Thursday, June 9, 2011

Kembali ke pojok : Marah pada siapa?

Aku menunggu layar biru itu berkedip dengan perasaan tak tenang. Aku benci mesin ATM. Bukan karena bentuknya, bukan karena aku punya masalah dengannya, lebih karena aku tahu setiap kali aku mengunjungi mesin itu artinya angka di rekening tabunganku akan berkurang. Alasannya banyak, bisa untukku sendiri dan kadang seringnya, untuk orang lain.

"Saldo tersisa di rekening Anda : Rp. 7, 243,657, apakah Anda ingin melakukan transaksi lain?"

Aku menghela nafas dan menekan tombol yang menunjuk 'YA'.

Sudah beberapa bulan terakhir tabungaku terus berkurang, bertambah mungkin, setiap tanggal 1, sebagaimana layaknya pegawai negeri lainnya, tapi sebelum sampai tanggal 5 seperempat dari tambahan itu sudah menghilang -pengeluaran rutin. Sebelum tanggal 15, seperempatnya lagi, untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kemudian, pada tanggal 25, saldo tabunganku akan kembali ke posisi sebelum gaji masuk, transfer ke orang tua.

Rutinitas itu adalah siklus standar untuk rekening tabunganku, tapi untuk beberapa bulan ini aktivitasnya bertambah. Adikku sakit. Dan bukan pilek atau flu seperti yang biasanya terjadi padanya, infeksi ginjal. Bisa dibayangkan, adikku, baru saja lulus SMP dan sekarang terkena infeksi ginjal. Dia sering mengeluh sakit perut, aku pikir hanya manja-manjaannya saja. Kemudian mengeluh kencing berdarah, aku berpikir mungkin datang bulannya saja sedang tidak benar. Sampai satu ketika dia sering pingsan, dibawa ke dokter dan difonis terkena infeksi ginjal. Aku kena marah, oleh dokter dan oleh ibuku. Aku juga ingin marah, tapi pada siapa? Adikku sakit, dan terlambat ditangani, aku ingin marah, tapi pada siapa?



Cuci darah tidak murah, 750 ribu sekali, dan adikku butuh dua kali seminggu, delapan kali sebulan, artinya enam juta sebulan. Gajiku saat ini, dengan bonus dan lainnya adalah 8 juta sebulan, aku harus bertahan dengan gaji dua juta sebulan untuk tinggal di Jakarta. Banyak yang harus kukorbankan. Aku berhenti latihan yoga, sesuatu yang sangat kusukai dari beberapa tahun yang lalu, kenapa? terlalu mahal, aku tak sanggup membayarnya. Aku menutup semua kartu kredit yang kumiliki, aku tak akan sanggup membayarnya, bahkan iuran tahunannya pun terasa berat. Aku pindah ke kontrakan yang lebih kecil, tanpa AC, tanpa fasilitas cuci-setrika, kamar mandi bersama, ya setidaknya aku punya atap untuk bernaung. Aku berhenti naik taksi atau ojek, kemanapun, seberapa jauhpun aku tempuh dengan metromini, hanya dua ribu rupiah sekali jalan. Dan yang paling berat, aku berhenti jalan-jalan sepulang kantor dengan teman-temanku. Tidak ada makan malam bersama, tidak ada karaokean, tidak ada belanja, ataupun nongkrong di kedai kopi. Yang tersisa hanya aku sendiri, dengan laptop tua yang berusaha tidak kujual, serta akses internet seadanya, satu-satunya hiburan yang kusisakan untuk diriku.

Aku tak pernah membayangkan hidupku seperti ini, usia 25 tahun, single, tapi serba terbatas. Saat kuliah di ITB, ya ITB, aku membayangkan ketika lulus mempunyai pekerjaan yang baik, dengan gaji yang baik, dapat membeli barang-barang yang layak, punya tempat tinggal layak, bahkan beli mobil, barang yang tak pernah dimiliki keluargaku sejak dulu... "terlalu mahal" selalu begitu alasan almarhum ayahku. Saat lulus, aku berharap bisa bekerja di perusahaan multinational, dengan gaji yang baik dan lingkungan yang menyenangkan. Orangtuaku tidak mengijinkan. "jadi pegawai negeri saja, punya pensiun, hidup terjamin". Aku menyerah, aku daftar ke satu kementrian Energi dan mendapat tempat sebagai analis di direktorat jenderal minyak dan gas bumi. Tempat basah, begitu kata orang-orang, tapi aku berusaha jujur, tidak ingin punya uang haram, menerima hanya apa yang seharusnya kuterima... dan aku merasa cukup.

