Assalammualaikum wr.wb.
Puput mau ngucapin...
Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum...
Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin... semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Dan semoga kita sampai ke Ramadhan selanjutnya...
Yang mudik semoga selamat sampai tujuan... saya mudik dulu ya say... :)
Wassalammualaikum wr.wb.
"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Tuesday, September 30, 2008
Monday, September 29, 2008
Tak perlu diucapkan
Hening sekali. Hanya ada TV yang menyala, menampilkan tayangan tak mutu, gosip tengah hari... dan ini bulan puasa, entah apa yang orang pikirkan dengan bergosip tengah hari, menambah dosa yang mungkin sudah malas untuk dihitung kembali. Pemuda itu duduk di sofa dan memandang kosong ke arah TV, dia seperti tidak sedang memperhatikan isi acara itu. Dia melirik ke jam dinding yang terletak di atas TV.
'sudah sejam lebih', pikirnya.
Pemuda itu memang sedang menunggu, selayaknya ditandakan oleh keinginan berlebih untuk melihat jam. Dan sudah lewat sejam yang ditunggunya itu tak muncul, dia kemudian berdiri, sepertinya memutuskan untuk menyusul. Baru saja dia berbalik, seorang gadis terlihat berjalan ke arah sofa. Gadis itu memakai celana pendek selutut, t-shirt belel longgar, handuk basah masih tertenteng di sebelah tangannya, dan rambut sebahunya masih basah, acak-acakan tak tersisir, seperti baru digosok-dipaksa kering.
Sang pemuda memperhatikan seksama saat gadis itu berjalan lesu dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Sang pemuda masih berdiri, memperhatikan wajah si gadis yang sekarang malah bengong. Dia memperhatikan wajah gadis itu. Setahunya si gadis baru selesai mandi, tapi wajahnya malah terlihat kusut, sekusut rambutnya, tak ada tanda-tanda kesegaran sehabis mandi...
'mungkin dia mandi gak pake aer', pikirnya asal. Tapi dia menangkap tanda lain, pelupuk mata gadis itu menghitam, dan agak bengkak. Sang pemuda mengangkat sebelah alisnya, dia kemudian kembali duduk di sofa sebelah si gadis.
"mata kamu bengkak..." katanya singkat sambil melihat ke arah TV. Si gadis tidak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah TV. Si gadis tidak menaruh perhatian baik pada acara TV di hadapannya, maupun pada pemuda di sebelahnya, dia tetap diam.
Kalau TV punya perasaan, tentu dia sedang pundung sekarang, masalahnya dua orang yang sekarang ada di depannya dan memandang ke arahnya, sama sekali tidak menaruh perhatian sama sekali pada dirinya, padahal dia sudah bicara banyak sekali, gak di-waro itu pasti menyebalkan bukan?! Tapi TV harus menerimanya, masalahnya dua orang itu tak butuh menonton TV, mereka hanya menyalakannya agar ada sedikit suara berisik yang bisa mengisi percakapan pelit di antara mereka berdua.
"kamu dia kamar mandi udah lebih dari sejam, kesimpulan saya, kamu ketiduran atau kamu abis nangis, yang bener yang mana?" tanya pemuda itu lagi. Nada bicaranya ringan, tanpa emosi berarti. Si gadis diam sebentar, mata bengkaknya masih terpaku pada layar TV, kemudian dia mengangkat tanggannya menunjuk angka dua dengan jari, seperti lambang peace yang selalu dipakai turis jepang kalo mereka berfoto. Pemuda itu meliriknya sebentar kemudian menyandarkan diri ke sofa.
"pantes aja kulit kamu item, di kamar mandi malah nangis, bukannya bersihin badan", sang pemuda membalas. Kali ini si gadis terpancing, dia menengok ke arahnya dan melempar pandangan pengen-mati-ya?. Sang pemuda mengacuhkannya. Si gadis kembali mengunci pandangannya pada TV.
"lain kali kalo mau nangis panggil saya aja, daripada diem di kamar mandi, pilek entar... kedinginan", kata pemuda itu kemudian.
"emang udah pilek kok", si gadis membalas dengan suara sengau.
Sang pemuda melirik punggung gadis itu, sedikit tertarik pada nada suaranya dan pada rambut hitam kusut tak tersisirnya. Dia kemudian menarik rambut si gadis, sehingga si gadis terpaksa ikut menyandar agar rambutnya tak terjambak keras.
