Showing posts with label kembali ke pojok. Show all posts
Showing posts with label kembali ke pojok. Show all posts

Wednesday, December 19, 2012

Kembali Ke Pojok: Journey

Mengapa garis pemisah jalur di jalan raya harus dibuat terputus-putus? Kenapa tak dibuat satu garis tegas memanjang? penanda pasti bahwa tak ada yang bisa pindah jalur. Tpi apakah memang harus dibuat setegas itu? Haruskan semua hal dibuat setegas itu? sepasti itu?

Aku menyukai hal yang pasti. Hampir semua pertanyaan dapat kujawab tanpa kata 'mungkin'. Jika aku tak punya jawaban, aku akan bilang 'tidak tahu'. Tak pernah kubayangkan bahwa ada saatnya aku akan membisu akan sebuah pertanyaan... tak pernah...

"aku ingin kamu jadi istriku" 

Tidak, itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan sikap.

"tapi aku ingin kamu berhenti kerja, bisa?"

Ya, itu dia pertanyaannya. Pertanyaan yang membuatku membatu entah untuk berapa lama. Cukup lama untukku membayangkan ada mata Medusa atau Basilisk yang sedang memandangiku... apalagi yang bisa membuatku membatu selama ini.

Monday, June 18, 2012

Kembali ke pojok : Late Night Gibberish

Seri kembali ke pojok ini adalah lanjutan dari yang ini. Atas permintaan sekenanya dari Gusti Ayu Meliati, akhirnya saya coba bikin sekuel. Pertama kali bikin sekuel.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
picture taken from here
“008?” katanya kemudian sambil nyengir. Saras langsung menarik tangannya cepat dan memandang Rako dengan wajah tertekuk.

Sudah puluhan tahun dari serial superhero lokal konyol dengan brand panggilan telepon international itu tayang di televisi, dan dia -yang dengan menyebalkannya punya nama yang sama- harus merasakan komentar refleks yang sama tiap kali ada orang yang mendengar namanya. Dalam hati dia ingin balas berteriak ‘basi! madingnya udah mau terbit!’, setidaknya AADC baru sepuluh tahun lalu.


Thursday, April 12, 2012

Kembali ke pojok: Love is a four letter word

Aku merasakan suka cita dan bahagia yang dengan perlahan memenuhi ruangan ini. Melihat sepasang manusia yang saling menatap dengan takjub, dengan ekspresi yang kaya akan syukur dan bahagia. Ikrar akad nikah mereka baru selesai diucapkan, dan dengan diucapkannya tiga huruf dalam satu rangkaian kata berbunyi ‘sah’, mereka berdua memasuki kehidupan baru. How simple!

Aku menatap dan tak lama pun ikut tersenyum. Aku pun merasa bahagia, for such an undefined thing, aku bisa merasa bahagia. She’s my best friend, and he’s my colleague at work, and yes, they know each other through me. Siapa sangka? ironis, dan menurutku, aneh. Karena aku tak percaya cinta, maaf - kuralat, aku tak mengerti cinta.

Kedua mempelai lalu berkeliling, menerima salam, kecup dan peluk bahagia dari semua yang datang. Aku masih berdiri di tempatku, tersenyum sambil menatap mereka bahagia. How lucky they are. Mereka lalu mencapai tempatku berdiri, dan bersama-sama keduanya memelukku.

Thursday, June 9, 2011

Kembali ke pojok : Marah pada siapa?

Aku menunggu layar biru itu berkedip dengan perasaan tak tenang. Aku benci mesin ATM. Bukan karena bentuknya, bukan karena aku punya masalah dengannya, lebih karena aku tahu setiap kali aku mengunjungi mesin itu artinya angka di rekening tabunganku akan berkurang. Alasannya banyak, bisa untukku sendiri dan kadang seringnya, untuk orang lain.

"Saldo tersisa di rekening Anda : Rp. 7, 243,657, apakah Anda ingin melakukan transaksi lain?"

Aku menghela nafas dan menekan tombol yang menunjuk 'YA'.