Kemudian keadaan berubah. Ayahku meninggal tak meninggalkan apa-apa. Ibuku tumbuh tua menjadi wanita yang gampang marah, merasa sudah waktunya istirahat tapi ternyata masih banyak yang harus dikerjakan. Adik masih sekolah, rumah di bandung masih mengontrak, hutang keluarga ternyata banyak yang harus dibayar. Sedikit demi sedikit aku mengurangi gaya hidupku, lebih banyak menabung, berusaha membantu ibuku. Tiap hari ibuku menelpon, yang dibicarakan tidak banyak, pertama menanyakan keadaanku, kedua mengatakan uang miliknya tidak cukup, ketiga meneluh karena masih harus dirisaukan dengan hal-hal seperti ini di kala waktunya dia lebih banyak bersantai dan menikmati masa tua. Aku hanya boleh menjawab dengan "ya baik", "iya nanti transfer" dan "sabar saja". Kalau menjawab yang lain, aku dimarahi.

Kala itu, keadaan sudah terasa cukup sulit, tapi aku masih berpikir... "sudahlah, banyak yang lebih sulit". Aku masih berusaha jujur, menerima apa yang seharusnya kuterima... dan aku merasa cukup.

Kali ini berbeda. Dengan kebutuhan cuci darah yang terus-menerus, biaya yang dibutuhkan pun terus-menerus menumpuk. Hutang tak terbayar, gaji hanya lewat di rekening. Aku pusing, bingung berusaha mencari tambahan. Aku menghadap ke atasanku, meminta kenaikan golongan, aku dimarahi, dikatai tidak tahu diri. Aku mencari cara lain. Aku melihat ke barang-barang yang kupunya, menjual beberapa barang yang bisa kujual, membuka penjualan pakaian bekas lewat facebook, lumayan... setidaknya aku bisa menambah saldo tabunganku. Tapi barang sudah habis, apalagi yang bisa kujual? Ginjal? tidak boleh, kalau adikku butuh cangkok, bisa pakai sebelah ginjalku tidak perlu mencari donor lain, lebih murah.

Tujuh juta, saldo yang tersisa di rekeningku saat ini. Aku mentransfer enam juta ke rekening ibuku, menyisakan satu juta untukku selama sisa dua minggu sampai menerima gaji. Aku meninggalkan gerai ATM sambil berdoa, semoga ada perjalanan dinas dalam dua minggu ini, lumayan untuk menambah saldo rekening.

Aku berjalan pulang ke kontrakan, melewati satu kedai kopi tempat dulu aku biasa nongkrong dengan teman-teman. Aku berusaha tidak menoleh, tidak ingin bertemu siapapun dan mengarang alasan untuk tidak mampir, aku malas basa-basi. Rupanya kali ini ada yang memanggilku. Teman-teman kuliah, masih kumpulan orang yang sama, bedanya denganku senyum mereka lebar sekali. Mau tak mau aku mendekat, tetap berdiri, agar bisa secepatnya pergi.

"kemana aja lo? sombong nih gak pernah mau jalan lagi" kata mereka.
"sorry, sering lembur gw, kalo gak lembur banyak kerjaan yang dibawa pulang" -ah, aku mengarang alasan lagi.
"sibuk banget nih, bonus banyak dong... minyak gitu lho" - ah, sekali lagi anggapan yang tidak perlu, aku hanya tersenyum. Aku melihat berkeliling, tapi tak melihat sahabat terdekatku duduk disana.
"dia gak ada, gak ikut malem ini" teman yang tadi memanggilku berkata, dia rupanya menangkap yang kupikirkan.
"oh, kenapa? sibuk?" tanyaku.
"lu gila ya, pantes dia marah ama lu!" balasnya. aku kaget.
"hah? marah? marah kenapa?" -aku merasa panik.
"katanya lu nyuekin dia sekarang, diajak jalan gak mau, diajak belanja gak mau, kosan malah pindah... ya gitu deh, lu gak asik katanya... dan emang lu gak tau dia mau nikah?" -aku merasa seperti dipukul, tidak, aku tak tahu.
"enggak, gw gak tau" jawabku.
"tuh kan, parah banget sih lu" mereka tertawa. Aku tahu mereka hanya bercanda, tapi hatiku merasa teriris, sahabatku marah padaku, dia akan menikah dan aku tak tahu.

