Showing posts with label Trem. Show all posts
Showing posts with label Trem. Show all posts

Thursday, December 24, 2009

Kembali ke Pojok : nostalgia

Secara umum, tidak banyak yang berubah....

Hampir tiga tahun dari terakhir kali aku mengunjungi tempat ini. Tak ada yang berubah, hanya mungkin tata letak meja yang digeser dan dekorasi-dekorasi natal yang muncul di beberapa tempat. Aku langsung menuju satu sofa yang berada di pojok, dekat jendela dan menghadap ke pintu masuk, pojokku, tempatku berdiam setiap kali aku datang kesana. Tiga tahun berselang tapi ternyata ritual yang sama tetap kulakukan saat duduk di pojok itu: membuka laptop, online, memesan secangkir latte, menyumbat telinga dengan headphone dan berdiam disana entah untuk berapa lama. Tidak akan ada yang mengusik, bagaimanapun ini adalah pojokku...

Aku memandang keluar jendela, ke arah jalan raya ramai di luar sana. Kota ini hanya ribut saat akhir minggu, dan bukan penduduknyalah yang membuatnya ribut. Akhir minggu adalah waktu istirahat untuk semua orang. Istirahat bagi penduduk kota ini berarti diam di rumah, bermalasan dan nonton TV. Tapi untuk beberapa orang dari ibukota, istirahat itu diartikan sebagai "naik ke mobil, kita jalan-jalan ke bandung", maka tak heran jika plat B lah yang memenuhi jalan saat akhir minggu.

Perhatianku pada jalanan berkembang menjadi lamunan pada satu waktu kira-kira empat tahun lalu, satu percakapan yang terjadi tepat di tempat ini, di sofa ini, dengan satu orang yang saat itu selalu menemaniku mojok disini.

"kenapa kamu suka duduk disini?" tanyanya. Aku mengalihkan pandangan dari jalan kepadanya yang duduk di hadapanku.
"di sini? hmmm... karena saya bisa ngeliat kemana-mana dari sini" jawabku setelah berpikir sebentar. Dia mengangkat sebelah alisnya.
"untuk apa? toh selama disini matamu pasti terpaku ke layar laptop" cibirnya.
"yah, sekali-kali kan refreshing ngeliat yang lain-lain, lucu lagi... jadi bisa merhatiin orang-orang" kataku.
"merhatiin orang?" katanya.
"iya... sini deh... liat orang yang di sebelah pintu? dia itu selalu datang sekitar jam 3 sore hampir setiap hari... beli espresso dan duduk disitu sampai maghrib sambil baca buku, terus meja sebelah konter itu sering jadi arena arisannya ibu-ibu... berbagai macam ibu-ibu, terus kalau ngeliat keluar jendela... traffic jalanan bandung bisa keliatan, kalau ada yang baru dateng dan saya kenal... pasti langsung keliatan dari sini, tempat ini itu enak banget buat merhatiin macem-macem" balasku saat itu.
Saat itu dia memandangku dengan pandangan aneh sampai akhirnya dia tersenyum pahit,
"saya gak suka tempat ini" katanya kemudian.
"lho kenapa?" tanyaku.
"karena penglihatanmu selalu melewati saya".

Aku tak mengerti apa maksudnya saat itu. Kenapa dia berkata seperti itu? Dia selalu duduk di depanku, jelas aku pasti melihatnya. Percakapan itu adalah saat terakhir dia menemaniku mojok disini. Aku tetap tak mengerti apa maksud ucapannya sampai suatu saat sebuah notifikasi di facebook menyadarkanku, notifikasi bahwa dia baru saja mengganti status facebooknya dari 'single' ke 'in a relationship' dengan menyebutkan nama seseorang yang sangat kukenal.

Bingung, aku sangat bingung, apa maksudnya? kenapa gak bilang-bilang? dan kenapa aku merasa dikhianati? Aku merasa ditinggalkan, walau aku tak punya alasan untuk merasa begitu. Kami cuman teman... bukan???

Aku bertanya padanya tentu saja.

"kita cuman teman kan?" setengah hatiku ingin dia menjawab 'tidak' walau tak menemukan alasan yang tepat.
Jawabannya kala itu "tidak... kita teman, gak pake cuman"
Aku diam.
"walau saya pernah merasa lebih, pernah ingin jadi lebih, tapi rupanya kamu tidak begitu kan?" lanjutnya kemudian sambil tersenyum.
Aku diam, kali ini dengan rasa kaget dan kosong yang muncul bersamaan.
"kenapa gak bilang?" kataku.
"percuma, seperti yang saya bilang, penglihatan kamu selalu melewati saya"

Dan saat itulah aku mengerti. Saat sofa di hadapanku selalu terisi olehnya, aku tak terlalu merasakan signifikansi kehadirannya disana. Aku terlalu sibuk memperhatikan semua hal diluar sana, diluar kami berdua. Dan kemudian sofa itu kosong, dia tak lagi ada disana, dan kemudian pojok ini tak terasa istimewa lagi.