"tarik bahu aku aja knapa? dasar kasar!" umpat si gadis, masih dengan suara sengau.
Sang pemuda tak peduli.
"depresi tuh gak pantes buat orang yang sebulan lagi wisuda", balasnya.
"aku emang udah depresi dari semenjak lahir, mau diapain lagi", timpal si gadis.
"ya diubah lah... mana ada depresi seumur hidup", balas sang pemuda lagi.
"emangnya gampang" jawab gadis itu lagi.
"manja!" si pemuda memukul pelan kepala si gadis, "kalo gak susah, gak rame"
"kenapa musti rame?", nada suara gadis itu meninggi.
"kalo ga rame gak usah diikutin", sang pemuda masih menjawab santai.
"hidup aku gak rame, berarti aku gak usah hidup aja gitu?"
"ya udah mati aja sana"
"segampang itu?"
"siapa bilang mati gampang?" sang pemuda sekarang menoleh memandang si gadis yang ternyata juga sedang memandang padanya.
Mereka saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya si gadis kembali memandang ke arah TV.
"sama aku gak usah sok filosofis deh..." kata gadis itu.
"sama saya gak usah sok mellow deh..." balas pemuda itu.
Si gadis tertawa singkat.
"gak mau kalah banget sih" katanya.
"jelas, saya kan laki-laki"
si gadis berpikir,'emangnya lelaki harus selalu menang?', tetapi dia terlalu malas untuk mendebatnya akhirnya dia hanya diam.
Mereka berdua kembali membisu, hanya suara TV ribut sendiri tentang gosip selebritis tak penting.
Si gadis tiba-tiba menyandar di bahu sang pemuda, dia menarik sebelah tangan sang pemuda dan memeluknya, sang pemuda hanya mendiamkannya saja.
"hey...", katanya.
"hmmm..." sahut sang pemuda.
"aku gak sendirian kan?" tanya gadis itu.
Sang pemuda diam sebentar, matanya masih terpaku ke layar TV. Kemudian dia menarik tangannya yang dipeluk si gadis, dan melingkarkannya di tubuh gadis itu, menariknya ke pelukannya.
'gak, kamu gak sendirian', jawabnya, tapi hanya dalam pikiran saja, dia tau itu tak perlu diucapkan.
Dan mereka berdua duduk disana, membiarkan acara TV tak penting itu terus berjalan, membiarkan rambut si gadis terus kusut, dan membiarkan t-shirt sang pemuda basah karena ditempeli rambut si gadis yang masih basah. Membiarkan dunia kembali berjalan.
Dia hanya perlu tahu, dia tak sendirian.
'sudah sejam lebih', pikirnya.
Pemuda itu memang sedang menunggu, selayaknya ditandakan oleh keinginan berlebih untuk melihat jam. Dan sudah lewat sejam yang ditunggunya itu tak muncul, dia kemudian berdiri, sepertinya memutuskan untuk menyusul. Baru saja dia berbalik, seorang gadis terlihat berjalan ke arah sofa. Gadis itu memakai celana pendek selutut, t-shirt belel longgar, handuk basah masih tertenteng di sebelah tangannya, dan rambut sebahunya masih basah, acak-acakan tak tersisir, seperti baru digosok-dipaksa kering.
Sang pemuda memperhatikan seksama saat gadis itu berjalan lesu dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Sang pemuda masih berdiri, memperhatikan wajah si gadis yang sekarang malah bengong. Dia memperhatikan wajah gadis itu. Setahunya si gadis baru selesai mandi, tapi wajahnya malah terlihat kusut, sekusut rambutnya, tak ada tanda-tanda kesegaran sehabis mandi...
'mungkin dia mandi gak pake aer', pikirnya asal. Tapi dia menangkap tanda lain, pelupuk mata gadis itu menghitam, dan agak bengkak. Sang pemuda mengangkat sebelah alisnya, dia kemudian kembali duduk di sofa sebelah si gadis.
"mata kamu bengkak..." katanya singkat sambil melihat ke arah TV. Si gadis tidak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah TV. Si gadis tidak menaruh perhatian baik pada acara TV di hadapannya, maupun pada pemuda di sebelahnya, dia tetap diam.
