"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Wednesday, September 26, 2007
Dan saya pun sangat suka siang hari, karena itu adalah waktu dimana saya berbahagia untuk kebahagiaan orang lain. Saat matahari menyinari bahagianya.
Jika tak ada keduanya,
itulah waktu dimana langit dirundung nestapa.
Saat itu pasti ada, tapi janganlah lama-lama.
Sunday, September 16, 2007
Kiriman
To : Pratiwi
From : Trem
Subject : Kiriman
Apa kabar? masih hidup?
hmmm...Aku sedang menganggur luar biasa, bisa kasih kerjaan gak? lebih bagus kalau gajinya besar, tapi kecil juga gak apa, yang penting aku tak menganggur. kau tau sekali, jadi pengangguran adalah mimpi paling buruk bagiku, berasa mati.
Ray baru mengirim email kemarin, dia ada di Venice, menghabiskan satu minggu liburan berharganya. Dia mengirim email karena katanya dia liat satu kalung berbandul bulan purnama disana. Membuatnya tertawa karena mengingatmu. Aneh, biasanya purnama cuman hidup di tataran kata-kata, tapi kali ini dia dirupakan, satu kesempatan yang biasanya cuman dirasakan oleh bulan sabit --yang lagi ketawa atau ada anak kecil duduk sambil mancing di atasnya...Dreamworks salah satu tersangka untuk ini--
Bandul itu benar-benar dapat disebut purnama, jauh dari matahari atau hanya sekedar bulatan biasa. Padahal biasanya purnama hanya dapat dikenali saat dia ada di langit bukan?! Setidaknya itu yang aku dengar dari kau, dan karena itulah kau menyebut dirimu purnama, bukan?
Ray bilang gini "bilangin ama saudara gila lu itu, dia gak cuman bisa muncul karena matahari, ada orang yang bisa tetap mengenali dia meski dia gak punya sinar, bahkan bisa merupakan dia saat sedang redup, hahaha...buang jauh matahari itu kawan, bintang hanya sekumpulan makhluk pongah, kau tak butuh mereka"
Sangat Ray bukan?! sinis! dan karena itulah aku cinta dia. Untuk masalah bintang, aku tak setuju dengannya. Okelah bintang itu pongah, tapi kau tak bisa bilang kita tak butuh mereka bukan? bahkan ray adalah bintang untukku, dia matahari.
Ya begitulah, hanya sekedar ingin menambah sampah di kepenatan kepalamu. Partisimu mengendur, coba perkuat lagi, kau bisa gila kalau terus begitu.
Dan satu hal lagi, aku dengar kau kembali sendiri, benarkah?
hahaha...welcome back to the club!!! bukankah aku sudah bilang padamu, kau lebih manusiawi saat sendirian, setidaknya sebelum mataharimu datang, nikmatilah itu.
Begitulah, semoga kau tak menjadi gila karena email ini, aku juga gila kalau kau gila, sebagaimana aku hidup karena kau hidup. Dunia sini sedang membosankan, jadi bersyukurlah setidaknya kau bermain drama disana, meski dengan cerita menyebalkan.
Sampai ketemu lagi!
-- Tremi A. Iskandar --
Sunday, September 9, 2007
Untuk bintang
bintang...
malam begitu kelam tanpa kau
langit tetap hitam, tapi
terasa begitu kosong
jangan salahkan aku, ku telah bersinar
semampu
ku dapat pantulkan pemberian mentari
tetapi bumi tak inginkan itu
bintang...
mereka lebih rindu pada sinar redupmu
pada kemurnianmu
tempatku begitu dingin, aku begitu dingin
ku hanya tahu diriku,
hanya tahu isi kepalaku
tak ada energi yang bisa kuberi
ku harus
meminjam untuk memberi
bintang...
maafkanku,
mungkin memang ku
terlalu berharap padamu
mungkin memang ku terlalu bergantung pada hangatmu
hanya saja, kali ini hangatmu tak sampai padaku
padahal jarak kita
sama, tak berubah sedikitpun
ataukah sekarang jarak itu melebar?
bintang...
mungkin ini hanya harapku saja, tapi...
bisakah kau
menjadi mentari?
Friday, August 31, 2007
Putri dan langitnya...
Langit begitu hitam, tapi tidak kelam, malahan hangat rasanya. Bintang-bintang sedang genit, mereka mengedip-ngedip manja, seperti gadis mungil yang sedang kasmaran.
Putri...
Langit malam ini mengingatkanku padamu. Terbayang sosok mungilmu berdiri menengadah ke langit, memandang takjub dan memuja. Terbanglah yang tinggi, sapalah gadis angkasa yang tak ubahnya seperti engkau. Nikmatilah waktumu, terbuai bersama hangat cahaya redupnya.
Sudah itu, ingatlah untuk kembali ke bumi... peermu menunggu untuk dikerjakan putri...