Empat tahun berselang. Sekarang aku melihat sofa kosong di hadapanku dan tersenyum. Dia menikah lusa, dengan orang yang sama yang namanya aku baca di facebook kala itu. Aku setengah berkhayal, kalau misalnya kala itu aku tak se-'buta' itu, mungkin lusa adalah pernikahanku juga. Aku hanya tersenyum. Sungguh khayalan yang tolol.

Mungkin aku terlalu merasa sentimentil, pengaruh nostalgia dari masa-masa kami bersama di pojok ini. Dan mungkin sedikit cemburu karena dia punya pasangan dan aku tidak. Sudahlah.... ini akhir tahun, besok natal, lusa dia menikah dan minggu depan sudah tahun baru. Liburan masih panjang, sangat sayang kalau habis untuk nostalgia melankolis.

Selamat berlibur...

Friday, February 6, 2009

Another chapter, another song : You make it real

It's so exhausting. The beginning of the year is always the hardest time of being a public accountant. Sometimes I really consider the opportunity to move to client's company, but hello... it's just my second year, everybody will think that I'm weak if I run away from this.

I take a deep breath and once again trying to concentrate. I do have a lot of work to do, but look at the senior... it's a shame to grumble around if I compare my work with them. Oh, I love my job... I love my job!

---

It's already 11 p.m and I still sit in my cubicle, facing my laptop, doing my job. Not much has been done in this last 3 hours, and I feel tired... so tired.

dddrrrrddd.... my phone vibrate... a message from... him...

I smile a little and open the message, like usual, it's short... one word and one mark: hungry?

I smirk... that was so him. I push the reply button and text : kinda, why?

Before I put away my phone, it vibrates, and once again just a short reply : come over, I bought some pizzas

I smile and reply : I'm afraid I can't, still not done for today...

And the reply : I know. Make it done. Come.

And that's it. I know him so well to understand that it's an order. I close my eyes, doing a quick calculation and planning, yeah... I can finish it tomorrow. So I get up from my chair, clean up my table, shut down my laptop and go.

---

20 minutes later, I come to his apartment. I have the key, no need to knock. The front foyer is dark, but I can hear the TV from the inside. I come in and so there he is, sit on the sofa, eyes on TV. In the table there are a large pan of my favourite tuna pizza and some cans of Pepsi, still whole. I smile, I know him, he doesn't like tuna and soda, but he knows me and what I like. I turn to the kitchen and bring along a bottle of mineral water, then sit beside him, put the water in the table.

"you're not the kind to watch F1 race" I said.
"there's no other thing" he said.
"it's almost midnight, why don't you sleep?"
A moment of silent then he answer, "cause I know you still awake".

I'm looking at him, he still looking at TV, pretending to watch that boring race. And I laugh quitely.

"you said you're hungry, just eat" He ordered.
"ok" and I give him a quick kiss on his left cheek, "thanx for the pizza". So I start to eat, a little difficult because my lips still trying to smile widely.

That's him. Simple, less talk, and nothing romantic about our relationship. He just a kind of man that know how to make me feel safe and relax, gives a little pause in my hectic life.

There's so much craziness surrounding me,
There's so much going on it gets hard to breath
When all my faith has gone you bring it back to me,
You make it real for me

When my head is strong, but my heart is weak,
I'm full of arrogance and uncertainty
When I can't find the words, you teach my heart to speak,
You make it real for me

And I am running to you baby,
You are the only one who saves me
That's why I've been missing you lately,
'Cause you make it real for me

Sunday, November 2, 2008

Sendiri

Gadis itu telah dua kali melewati rak yang sama. Memiringkan kepalanya agar bisa membaca jelas tiap judul buku yang terpampang, sesekali menegakkan lehernya kemudian kembali menyapu setiap baris buku yang berjejer disana. Entah apa yang dia cari, bahkan mungkin dia pun tak terlalu yakin apa yang dia cari. Ketika akhirnya dia sampai pada buku terakhir di rak itu untuk kedua kalinya, dia menghela nafas panjang.

Gak suka nih! Batinnya.

Kemudian dia melirik satu rak yang agak lebih kecil di sisi lain ruangan. Kartu bertuliskan Classic Literature tertempel di puncak rak itu. Dia mengangkat sebelah alisnya tak yakin, tapi akhirnya dia mendekati rak itu. Sekilas dia sapu judul-judul yang tertempel disana,

Oke, bahkan judul-judulnya pun gak pernah gw denger.