Kalau TV punya perasaan, tentu dia sedang pundung sekarang, masalahnya dua orang yang sekarang ada di depannya dan memandang ke arahnya, sama sekali tidak menaruh perhatian sama sekali pada dirinya, padahal dia sudah bicara banyak sekali, gak di-waro itu pasti menyebalkan bukan?! Tapi TV harus menerimanya, masalahnya dua orang itu tak butuh menonton TV, mereka hanya menyalakannya agar ada sedikit suara berisik yang bisa mengisi percakapan pelit di antara mereka berdua.
"kamu dia kamar mandi udah lebih dari sejam, kesimpulan saya, kamu ketiduran atau kamu abis nangis, yang bener yang mana?" tanya pemuda itu lagi. Nada bicaranya ringan, tanpa emosi berarti. Si gadis diam sebentar, mata bengkaknya masih terpaku pada layar TV, kemudian dia mengangkat tanggannya menunjuk angka dua dengan jari, seperti lambang peace yang selalu dipakai turis jepang kalo mereka berfoto. Pemuda itu meliriknya sebentar kemudian menyandarkan diri ke sofa.
"pantes aja kulit kamu item, di kamar mandi malah nangis, bukannya bersihin badan", sang pemuda membalas. Kali ini si gadis terpancing, dia menengok ke arahnya dan melempar pandangan pengen-mati-ya?. Sang pemuda mengacuhkannya. Si gadis kembali mengunci pandangannya pada TV.
"lain kali kalo mau nangis panggil saya aja, daripada diem di kamar mandi, pilek entar... kedinginan", kata pemuda itu kemudian.
"emang udah pilek kok", si gadis membalas dengan suara sengau.
Sang pemuda melirik punggung gadis itu, sedikit tertarik pada nada suaranya dan pada rambut hitam kusut tak tersisirnya. Dia kemudian menarik rambut si gadis, sehingga si gadis terpaksa ikut menyandar agar rambutnya tak terjambak keras.
"tarik bahu aku aja knapa? dasar kasar!" umpat si gadis, masih dengan suara sengau.
Sang pemuda tak peduli.
"depresi tuh gak pantes buat orang yang sebulan lagi wisuda", balasnya.
"aku emang udah depresi dari semenjak lahir, mau diapain lagi", timpal si gadis.
"ya diubah lah... mana ada depresi seumur hidup", balas sang pemuda lagi.
"emangnya gampang" jawab gadis itu lagi.
"manja!" si pemuda memukul pelan kepala si gadis, "kalo gak susah, gak rame"
"kenapa musti rame?", nada suara gadis itu meninggi.
"kalo ga rame gak usah diikutin", sang pemuda masih menjawab santai.
"hidup aku gak rame, berarti aku gak usah hidup aja gitu?"
"ya udah mati aja sana"
"segampang itu?"
"siapa bilang mati gampang?" sang pemuda sekarang menoleh memandang si gadis yang ternyata juga sedang memandang padanya.
Mereka saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya si gadis kembali memandang ke arah TV.
"sama aku gak usah sok filosofis deh..." kata gadis itu.
"sama saya gak usah sok mellow deh..." balas pemuda itu.
Si gadis tertawa singkat.
"gak mau kalah banget sih" katanya.
"jelas, saya kan laki-laki"
si gadis berpikir,'emangnya lelaki harus selalu menang?', tetapi dia terlalu malas untuk mendebatnya akhirnya dia hanya diam.
Mereka berdua kembali membisu, hanya suara TV ribut sendiri tentang gosip selebritis tak penting.
Si gadis tiba-tiba menyandar di bahu sang pemuda, dia menarik sebelah tangan sang pemuda dan memeluknya, sang pemuda hanya mendiamkannya saja.
"hey...", katanya.
"hmmm..." sahut sang pemuda.
"aku gak sendirian kan?" tanya gadis itu.
Sang pemuda diam sebentar, matanya masih terpaku ke layar TV. Kemudian dia menarik tangannya yang dipeluk si gadis, dan melingkarkannya di tubuh gadis itu, menariknya ke pelukannya.
'gak, kamu gak sendirian', jawabnya, tapi hanya dalam pikiran saja, dia tau itu tak perlu diucapkan.
Dan mereka berdua duduk disana, membiarkan acara TV tak penting itu terus berjalan, membiarkan rambut si gadis terus kusut, dan membiarkan t-shirt sang pemuda basah karena ditempeli rambut si gadis yang masih basah. Membiarkan dunia kembali berjalan.
Dia hanya perlu tahu, dia tak sendirian.