Sudah beberapa bulan terakhir tabungaku terus berkurang, bertambah mungkin, setiap tanggal 1, sebagaimana layaknya pegawai negeri lainnya, tapi sebelum sampai tanggal 5 seperempat dari tambahan itu sudah menghilang -pengeluaran rutin. Sebelum tanggal 15, seperempatnya lagi, untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kemudian, pada tanggal 25, saldo tabunganku akan kembali ke posisi sebelum gaji masuk, transfer ke orang tua.

Rutinitas itu adalah siklus standar untuk rekening tabunganku, tapi untuk beberapa bulan ini aktivitasnya bertambah. Adikku sakit. Dan bukan pilek atau flu seperti yang biasanya terjadi padanya, infeksi ginjal. Bisa dibayangkan, adikku, baru saja lulus SMP dan sekarang terkena infeksi ginjal. Dia sering mengeluh sakit perut, aku pikir hanya manja-manjaannya saja. Kemudian mengeluh kencing berdarah, aku berpikir mungkin datang bulannya saja sedang tidak benar. Sampai satu ketika dia sering pingsan, dibawa ke dokter dan difonis terkena infeksi ginjal. Aku kena marah, oleh dokter dan oleh ibuku. Aku juga ingin marah, tapi pada siapa? Adikku sakit, dan terlambat ditangani, aku ingin marah, tapi pada siapa?

Tuesday, May 17, 2011

Kembali ke pojok : Every woman want to be loved...

"cariin gw pacar dong"

Kalimat itu langsung melucur dari mulut sahabatku tepat saat dia duduk. Dan aku hanya bisa menjawab: "heh?" -bengong.

"iya, cariin gw pacar, emang di kantor lu gak ada yang bisa lu kenalin ke gw gitu?" tanyanya lagi, wajah memberengut, dan sibuk membalik-balik buku menu, aku : masih bengong.

"ya ada sih, tapi oom-oom, mau?" tanyaku.
"hah? emang masih single?"
"kagak, elu jadi istri kedua gitu" balasku.
"sialan lu!" dia melempar pandangan bengis padaku. Dia meletakkan buku menu di meja dan memanggil pelayan, seperti biasa memesan secangkir hot mint tea -aku tak mengerti untuk apa dia membuka-buka buku menu itu lama-lama kalau akhirnya dia tetap akan memesan mint tea.

"kenapa sih? sejak kapan punya pacar jadi prioritas satu?" tanyaku.
"sejak gw berumur 28 tahun dan wejangan bokap gw tiap hari udah sekitar punya pasangan dan bangun keluarga" jawabnya sambil bersandar malas. Sebelah alisku naik.

Oke, aku beri sedikit penjelasanku mengenai temanku satu ini. Dia seorang akuntan, berkarir 5 tahun di kantor akuntan publik kemudian pindah menjadi manager internal audit di satu perusahaan telekomunikasi. Usianya sekarang 28 tahun, dia tak punya pacar dan tak pernah tertarik punya pacar sebelumnya, apalagi ketika dia masih kerja di KAP -"gmn gw mau pacaran? gw ajak lembur di kantor client? ah ganggu aja!" - begitu biasanya yang dia katakan kalau ada yang bertanya mengapa dia tak serius cari pasangan. Dan hey, siapa sangka angka 28 dan wejangan orang tua bisa mengubah pandangannya itu.

"jadi kalau bokap lu gak ngomong lu gak akan peduli buat nyari pacar juga?" tanyaku.
"hmmm... mungkin, lagian kayaknya gw gak butuh-butuh banget punya pacar, emang apa enaknya punya pacar?" dia balas bertanya padaku.
"hmmm... tangible advantages... ada yang nganter-jemput lu kalo pergi kemana-mana..." kataku.
"gak butuh... ada sopir..."
"... ada yang nemenin lu makan malem dan nraktir lu makan..."
"gw lebih seneng makan sendiri, and I can afford my meal"
"... ada yang nemenin lu belanja..."
"i have ton of friends and I can even hire a stylist..."

-oke, ni cewek emang gila.