Kemudian dia menangkap satu kata...bukan, satu frasa lebih tepatnya, dan entah mengapa dia merasa familiar dengannya. Dia berhenti dan memandangnya agak lama, kemudian dia mengambil buku itu dari rak, menimangnya sebentar tanpa ada keinginan bahkan untuk membaca resume di sampulnya.

hmmm...

Pikirannya agak kosong, entah kenapa timbul keinginan untuk membeli buku itu. Kenapa? dia pun tak terlalu tau, seingatnya dia pernah membaca judul ini di suatu tempat, tapi dia tak terlalu ingat.

Rrrrrrr.... Dia merasakan sesuatu bergetar di saku jeansnya, dia mengambil handphonenya disana dan menemukan nama sahabatnya terpampang di layar, dia menekan tombol hijau dan menempelkan handphone itu di telinganya.

Halo? Dia berbicara, sambil duduk di kursi terdekat.

Hoi!!! Pa kabar??? Terdengar suara riang sahabatnya itu dari speaker handphonenya.

Buruk, ada apa?

Ciee bu, galak amat! lagi dimana?

Toko buku.

Waw... udah gak menemukan yang lucu lagi di taman bacaan? ampe niatin diri buat beli buku?

kira-kiranya begitu. Gadis itu berusaha membuat jawabannya singkat, dia sedang malas berbicara dengan siapapun, termasuk dengan sahabatnya itu.

Nemu yang bagus? tanyanya.

hmmm... mungkin.

mungkin? suara sahabatnya itu terdengar bingung.

ada yang gw pikir bakal gw beli, tapi gw gak tau itu bagus atau enggak. Jawab gadis itu ringan.

terus ngapain lu beli?

gak tau, tiba-tiba kepengen. Dia membayangkan di seberang telepon sana sahabatnya pasti memutar bola matanya tak sabar, reaksi langganannya kalau dia merasa ada yang tak wajar terjadi.

terserah deh, apa judulnya?

wuthering heghts.

hening sebentar... Bronte? Kata sahabatnya itu tiba-tiba.

Apa?

pengarangnya... Emily Bronte?

Gadis itu melirik lagi sampul bukunya dan menemukan nama pengarangnya.

iya.

Hening sebentar... kemudian terdengar suara khawatir sahabatnya, lebih tepatnya dibuat-buat seperti khawatir: sayang, gw ingetin ya... terakhir kali lu baca klasik itu Oliver Twist dan lu gak pernah mencapai halaman 7, jadi pliss deh... cari aja yang lain.

Kali ini gadis itu yang memutar bola matanya. Terserah gw mau beli buku apa. Balasnya galak.

Oke, tapi gw cuman ngingetin, daripada lu buang-buang duit kan?!?!

Gadis itu kembali menimang buku di tangannya, menimbang-nimbang.

Lu tau gak ceritanya soal apa? Dia bertanya pada sahabatnya.

Sayang... Sahabatnya itu memulai, Perlu gw ingetin lu kalo satu-satunya novel yang gw baca itu Harry Potter.

Gadis itu kembali memutar bola matanya. Dan cuman satu seri. Dia menambahkan.

Tepat, gak ada enaknya baca ratusan halaman yang isinya cuman tulisan.

Gadis itu membalas malas: Dan yang gw tau lu cuman mau repot-repot baca sesuatu, kalo itu adalah bagian artikel di vogue.

Betul! Balas sahabatnya riang.

Gadis itu menghela nafas panjang. Ya sudah deh.

Emang lu tau judul tu buku dari mana?

Gadis itu berpikir sejenak, kemudian dia melihat pita merah terangkai rapi di salah satu kotak hadiah di pojok ruangan, dia ingat sesuatu.

Eclipse. Jawabnya.

Hah?

Eclipse, novelnya Stephenie Meyer yang kemaren-kemaren gw baca, disana disebutin soal wuthering heights.

oke... terserah deh. eh... kapan ke sini? lu bedua kan udah lama gak jalan bareng kita...

bedua? siapa nih maksudnya?

lu tau siapa yang gw maksud. Jawab sahabatnya tak sabar.

oh, gw putus ama dia. Jawab gadis itu dingin.

Hening sesaat... sori?

gw putus ama dia. gadis itu mengulangi dengan nada yang sama.

APA?!?! PUTUS? LU BECANDA YA??? APAAN NIH??? tiba-tba teriakan sahabatnya menyambar ke telinganya, dia harus menjauhkan handphone dari telinganya agar teriakan sahabatnya tak membuatnya berakhit tuli.

iya, dan gak usah segitu heboh knapa?! balasnya.