Thursday, September 25, 2008
Wednesday, September 24, 2008
Monday, September 22, 2008
Sedikit curhat, mengharap solusi
Saya lagi kesel ama satu orang. Sebenernya ini adalah kekesalan langganan, alias pasti berulang setiap kali saya ngobrol dengan orang tersebut.
Begini, ada satu orang yang saya kenal dan notabene lebih senior dibandingkan saya. Si orang ini orang yang pada dasarnya cukup punya potensi, isi pembicaraannya gak kosong dan pandangannya pun cukup luas. Yang saya geuleuhkan adalah DIA SELALU MENYITIR ASUMSI ATAU PENDAPAT PRIBADI SEBAGAI FAKTA YANG TERKESAN MUTLAK KEBENARANNYA. Mengapa perlu saya capslock kalimat itu, karena yang saya tahu begini : anak SD aja udah diajarin gimana membedakan pendapat ama fakta lewat pelajaran bahasa indonesia, lantas mengapa beliau yang bertitel sarjana gak bisa membedakannya dengan tepat? apa beliau tidak lulus SD? atau nilai bahasa indonesianya jelek banget?
Bagaimana saya tahu kalau dia menyitir pendapat pribadinya sebagai fakta? karena saya tahu dia tidak men-cek dan ricek apa yang dia kemukankan tersebut. Saya wara-wiri di sekitar objek yang dibicarakan lebih lama, berinteraksi dengan hal tersebut lebih intens dan lebih lama, walaupun begitu, saya tak pernah menyebutkan pandangan saya terhadap objek tersebut secara yakin sebagai fakta. Sekarang, ada orang yang tiba-tiba mengajukan satu pendapat, tanpa dasar, tanpa pengamatan, hanya berdasarkan asumsi setahun atau dua tahun kemarin, memaksakan itu sebagai DATA untuk hari ini, detik ini, mana bisa saya terima!!!
Haaahhh... saya merasa kesal, sebel dan gemes ama orang ini. Kesal karena dia main justifikasi sembarangan, sebel karena sebenarnya saya tahu orang ini gak terlalu banyak tahu, dan gemes karena pada dasarnya saya tahu dia punya kapabilitas untuk menilai dengan lebih baik.
Kalo saya pikir kembali ada satu penyebab kenapa orang dengan kemampuan seperti beliau bisa terseret ke perilaku sok tau macam gitu: dia udah lama menghilang dari peredaran, tapi tetep pengen eksis diantara orang-orang yang masih beredar! Kenapa saya yakin dengan alasan ini? karena kadang saya pun terjebak dalam situasi seperti itu. Keinginan dan kebutuhan untuk tetap eksis memang terkadang menjerumuskan kita pada taraf manusia sok tau, itu wajar bagi setiap orang. Tapi ke-'wajar'-an inu wajarnya terjadi sekali atau dua kali, kalo tiap kali ngomong atau diajak diskusi kelakuannya kayak gitu, itu mah emang orangnya sok tau beneran!
Haduh, saya bingung sebenernya ngasih tau orangnya, karena dia itu tipe manusia yang selalu pake kacamata kuda kalo soal nilai-menilai, bagus-gak-bagus. Dan kenyataan bahwa dia senior saya semakin menyulitkan posisi saya untuk memberikan masukan padanya, pasalnya dia menanggap level saya ada di bawah dia, dan akan sulit buat ngomong ke orang yang udah ngerasa posisinya lebih tinggi dari orang lain, orang kayak gitu kebanyakan 'ngerasa' daripada 'ngeliat' jadi gak tau mana kenyataan dan mana impian. Haaahhhh... sulit, akhirnya saya cuman bisa ngeluh kayak gini. Saya bener-bener berharap dia dapat memperbaiki diri, lebar soalnya kalo orang yang se-oke dia terpuruk karena ego sendiri, orang oke udah susah dicari sekarang.
Begini, ada satu orang yang saya kenal dan notabene lebih senior dibandingkan saya. Si orang ini orang yang pada dasarnya cukup punya potensi, isi pembicaraannya gak kosong dan pandangannya pun cukup luas. Yang saya geuleuhkan adalah DIA SELALU MENYITIR ASUMSI ATAU PENDAPAT PRIBADI SEBAGAI FAKTA YANG TERKESAN MUTLAK KEBENARANNYA. Mengapa perlu saya capslock kalimat itu, karena yang saya tahu begini : anak SD aja udah diajarin gimana membedakan pendapat ama fakta lewat pelajaran bahasa indonesia, lantas mengapa beliau yang bertitel sarjana gak bisa membedakannya dengan tepat? apa beliau tidak lulus SD? atau nilai bahasa indonesianya jelek banget?