"ok, so what's about the intangible one..."
"just one?"
"yeah, just one... at the end of the day, you always sleep at night, wake up in the morning and do your day with a hope that you won't be left alone in this world... that there will be the one that always there for you, love you"

Dia diam sebentar.
"that's very subjective..." katanya kemudian.
"indeed, but it's true..."
"hope is paralyzing..."
"but it keeps you from giving up"

Dia diam lagi.
"emang segitu pentingnya ya ada yang nemenin?" -dia masih keras kepala, aku hanya tersenyum.
"ask yourself, lu sekarang kerja, ngumpulin duit, sukses, deposito menumpuk, aset melimpah, but someday it's only you... no longer parent and siblings, no husband, no children, at that time you own everything, everything that can be bought, but everything else?... no honey, trust me you don't want to be like that"

Dia diam lagi. Pesanan mint tea nya datang. Dia meneguk sedikit sambil memandang ke lengangnya traffic Jakarta di hari minggu.
"jadi musti serius nih gw?" tanyanya lagi.
"menurut lu?" tanyaku balik.
"haaahhh... yaudah kenalin gw ama siapa kek..."
"eh, kenalinnya sih gampang, elunya bisa serius gak?"
"diusahain..." katanya.
Aku hanya tersenyum, seorang manusia satu ini bisa menjadi sangat lucu.

Pintu cafe itu terbuka, dan seorang pria masuk, maaf aku ralat -seorang pria tampan masuk. Dia melihat sekeliling dan matanya bertumbukan denganku kemudian tersenyum, aku balas tersenyum. Dia menghampiriku dan mencium pipiku lembut.

"hai, dah lama? maaf ya say kamu nunggu..." katanya.
"gak apa-apa, dia juga baru dateng kok..." kataku sambil menunjuk sahabatku di seberang meja.
"oi, pa kabar lu?" dia bertanya pada sahabatku sambil menjabat tangannya.
"dia lagi nyari pacar" jawabku sebelum sahabatku bisa menjawab.
"seriously?"dia melirik sahabatku tak percaya.
"eh, gak usah gitu deh ngeliatnya, seolah gw gak mungkin kepengen punya pacar aja" balas sahabatku.
"oh, if you ask that last week, i'll say that would be possible, seeing that you love your bag more that anything" sindirnya. Aku hanya tertawa. Sahabatku hanya melempar pandangan sinis padanya.
"berisik deh... btw, how's the wedding preparation?" tanya sahabatku.
Dia tersenyum dan memandangku, "how is it? dunno, all I know is my bride is ready" jawabnya sambil menicum pipiku. Aku hanya tersenyum.

Dari sudut mataku aku melihat sahabatku tersenyum. Ya, bagaimanapun dia tetap seorang wanita, dan dia pasti akan memilih untuk dicintai, cepat atau lambat. Kita lihat saja nanti.

-It's all fiction, just a thought-

Monday, November 1, 2010

Kembali ke pojok : Meet cute???

(pic: at Bakoel Koffie - Bellagio Mega Kuningan)

Pojokan itu tidak kosong. Saras menghela nafas kesal di pintu Caffeine for Life, memandang pojok favoritnya yang sekarang diduduki orang lain. Dengan muka agak ditekuk dia mendekati konter, disambut cengiran Komo si barista.

“abis digusur ya mbak?” sapa Komo.


Tuesday, August 24, 2010

Kembali ke pojok: Kisah Kita

[This one inspired by the song Kisah Kita by Vidi Aldiano. I repeated this song over and over in my iPod this past few days, and still not over it :) Nice song and nice voice Vidi]

Terminal 2 bandara Soekarno-Hatta tetap padat seperti biasa, walau di petang hari seperti ini. Aku duduk di depan booth makanan siap saji yang ada di lorong depan bandara, menunggu. Sesekali memandang ke arah kiri dan kanan, mereka bisa datang dari keduanya tergantung dimana mereka berhenti, dan sampai saat ini tanda-tanda kehadiran mereka belum juga muncul. Aku melirik lagi arlojiku, masih sekitar dua setengah jam sampai keberangkatan, tapi aku belum check in. Mungkin aku salah mengambil jadwal pesawat, jam pulang kantor seperti ini jalanan pasti super macet, terkutuklah Jakarta dan kemacetannya.

"hah... limabelas menit lagi gak dateng, gw cabut deh..." gumamku, cukup keras ternyata, karena ada yang membalas.

"cabut apaan? cabut bulu?" suara yang kukenal. Aku menoleh dan menemukan empat orang yang sudah sedari tadi kutunggu-tunggu.