HEBOH?!?! OH TUHAN... Tuhanku yang Mahaagung, engkau tahu setengah hidupku yang berharga aku habiskan agar sahabatku yang BEBAL dan GAK SADAR DIRI ini bisa dapet cowok baik yang luarbiasa, tapi SEKARANG! saat semuanya nyaris sempurna, dia bilang ama gw kalo dia PUTUS, MAU LU APA SIH???

setengah hidup? hmmm... cara yang baik bwat ngabisin setengah hidup lu, sekarang gw ngerti kenapa nyokap lu stress mikirin elu. balas gadis itu dingin.

shut up! we're talking about you right now, what it is??? if you trying to play some nasty joke toward me, trust me... you'll regret it!

i'm not joking, and i won't regret anything.

but sweety... sahabatnya itu terdengar sangat frustasi, seolah baru mendengar kabar tentang temannya yang berniat bunuh diri.

hey... gw... Gadis itu berhenti sejenak dan berfikir cepat, memikirkan kata yang tepat untuk berbicara pada sahabatnya itu.

gw tau mungkin lu kecewa, walau gw gak ngerti alasan lu buat kecewa, TAPI... dia sedikit menekan saat didengarnya tanda-tanda sahabatnya akan memotong.

ini udah keputusan gw, jadi sudahlah, gak usah banyak komentar.

keputusan lu? dia gimana? Tanyanya.

Gadis itu menelan ludah, dan menggigit bibirnya seperti berusaha menghilangkan satu ingatan dari kepalanya.

dia keberatan, jelas dia keberatan, tapi buat gw, ini yang harus gw lakukan. Jawab gadis itu.

kenapa? Nada suara sahabatnya itu menggangtung, seperti dia baru saja menahan diri untuk tidak memperpanjang pertanyaannya menjadi 'kenapa lu harus ngambil keputusan bego macam mutusin cowok yang udah luarbiasa cinta ama lu'.

karena... karena gw akan tetap menjadi gw, dan dia... akan selalu jadi dia. Gadis itu mungkin ingin mengatakan hal yang lebih panjang, sesuatu yang mungkin lebih menjelaskan, tetapi dia tak tau bagaimana menuangkannya dengan jelas.

gw gak ngerti. balas sahabatnya.

lu gak harus ngerti.

Hening sekali di ujung sana. Gadis itu tahu sahabatnya pasti menahan diri agar tidak berteriak, menahan diri untuk tidak marah, menahan diri untuk tidak membuat dirinya berpikir lebih... pintar. Tapi dia tau betul bahwa tidak ada yang lebih mengenal dirinya selain sahabatnya itu, dan dia yakin sahabatnya itu tak akan melakukan hal sia-sia macam berteriak-teriak dan marah-marah ketika dia sudah membuat keputusan.

apa yang bisa gw lakukan? tanyanya akhirnya.

doain gw. gadis itu menjawab singkat.

baiklah, walau gw tetap merasa lu bodoh setengah mati! jawabnya akhirnya.

Gadis itu terkekeh ringan. Gw udah terlalu sering lu bilang bodoh.

Tapi kali ini gw serius bilang lu bodoh! Timpal sahabatnya lagi.

Gadis itu diam sejenak, kemudian berkatan, Dan kali ini gw pun merasa gw bodoh... dan cuman itu yang bisa gw bilang.

Sahabatnya kembali terdiam.

Udah ya, gw mau ke kasir dulu. Itu hanya alasan, agar dia dapat segera menghentikan percakapan ini.

yaudah, sampai nanti. Sahabatnya akhirnya menjawab.

makasih ya. Gadis itu berbisik pelan.

banyak hal yang bikin lu harus makasih ama gw! balas sahabatnya.

ya, gw tau... bye... dan gadis itu menekan tombol merah di handphonenya, kemudian mengembalikan handphone itu ke sakunya.

***

Kamarnya masih berpenerangan minimal saat akhirnya gadis itu kembali duduk di meja kerjanya. Hanya sebuah lampu baca kecil yang menyala, dia menyukainya seperti itu. Gadis itu membuka bungkusan belanjaannya dan mengeluarkan buku yang tadi dibelinya. Dia masih belum membaca satu kata pun di buku itu selain judul dan nama pengarangnya. Dia membuka halaman pertama buku itu dan mulai membacanya. Belum sampai satu halaman selesai dibacanya, dia berhenti membaca. Bukan karena bosan, bukan karena dia tak mengerti, tapi karena saat ini matanya tak dapat diapakai membaca. Bulir-bulir besar air mata, jatuh melewati pipi terus ke atas lembaran cokelat halaman buku itu, meninggalkan bercak-bercak besar di atasnya. Mungkin untuk itulah dia membeli buku itu, untuk menampung air matanya, karena sekarang dia kembali tau... dia sendirian.