Bagaimana saya tahu kalau dia menyitir pendapat pribadinya sebagai fakta? karena saya tahu dia tidak men-cek dan ricek apa yang dia kemukankan tersebut. Saya wara-wiri di sekitar objek yang dibicarakan lebih lama, berinteraksi dengan hal tersebut lebih intens dan lebih lama, walaupun begitu, saya tak pernah menyebutkan pandangan saya terhadap objek tersebut secara yakin sebagai fakta. Sekarang, ada orang yang tiba-tiba mengajukan satu pendapat, tanpa dasar, tanpa pengamatan, hanya berdasarkan asumsi setahun atau dua tahun kemarin, memaksakan itu sebagai DATA untuk hari ini, detik ini, mana bisa saya terima!!!
Haaahhh... saya merasa kesal, sebel dan gemes ama orang ini. Kesal karena dia main justifikasi sembarangan, sebel karena sebenarnya saya tahu orang ini gak terlalu banyak tahu, dan gemes karena pada dasarnya saya tahu dia punya kapabilitas untuk menilai dengan lebih baik.
Kalo saya pikir kembali ada satu penyebab kenapa orang dengan kemampuan seperti beliau bisa terseret ke perilaku sok tau macam gitu: dia udah lama menghilang dari peredaran, tapi tetep pengen eksis diantara orang-orang yang masih beredar! Kenapa saya yakin dengan alasan ini? karena kadang saya pun terjebak dalam situasi seperti itu. Keinginan dan kebutuhan untuk tetap eksis memang terkadang menjerumuskan kita pada taraf manusia sok tau, itu wajar bagi setiap orang. Tapi ke-'wajar'-an inu wajarnya terjadi sekali atau dua kali, kalo tiap kali ngomong atau diajak diskusi kelakuannya kayak gitu, itu mah emang orangnya sok tau beneran!
Haduh, saya bingung sebenernya ngasih tau orangnya, karena dia itu tipe manusia yang selalu pake kacamata kuda kalo soal nilai-menilai, bagus-gak-bagus. Dan kenyataan bahwa dia senior saya semakin menyulitkan posisi saya untuk memberikan masukan padanya, pasalnya dia menanggap level saya ada di bawah dia, dan akan sulit buat ngomong ke orang yang udah ngerasa posisinya lebih tinggi dari orang lain, orang kayak gitu kebanyakan 'ngerasa' daripada 'ngeliat' jadi gak tau mana kenyataan dan mana impian. Haaahhhh... sulit, akhirnya saya cuman bisa ngeluh kayak gini. Saya bener-bener berharap dia dapat memperbaiki diri, lebar soalnya kalo orang yang se-oke dia terpuruk karena ego sendiri, orang oke udah susah dicari sekarang.
Sunday, September 21, 2008
Thursday, September 18, 2008
"ya baik, Saudara Puput Pratiwi Hidayat dinyatakan lulus dengan predikat baik"
Tapi masih belum bisa santai-santai. Masih ada revisi draft, masih ada persiapan ngelamar kerja, masih ada persiapan aplikasi S2, masih ada les nyetir, masih ada benerin bahasa inggris, masih ada buku bahasa belanda yang belum kesentuh-sentuh, masih banyak yang harus dilakukan, gak ada yang namanya males-malesan.
YOSH! PUPUT PRATIWI HIDAYAT... FIGHTING!!!
Tuesday, September 16, 2008

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid, sekolah akan ditutup. Tapi hari itu seorang murid istimewa bernama Harun menyelamatkan mereka. Kesepuluh murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Mus, menjalin kisah tak terlupakan. Lima tahun bersama, dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, mereka berjuang untuk terus bisa sekolah. Adaptasi film dari novel fenomenal karya Andrea Hirata ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
YAAAYYYY... Laskar pelangi udah masuk daftar Coming Soon di Blitz Megaplex.
Hehehe... saya tersenyum lebar. Meski saya bukan penggemar berat sutradaranya, jelas saya penggemar novel dan penulis novelnya. Semoga saya sudah dalam status 'tinggal disahkan jadi sarjana' saat film ini rilis :D.
Subscribe to:
Posts (Atom)

