyarakat sunda dengan jawa, khususnya terkait pernikahan.
Saya jadi teringat beberapa cerita teman yang pacaran backstreet gara-gara yang satu sunda dan yang satu lagi jawa. Atau yang lamarannya ditolak ortu sang kekasih karena kasus yang sama. Waktu mendengar ceritanya saya cuman komentar, "weleh... weleh... masih ada ya yang begituan". Buat saya sendiri atau mungkin keluarga saya, yang notabene sunda murni secara turun-temurun, hal ini sudah tak dipikirkan lagi. Apalagi semenjak salah seorang bibi saya menikah dengan orang jawa, gak ada yang aneh tuh.... jadi kami sudah tak terlalu ambil pusing lagi.
Yah, sedikit banyak saya masih merasa bingung ketika ada orang yang masih meributkan perbedaan ini, walau sebenernya kembali ke keyakinan setiap orangnya lagi dan saya tetap harus menghormatinya (tapi tetep aja pengen komentar :D). Toh sekarang suku bangsa sudah sangat bercampur. Saya punya teman yang punya nama Gusti Ayu tapi menulis suku bangsanya Sunda (kekekeke... iya gak yu??? :D) atau kalau mau ditilik beberapa pupuhu LSS justru orang jawa (walau ngomongnya sunda banget, bisa ngomong bilingual lah...). Atau beberapa orang sunda yang lebih fasih bahasa Jawa. Yah... apapun sukunya masih Indonesia kan??? atau lebih luasnya, masih manusia kan???
Ya gitu deh... bahasan perang bubat itu pasti nyindir ke pernikahan lintas suku ini. hmmm... saya jadi berpikir, sampai kapan luka hati di masyarakat sunda akibat peristiwa ini akan sembuh??? Dan butuh berapa lama untuk satu nilai kultural seperti ini akan hilang (oops... yg ini punya arti ganda). Jadi ingat cerita teman saya Bayu yang dulu menjabat Ketua bidang Seni dan Budaya di LSS saat kami menjadi pengurus. Dia satu waktu diundang untuk mengisi kuliah mengenai budaya sunda dan ada peserta kuliah yang bertanya mengenai adanya aturan adat tak resmi yang melarang orang sunda dan orang jawa menikah, saat itu bayu menjawab:
"itu mungkin efek dari perang bubat dulu, tapi santai kok, kalo saya gak keberatan nikah ama siapa aja".
Wehehehehe... diluar kenyataan bahwa dia narsis luarbiasa tapi ya sebenernya itu intinya, balik lagi ke setiap orangnya, keberatan atau enggak?!?! Kalau udah niat mah pasti 'gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi' deh... hahahhaa... lebaaaaayyyyy!
Saya jadi teringat beberapa cerita teman yang pacaran backstreet gara-gara yang satu sunda dan yang satu lagi jawa. Atau yang lamarannya ditolak ortu sang kekasih karena kasus yang sama. Waktu mendengar ceritanya saya cuman komentar, "weleh... weleh... masih ada ya yang begituan". Buat saya sendiri atau mungkin keluarga saya, yang notabene sunda murni secara turun-temurun, hal ini sudah tak dipikirkan lagi. Apalagi semenjak salah seorang bibi saya menikah dengan orang jawa, gak ada yang aneh tuh.... jadi kami sudah tak terlalu ambil pusing lagi.
Yah, sedikit banyak saya masih merasa bingung ketika ada orang yang masih meributkan perbedaan ini, walau sebenernya kembali ke keyakinan setiap orangnya lagi dan saya tetap harus menghormatinya (tapi tetep aja pengen komentar :D). Toh sekarang suku bangsa sudah sangat bercampur. Saya punya teman yang punya nama Gusti Ayu tapi menulis suku bangsanya Sunda (kekekeke... iya gak yu??? :D) atau kalau mau ditilik beberapa pupuhu LSS justru orang jawa (walau ngomongnya sunda banget, bisa ngomong bilingual lah...). Atau beberapa orang sunda yang lebih fasih bahasa Jawa. Yah... apapun sukunya masih Indonesia kan??? atau lebih luasnya, masih manusia kan???
Ya gitu deh... bahasan perang bubat itu pasti nyindir ke pernikahan lintas suku ini. hmmm... saya jadi berpikir, sampai kapan luka hati di masyarakat sunda akibat peristiwa ini akan sembuh??? Dan butuh berapa lama untuk satu nilai kultural seperti ini akan hilang (oops... yg ini punya arti ganda). Jadi ingat cerita teman saya Bayu yang dulu menjabat Ketua bidang Seni dan Budaya di LSS saat kami menjadi pengurus. Dia satu waktu diundang untuk mengisi kuliah mengenai budaya sunda dan ada peserta kuliah yang bertanya mengenai adanya aturan adat tak resmi yang melarang orang sunda dan orang jawa menikah, saat itu bayu menjawab:
"itu mungkin efek dari perang bubat dulu, tapi santai kok, kalo saya gak keberatan nikah ama siapa aja".
Wehehehehe... diluar kenyataan bahwa dia narsis luarbiasa tapi ya sebenernya itu intinya, balik lagi ke setiap orangnya, keberatan atau enggak?!?! Kalau udah niat mah pasti 'gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi' deh... hahahhaa... lebaaaaayyyyy!
Wednesday, January 27, 2010
Thursday, January 21, 2010
Remember
"Just remember 10 years ago... When you curse the world if they compare you to other people. Remember the time when it's really hard to make people see your true self pass all the label and condition. Remember the time when you give your best just to make people recognize your value. And remember the pain you feel deep down in your heart when all your hardwork just gave no change at all. Just remember that, and stop doing things because that's what people want from you. You can't make yourself loved, but you can love yourself!"
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Subscribe to:
Posts (Atom)