Tuesday, January 22, 2008

Pratiwi...

Rindu itu satu rasa yang luarbiasa, bisa terasa sangat menyenangkan ataupun sangat menyakitkan, tak pernah terasa biasa saja. Dan bagiku sekarang terasa sangat sakit. Karena rindu ini muncul dari rasa bersalah. Seandainya saat itu ku tak marah padanya...

Jangan mengejekku, pratiwi. Ini sama sekali bukan romansa. Memastikan, hanya itu yang ingin kulakukan. Agar ku tahu benar dia marah padaku, agar kutahu benar dia benci padaku, apapun itu, aku ingin tahu sebenar-benarnya perasaannya padaku.

Pratiwi... aku pernah membunuh sahabatku sekali, kutak ingin melakukannya untuk keduakalinya, ataukah aku sudah melakukannya? Tidak... kuharap tidak...

Aku rindu padanya pratiwi... sangat...

- Trem -

Thursday, January 3, 2008

Saya tahu kamu senang keliaran...
Dan saya tahu duniamu tak sesempit bingkai kacamata saya...

Tapi Trem...
Hujan tak pernah mereda

Kapan kamu akan pulang?

Tuesday, November 20, 2007

rencana

Kafe sudah kosong, begitu pula jalan Braga. Tempat gemerlapan kota ini di masa lampau, sekarang tak lebih dari tempat mangkal beberapa pelacur saat malam tiba. Bikin miris, tapi entah harus dibagaimanakan.

Trem membereskan peralatan di belakang counter. mengelap bercak-bercak susu, kopi ataupun cokelat di atas meja. Mematikan semua peralatan tapi meniggalkan coffee maker dalam keadaan menyala, dia masih butuh secangkir latte untuk malam ini.

Semuanya sudah beres dan latte panasnya pun sudah siap dalam cangkir. Dia mengambil cangkir panas itu dan duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke jalan Braga. Mengingat kembali persoalan semalam lalu yang dia singkirkan jauh-jauh selama siang ini.

---

"kita menikah bulan depan..."

Perkataan Ray itu cukup untuk membuatnya memuntahkan makan malamnya saat itu.

"APA?!" trem berteriak sambil berbalik menghadapi kekasihnya itu. "kamu becanda kan?" tambahnya sambil berusaha nyengir.

Ray hanya mengangkat bahu dan menggeleng. "tidak, saya serius, saya melamar kamu ke ayah kamu siang tadi", katanya lagi.

"APA?!" sekali lagi teriakan itu keluar, kali ini ditambah bunyi gelas yang terguling keras di atas meja, "kamu... ngela...ke ayah saya...?"

Ray hanya mengangguk kecil sambil menyeruput espressonya. Trem bingung untuk menunjukkan reaksi macam apa. Pernikahan....? itu adalah hal terakhir yang akan dipikirkannya saat ini. Dan sekarang ada manusia yang dengan seenaknya megatakan 'bulan depan kita menikah' tanpa ada pemberitahuan sebelumnya sedikitpun, lagipula, dia tak pernah merasa dilamar.

"ya Tuhan ray... apa maksudnya ini?"
"simpel kan, saya melamar kamu ke ayah kamu, dia bilang oke, ya sudah... bulan depan kita menikah, beres" kata Ray.
"oke, tapi saya gak pernah merasa dilamar!"
Ray mengangkat alisnya, "emang perlu ya?"

'tentu saja bodoh! kau mau mengambil hidup seorang wanita tanpa bertanya dulu padanya? ya Tuhan... apa kau dibesarkan simpanse?!'.

" 'emang perlu?', jangan main-main ray kamu bilang mau menikah dengan saya tapi gak pernah tanya saya apa saya mau atau enggak, dan menurut kamu itu wajar?" kata Trem.
"you said you love me, i think that's enough" balas Ray.
"but i never say that i will marry you, no... i mean, not now"

Ray memandang Trem lekat-lekat dan ekspresinya tak banyak berubah dari saat dia berkata 'kita menikah bulan depan'.

