Sunday, October 26, 2008

Empat tahun untuk segalanya

Empat tahun saya kuliah di ITB, ngeliat setiap acara wisuda di kampus, saya selalu mikir...

"gimana ya rasanya diwisuda?"

Sekarang, setelah merasakannya sendiri saya ternyata gak bisa ngomong apa-apa. Terlalu banyak yang dirasakan, terlalu banyak rasa senang, terlalu banyak rasa sedih... pokonya semua rasa serba campur aduk.

Saat acara di Sabuga, saya mikirin semua kegiatan perkuliahan, dari mulai kuliah yang saya suka sampe kuliah yang ngingetnya aja saya males, kuliah yang saya lulus dengan bahagianya serta kuliah yang lulusnya susah payah, kuliah yang ngulang, dosen baik, dosen nyebelin... pokonya semuanya deh.

Pas jalan ke depan rektor, dan ngedenger musik dari LSS, saya inget masa-masa saya di lss. Dari saat PMA ampe swasta, presentasi PMA ampe pagelaran, pemaen ampe pelatih, setiap hal, setiap pengalaman, setiap saudara yang didapat.

Waktu diarak dari sabuga ampe kampus, prosesi setrum-setruman ampe perang air paling ganas yang pernah saya ikutin... saya inget teman-teman. Saudara seperjuangan selama empat tahun, teman belajar bareng, teman kerja bareng, teman jalan bareng, teman karaoke bareng, dan tentunya ibu-ibu paguyuban EL yang luar biasa heboh ^^

Entah bagaimana saya bisa bersyukur ama Allah karena sudah dipertemukan dengan saudara-saudara yang luar biasa.

Dan saat pulang, saat kembali duduk di meja makan bersama keluarga, saya menghaturkan syukur terrdalam saya karena merekalah keluarga saya. Papah yang selalu usaha tiap detiknya agar saya bisa sekolah, Mamah yang gak capek bangunin saya pagi-pagi buat berangkat sekolah dari Tk ampe kuliah, Aa Guna yang rela nganter kemanapun dan ngejemput dimanapun, Intan yang dengan hebohnya selalu ngasih komentar soal semua hal yang saya lakuin, gak ada satu pun yang saya sayangin di dunia ini lebih dari sayang saya ama mereka semua.

Empat tahun ini udah lewat. Setiap detiknya ngasih saya kesempatan buat jadi dewasa. Saya tahu, gak akan ada waktu yang akan saya hargai sebagaimana saya menghargai waktu kuliah saya kemarin, setiap waktu yang jelek-bagusnya udah membentuk saya yang sekarang ini. Mulai dari saat ini ke depannya saya gak bisa lagi bermanja pada rutinitas. Gak ada lagi jadwal kuliah atau teman yang selalu bisa diajak jalan kapan aja. Dunia ke depannya mungkin luar biasa keras, tapi saya akan selalu ingat bahwa setiap detik selama empat tahun kemarin saya lalui dengan optimis agar saya bisa maju untuk kerasnya dunia di depan nanti. Empat tahun yang luarbiasa, empat tahun yang menyenangkan, empat tahun yang menyedihkan... empat tahun untuk segalanya.

Life is a road and I want to keep going
Love is a river I want to keep flowing
Life is a road now and forever
A Wonderful journey

I'll be there when the world stops turning
I'll be there when the storm is through
In the end I wanna be standing
At the beginning with you


Wisudawati Teknik Elektro Oktober 2008
dari kiri ke kanan : Puput-Ghina-Nidong-Rheza-Riska-Riri-Shintoq-Devi-Sari
duduk : Ledy
gak ada di gambar : Fina, Yoshita

photo by Reza Aditya Permadi *thanx bwt foto kerennya ^^*

Monday, October 20, 2008

...Love doesn't always come in convenient packages...