Aku pulang dengan langkah gontai, kepala tertunduk dan hati yang semakin berat. Sebanyak inikah yang harus kulalui? Telepon genggamku berbunyi, dari ibuku.
"ya bu" jawabku.
"udah transfer?" -ah, bahkan dia tak menanyakan kabarku dulu.
"sudah, baru aja" jawabku lagi.
"kenapa gak langsung kasih tau ibu, ini ibu udah ditelpon berkali-kali ama penagih hutang, kamu tuh ngerti gak sih kalo ibu tuh suka gak tenang? bisa gak sih ngerti perasaan orangtua..." aku mulai dimarahi. Aku berhenti berjalan. Menutup mata, menahan diri untuk tidak balas berteriak, berteriak pada orang tua itu dosa dan tidak pantas.
"... ngerti kamu? lain kali jangan kayak gitu lagi, kamu dengerin ibu kan?" ibu menutup sesi marahnya.
"iya bu, maaf" jawabku seperti biasa.
"maaf itu jangan keseringan, kamu ini sekolah tinggi tapi gak pinter-pinter, bisanya bikin risau orang tua, harusnya ibu tuh sudah senang umur segini, gak usah mikirin apa-apa, kalo tau gini ngapain kamu sekolah tinggi-tinggi, mahal-mahal, gak ada balikannya buat orang tua" -ah ya, aku mengerti, masih kurang. Ibu kadang mengatakan 'masih kurang' dengan kata 'tidak ada'.
"iya bu maaf, kalo gak salah aku dikirim ke cepu minggu depan, mungkin aku dapet tambahan uang lagi" jawabku.
"yaudah kabari ibu, jangan lupa makan yang bener, kalo kamu sakit ibu juga yang repot"
"iya bu", dan ibu menutup teleponnya.

Aku masih berdiri mematung di trotoar jalan, menatap layar gelap telepon genggamku kemudian ke arah jalan yang macet, ini jakarta dan waktu pulang kerja tentu saja macet. Aku memandang orang-orang yang terlihat kesal di dalam mobil, memencet klaksonnya dengan sebal, berteriak pada sepeda motor yang seenaknya memotong jalan. Supir mobil itu marah karena ada yang memotong jalannya, mereka marah akan kemacetan. Ibuku marah padaku, karena aku tak punya cukup uang. Sahabatku marah kepadaku, dia akan menikah dan aku tak tahu. Lalu aku marah pada siapa? impianku pudar aku marah pada siapa? aku kesepian aku marah pada siapa? aku lapar aku marah pada siapa? kakiku sakit aku marah pada siapa? aku harus marah pada siapa?

Aku menghela nafas panjang. Memejamkan mata, memblokir semua teriakan baik yang ada di dalam kepala maupun yang kudengar lewat telinga. Aku fokus pada detak jantungku, fokus pada nafasku, fokus menahan air mata yang mulai mengumpul di pelupuk mataku. Sedikit demi sedikit aku mulai tenang, aku mengatur nafas, berusaha membayangkan melodi musik yoga yang biasa kupakai latihan, mengatur nafas dan berusaha mengingat semua hal yang sudah kulewati. Tuhan itu maha mengetahui. Dia tahu aku kuat, Dia tahu aku bukan orang curang, Dia tahu aku pantang menyerah, Dia tahu aku sanggup melewati semua ini. Aku tak perlu marah, karena memang tak ada yang perlu aku marahkan, aku tak perlu teriak karena memang tak ada yang perlu aku teriakkan. Aku hanya perlu tahu bahwa aku kuat dan aku akan sanggup melewati semua ini, karena Tuhan tahu, aku sanggup.

5 comments:

Subcommandante said...

Keren bahasanya... *fiksi kan?! :)

putri setiani said...

titip peluk buat si tokoh cerita yah..
:D

Unknown said...

@subcommandante: yup, it's fiction :)

@uti : gw juga gak pernah ketemu ti, gimana dong :P

anya said...

Fiksi yang sukses bikin kaget di awal...
kalo ada orangnya, gw peluk juga deh :D

Unknown said...

@anya : jd klo gw gak meluk gituuuu... *jongkok di pojokan