"jadi kamu tak mau menikah dengan saya?" katanya lagi.
"bukan itu masalahnya, hanya saja..."
"apa?"
"ini terlalu cepat ray, saya sudah bilang sama kamu kan, saya ingin lulus dulu, ingin kerja... ngumpulin banyak uang, ngebahagiain orang tua saya dan..."
"dan kenapa itu tidak bisa dilakukan setelah kita menikah?" balas Ray.
"karena kamu! suami saya nantinya, kamu akan jadi prioritas pertama saya kalau kita sudah menikah" Trem membalas keras, berharap dapat menembus kekeraskepalaan laki-laki di hadapannya. Ray terlihat berpikir, tapi beberapa saat kemudian dia menggeleng.
"tidak, itu bukan alasan, kamu hanya mengarangnya saja"
"hah... tapi ray..."
"tremi..." nada bicaranya meninggi, Trem diam, "pertama, kalau tentang kelulusan, pernikahan kita sama sekalai tak merubah isi tugas akhir kamu atau bahkan menghancurkannya jadi tak ada kaitannya, kedua, soal uang, saya tak akan pernah melarangmu bekerja meskipun tanpa itu pun saya sudah bisa menghidupi kita berdua dan keluarga kamu lebih dari cukup, ketiga, soal ngebahagiain orangtua, sebaiknya kamu bertanya pada mereka tentang hal yang membuat mereka bahagia, bukan seenaknya menebak-nebak sendiri, cukup?!"
Trem tidak menjawab. Ray kemudian meletakkan cangkirnya, berdiri dan mengambil jas kerjanya yang dia sandarkan di kursi.

"kenapa kamu keras kepala banget sih" timpal Trem. Ray berbalik menatapnya lurus, tatapannya melunak, dia tersenyum.
"karena memang seharusnya begitu jika berurusan dengan kamu tremi" jawabnya.
Trem kembali diam, tak tahu harus membalas apa.
"saya harus balik ke jakarta, kita ketemu lagi besok malam, tunggu disini, entar saya jemput" katanya, Ray menuju pintu keluar dan sudah memegang gagang pintu saat Trem berteriak, "gimana kalo saya nolak?!"
Ray berbalik, "menolak apa?"
"ya...pernikahan ini..." balas Trem takut-takut, dia tak berani memandang wajah Ray.
Ray terus diam, dia menyandar ke pintu dan terus memandang Trem dari sana.
"kalo begitu tremi, kita buat simpel aja..." trem sekarang menoleh ke arahnya, menunggu.
"kita menikah bulan depan.... atau.... tidak sama sekali!" lanjut Ray tenang. Trem melotot mendengar ini. Sedari tadi dia berharap bahwa ini semua hanya becandaan bahwa kekasihnya itu sedang terserang sindrom 'ayo menikah' dan akan sembuh secepatnya, tapi rupanya dia serius, sama sekali tak bercanda. Dia masih memandang Ray tak percaya dan kesalnya, dibalas dengan begitu tenangnya oleh manusia satu itu.

"ketemu lagi besok, hati-hati entar pulangnya, bye", Ray membuka pintu dan melangkah menjauh.

---

Kembali dengan Trem yang sedang melamun dengan ditemani secangkir latte panasnya. Dia melempar pandang ke sudut terjauh jalan Braga, berharap menemukan sepasang lampu berkedip ke arahnya. Si 'tuan' yang sedang ditunggu-tunggu masih belum datang. Dia menghela nafas panjang dan menunduk di atas meja, berbisik pelan...

"Tuhan... dulu saat aku berdoa agar ayahku selalu sehat, Kau malah membuatnya sakit... saat aku berkata bahagia karena kakak yang luarbiasa yang Kau anugerahkan padaku, kemudian Kau buat dia kabur meninggalkan kami... dan sekarang... saat aku berencana untuk menunda satu mimpi dan mengejar mimpi yang lain, Kau malahan mendekatkan yang kutunda dan menjauhkan yang kuinginkan... rencana seperti apa lagi ini Tuhan?"

Trem mengangkat kepalanya, menengok kembali ke arah jalan Braga dan menemukan sepasang lampu mobil mengedip-ngedip sembari mendekat. Mobil Cherokee hitam kemudian muncul menyusul sinar lampunya yang sudah duluan sampai. Dia mendekat dan kemudian parkir di depan kafenya. Pintu di sisi pengemudi terbuka dan seorang pria keluar dari sana, masih mengenakan setelan kantornya walau sudah tak serapih saat pagi hari. Dia menengok ke arah Trem dan tersenyum, Trem balas tersenyum. Dan berharap semoga itu bukan yang terakhir.

Tuesday, October 2, 2007

percakapan tak penting

Harusnya saya belajar siskomsel dan antena, tapi... sudahlah....