Tuesday, October 7, 2008

Twilight the movie soundtrack

Kembali soal Twilight... karena saya lagi tergila-gila banget ama Edward Cullen... ^^

Baru buka official site nya Stephenie Meyer, dan dapet info soal soundtrack untuk Twilight the movie...
  1. Muse — Supermassive Black Hole
  2. Paramore — Decode
  3. The Black Ghosts — Full Moon
  4. Linkin Park — Leave Out All The Rest
  5. MuteMath — Spotlight (Twilight Mix)
  6. Perry Farrell — Going All The Way (Into The Twilight)
  7. Collective Soul — Tremble For My Beloved
  8. Paramore — I Caught Myself
  9. Blue Foundation — Eyes On Fire
  10. Rob Pattinson — Never Think
  11. Iron & Wine — Flightless Bird, American Mouth
  12. Carter Burwell — Bella's Lullaby

Pas pertama baca daftar penyanyinya saya langsung WOW... hahaha... menambah beberapa nilai plus buat menunggu-nunggu filmnya rilis. Saya sudah denger Decode dari Paramore, dan selayaknya saya suka Paramore, saya pun suka lagu ini (bisa didenger di offi site nya stephenie kalo mau).

Ha... I love every bit of this novel... and I LOVE EDWARD CULLEN!!!

Sunday, October 5, 2008

Twilight

Saya lagi baca Twilight by Stephenie Meyer sekarang, terus dapet info kalo filmnya udah dibikin dan bentar lagi rilis, 21 November tepatnya. Hehehe... langsung semangat, berarti musti beresin baca novelnya sebelum tanggal segitu.

Ini teaser-poster filmnya, buset deh... yang jadi Edwardnya ganteng, dan ternyata dia yang main jadi Cedric Diggory di film Harry Potter... gantengan jadi Edward. Dan yang jadi Bella-nya juga cantik >___< gw suka nih...

Edward Cullen itu vampir lho... dan vampir yang ganteng... macam Lestat de Lioncourt... hehehe... Edward Cullen is the new Lestat :p

Tuesday, September 30, 2008

Assalammualaikum wr.wb.

Puput mau ngucapin...

Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum...

Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin... semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Dan semoga kita sampai ke Ramadhan selanjutnya...

Yang mudik semoga selamat sampai tujuan... saya mudik dulu ya say... :)

Wassalammualaikum wr.wb.

Monday, September 29, 2008

Tak perlu diucapkan

Hening sekali. Hanya ada TV yang menyala, menampilkan tayangan tak mutu, gosip tengah hari... dan ini bulan puasa, entah apa yang orang pikirkan dengan bergosip tengah hari, menambah dosa yang mungkin sudah malas untuk dihitung kembali. Pemuda itu duduk di sofa dan memandang kosong ke arah TV, dia seperti tidak sedang memperhatikan isi acara itu. Dia melirik ke jam dinding yang terletak di atas TV.

'sudah sejam lebih', pikirnya.

Pemuda itu memang sedang menunggu, selayaknya ditandakan oleh keinginan berlebih untuk melihat jam. Dan sudah lewat sejam yang ditunggunya itu tak muncul, dia kemudian berdiri, sepertinya memutuskan untuk menyusul. Baru saja dia berbalik, seorang gadis terlihat berjalan ke arah sofa. Gadis itu memakai celana pendek selutut, t-shirt belel longgar, handuk basah masih tertenteng di sebelah tangannya, dan rambut sebahunya masih basah, acak-acakan tak tersisir, seperti baru digosok-dipaksa kering.

Sang pemuda memperhatikan seksama saat gadis itu berjalan lesu dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Sang pemuda masih berdiri, memperhatikan wajah si gadis yang sekarang malah bengong. Dia memperhatikan wajah gadis itu. Setahunya si gadis baru selesai mandi, tapi wajahnya malah terlihat kusut, sekusut rambutnya, tak ada tanda-tanda kesegaran sehabis mandi...

'mungkin dia mandi gak pake aer', pikirnya asal. Tapi dia menangkap tanda lain, pelupuk mata gadis itu menghitam, dan agak bengkak. Sang pemuda mengangkat sebelah alisnya, dia kemudian kembali duduk di sofa sebelah si gadis.

"mata kamu bengkak..." katanya singkat sambil melihat ke arah TV. Si gadis tidak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah TV. Si gadis tidak menaruh perhatian baik pada acara TV di hadapannya, maupun pada pemuda di sebelahnya, dia tetap diam.

Kalau TV punya perasaan, tentu dia sedang pundung sekarang, masalahnya dua orang yang sekarang ada di depannya dan memandang ke arahnya, sama sekali tidak menaruh perhatian sama sekali pada dirinya, padahal dia sudah bicara banyak sekali, gak di-waro itu pasti menyebalkan bukan?! Tapi TV harus menerimanya, masalahnya dua orang itu tak butuh menonton TV, mereka hanya menyalakannya agar ada sedikit suara berisik yang bisa mengisi percakapan pelit di antara mereka berdua.