Trem : Ray mati!
Pratiwi : oya? kapan? wah kalau begitu apa perlu nih bikin tahlilan?
Trem : pliss deh, bukan mati beneran.
Pratiwi : iya tahu... ilang kemana lagi dia?
Trem : kalau ketauan ilang kemana, bukan ilang namanya!!!
Pratiwi : susah sekali ya punya pacar kayak gitu?
Trem : haaahhhhhhh....
Pratiwi : salah sendiri kau jatuh cinta pada manusia macam itu
Trem : kau pikir aku bisa atur hatiku seenaknya? kalau bisa begitu, aku memilih tak pernah jatuh cinta sekalipun!!
Pratiwi : sudahlah, kau sendiri yang ingin dengan orang seperti itu
Trem : memang. dan sekarang saat kutahu ruang otaknya hanya ada satu, aku sebal. Masa aku harus ikut mengantri untuk masuk pikirannya? bahkan aku pun setara dengan seiren. Haaahhhh.... menyebalkan!!
Pratiwi : Seiren? pacar barunya? wow...bahkan kau membiarkan dirimu diduakan
Trem : bukan diduakan, tapi disejutakan! seiren itu bukan pacar barunya, pacar lamanya, dia husky peliharaan Ray di London
Pratiwi : kau perlu bersaing dengan anjing? segitunya ya?
Trem : tidak hanya dengan anjing, tapi juga mobil, pajak, berkas yang perlu ditandatangani, rencana proyek, desain mesin terbaru, klasemen liga premier sampai pada semut di dapur. bahkan dia tak pernah menganggapku prioritas khusus.
Pratiwi : segitunya?
Trem : sudah kubilang kan? ruang otaknya hanya satu dan gak bisa ditempati dua hal sekaligus, semua hal masuk dan keluarnya bergantian, haaaahhhh...dia itu pintar tapi sangat menyebalkan
Pratiwi : kau sendiri yang membuat hidupmu susah, jatuh cinta pada alien
Trem : aku tak cerita padamu supaya kau bebas mencecarku. jangan ikut-ikutan menyebalkan.
Pratiwi : aku sudah menyebalkan dari lahir. back to the topic, so... where is he right now?
Trem : hanya Tuhan yang tahu, yang jelas, kalaupun ada yang bilang dia mati, aku tak butuh liat mayatnya untuk percaya hal itu
Pratiwi : jangan sembarangan bicara, seperti kau tidak akan menyusul ke neraka kalau dia mati
Trem : eh jangan sembarangan ya, mungkin aku menyusulnya mati, tapi tidak ke neraka, ke surga. Hidupku sudah susah, dan setelah mati masih harus ke neraka? malas sekali.
Pratiwi : Sudahlah, aku mengantuk...tidak...aku harus belajar, besok ada kuis
Trem : dasar sok, jangan bangga ketika hidupmu dikendalikan oleh selembar kertas bertuliskan pertanyaan dari buku teks, seolah saat itu tak terjawab kau akan mati saja
Pratiwi : setidaknya aku tak cukup menganggur untuk mengganggu pikiran orang lain dengan curhatan sampah tentang pacarnya ;P
Trem : Talk to my hands pratiwi!!
Pratiwi : no, i talk with the monitor right now. hehehe... just go to sleep, don't bother me with that not-worthy thing. my head is already full.
Trem : oh common... kasihanilah aku, kau ingin buatku hancur apa? pada siapa lagi coba aku bisa cerita.
Pratiwi : talk to your hands!
Trem :aaaaarrrrgggghhhh... back to your room and study! kau tak membuatku lebih baik
Pratiwi : syukurlah, jadi kau tak perlu repot-repot lagi bicara denganku
Trem : oh, shut up pratiwi, bukankah kau sendiri sedang kasmaran? karena itu kan kau tidak konsen dengan kertas materi kuliahmu itu? tambahan... sangat tergila-gila lagu cinta, sejak kapan kau mendengarkan boyband? apa dir en grey sudah disband?
Pratiwi : just talk to your hands, Tremi!
Trem : hahaha... setidaknya aku jatuh cinta pada manusia lain, bukan pada....
Pratiwi : minggat sana! gw mau belajar! dadah...
Trem : susah ya jadi kau
Pratiwi : tidak, justru sangat menantang!

Memang harus kembali belajar siskomsel dan antena!

Sunday, September 16, 2007

Kiriman

To : Pratiwi
From : Trem
Subject : Kiriman

Apa kabar? masih hidup?

hmmm...Aku sedang menganggur luar biasa, bisa kasih kerjaan gak? lebih bagus kalau gajinya besar, tapi kecil juga gak apa, yang penting aku tak menganggur. kau tau sekali, jadi pengangguran adalah mimpi paling buruk bagiku, berasa mati.