"kamu dia kamar mandi udah lebih dari sejam, kesimpulan saya, kamu ketiduran atau kamu abis nangis, yang bener yang mana?" tanya pemuda itu lagi. Nada bicaranya ringan, tanpa emosi berarti. Si gadis diam sebentar, mata bengkaknya masih terpaku pada layar TV, kemudian dia mengangkat tanggannya menunjuk angka dua dengan jari, seperti lambang peace yang selalu dipakai turis jepang kalo mereka berfoto. Pemuda itu meliriknya sebentar kemudian menyandarkan diri ke sofa.

"pantes aja kulit kamu item, di kamar mandi malah nangis, bukannya bersihin badan", sang pemuda membalas. Kali ini si gadis terpancing, dia menengok ke arahnya dan melempar pandangan pengen-mati-ya?. Sang pemuda mengacuhkannya. Si gadis kembali mengunci pandangannya pada TV.

"lain kali kalo mau nangis panggil saya aja, daripada diem di kamar mandi, pilek entar... kedinginan", kata pemuda itu kemudian.
"emang udah pilek kok", si gadis membalas dengan suara sengau.

Sang pemuda melirik punggung gadis itu, sedikit tertarik pada nada suaranya dan pada rambut hitam kusut tak tersisirnya. Dia kemudian menarik rambut si gadis, sehingga si gadis terpaksa ikut menyandar agar rambutnya tak terjambak keras.
"tarik bahu aku aja knapa? dasar kasar!" umpat si gadis, masih dengan suara sengau.

Sang pemuda tak peduli.
"depresi tuh gak pantes buat orang yang sebulan lagi wisuda", balasnya.
"aku emang udah depresi dari semenjak lahir, mau diapain lagi", timpal si gadis.
"ya diubah lah... mana ada depresi seumur hidup", balas sang pemuda lagi.
"emangnya gampang" jawab gadis itu lagi.
"manja!" si pemuda memukul pelan kepala si gadis, "kalo gak susah, gak rame"

"kenapa musti rame?", nada suara gadis itu meninggi.
"kalo ga rame gak usah diikutin", sang pemuda masih menjawab santai.
"hidup aku gak rame, berarti aku gak usah hidup aja gitu?"
"ya udah mati aja sana"
"segampang itu?"
"siapa bilang mati gampang?" sang pemuda sekarang menoleh memandang si gadis yang ternyata juga sedang memandang padanya.

Mereka saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya si gadis kembali memandang ke arah TV.
"sama aku gak usah sok filosofis deh..." kata gadis itu.
"sama saya gak usah sok mellow deh..." balas pemuda itu.

Si gadis tertawa singkat.
"gak mau kalah banget sih" katanya.
"jelas, saya kan laki-laki"
si gadis berpikir,'emangnya lelaki harus selalu menang?', tetapi dia terlalu malas untuk mendebatnya akhirnya dia hanya diam.

Mereka berdua kembali membisu, hanya suara TV ribut sendiri tentang gosip selebritis tak penting.

Si gadis tiba-tiba menyandar di bahu sang pemuda, dia menarik sebelah tangan sang pemuda dan memeluknya, sang pemuda hanya mendiamkannya saja.

"hey...", katanya.
"hmmm..." sahut sang pemuda.
"aku gak sendirian kan?" tanya gadis itu.

Sang pemuda diam sebentar, matanya masih terpaku ke layar TV. Kemudian dia menarik tangannya yang dipeluk si gadis, dan melingkarkannya di tubuh gadis itu, menariknya ke pelukannya.

'gak, kamu gak sendirian', jawabnya, tapi hanya dalam pikiran saja, dia tau itu tak perlu diucapkan.

Dan mereka berdua duduk disana, membiarkan acara TV tak penting itu terus berjalan, membiarkan rambut si gadis terus kusut, dan membiarkan t-shirt sang pemuda basah karena ditempeli rambut si gadis yang masih basah. Membiarkan dunia kembali berjalan.

Dia hanya perlu tahu, dia tak sendirian.

Wednesday, September 24, 2008

Entahlah... saya merasa semakin paranoid akhir-akhir ini... Semoga tidak akan terjadi apa-apa... :)