Ray baru mengirim email kemarin, dia ada di Venice, menghabiskan satu minggu liburan berharganya. Dia mengirim email karena katanya dia liat satu kalung berbandul bulan purnama disana. Membuatnya tertawa karena mengingatmu. Aneh, biasanya purnama cuman hidup di tataran kata-kata, tapi kali ini dia dirupakan, satu kesempatan yang biasanya cuman dirasakan oleh bulan sabit --yang lagi ketawa atau ada anak kecil duduk sambil mancing di atasnya...Dreamworks salah satu tersangka untuk ini--

Bandul itu benar-benar dapat disebut purnama, jauh dari matahari atau hanya sekedar bulatan biasa. Padahal biasanya purnama hanya dapat dikenali saat dia ada di langit bukan?! Setidaknya itu yang aku dengar dari kau, dan karena itulah kau menyebut dirimu purnama, bukan?

Ray bilang gini "bilangin ama saudara gila lu itu, dia gak cuman bisa muncul karena matahari, ada orang yang bisa tetap mengenali dia meski dia gak punya sinar, bahkan bisa merupakan dia saat sedang redup, hahaha...buang jauh matahari itu kawan, bintang hanya sekumpulan makhluk pongah, kau tak butuh mereka"

Sangat Ray bukan?! sinis! dan karena itulah aku cinta dia. Untuk masalah bintang, aku tak setuju dengannya. Okelah bintang itu pongah, tapi kau tak bisa bilang kita tak butuh mereka bukan? bahkan ray adalah bintang untukku, dia matahari.

Ya begitulah, hanya sekedar ingin menambah sampah di kepenatan kepalamu. Partisimu mengendur, coba perkuat lagi, kau bisa gila kalau terus begitu.

Dan satu hal lagi, aku dengar kau kembali sendiri, benarkah?

hahaha...welcome back to the club!!! bukankah aku sudah bilang padamu, kau lebih manusiawi saat sendirian, setidaknya sebelum mataharimu datang, nikmatilah itu.

Begitulah, semoga kau tak menjadi gila karena email ini, aku juga gila kalau kau gila, sebagaimana aku hidup karena kau hidup. Dunia sini sedang membosankan, jadi bersyukurlah setidaknya kau bermain drama disana, meski dengan cerita menyebalkan.

Sampai ketemu lagi!

-- Tremi A. Iskandar --

Wednesday, July 18, 2007

Desire

Aku masih ingat kali pertama kita bertemu. Saat tempat ini masih berupa reruntuhan masa lalu. Saat orang-orang melihatku sebagai bagian dari lonte pinggiran jalan sana dan saat mereka berusaha membuatmu menjauh.
Yesterday I found my self alone
In the dark and no one else
Then you came to me at night
And said "don't worry it's alright"
Dari sekian banyak manusia yang ada, entah kenapa kau muncul begitu saja. Tak ada kata pengantar atau mungkin sekedar komentar kedatangan pendek. Hanya satu kemunculan, pasti dan tak bisa kutolak. Aku tahu, puluhan penghuni tempat ini tak menyukaimu saat kau datang, tapi seperti hal nya aku, mereka terhisap auramu. Entah bagaimana, kau melebur begitu saja.

Kali kemarin aku datang, melihatmu sendirian di pojok teater sana, merokok dan memainkan lagu tua dari gitar usangmu, tak tau lagu apa. Kali berikutnya saat kudatang, kau tetap di pojok teater sana, dengan gitarmu tapi tidak sendirian. Segerombol manusia, yang kutahu pernah mengusirmu, yang kutahu tidak suka padamu, sekarang duduk sama rendahnya denganmu. Sama seperti halnya aku, mereka mendengar setiap katamu. Tanpa protes, tanpa komentar. Hanya mendengar dan berpikir, seolah setiap kata yang kau ucap adalah fakta pasti yang tidak dapat dibantah. Aku melihatnya, dan aku cemburu.
I want you to hold me in your soul
It makes me easy
Makes me fine
But how that dream will be come true
Will it be tomorrow, I don't know
Kau menghilang secepat kau datang. Aku datang kembali ke tempat itu, berharap melihatmu di pojok teater sana, sendiri atau mungkin dengan orang lain, tapi kau tak disana. Hanya gitar usangmu yang tertinggal, dan setumpuk kaset tua tak kukenal bertuliskan Stevie Ray Vaughn.

Siapa yang peduli dengan gitar usang itu, siapa yang peduli dengan kaset belasan tahun lalu itu. Aku hanya peduli denganmu. Muncullah kembali disana, di pojok teater itu. Agar aku bisa mendengarmu bernyanyi atau hanya sekedar melihatmu tertidur, sampai aku mati.
I can't say anything
or bring you something
I hope you can feel this
My desire...
[Pure Saturday-desire]

Tuesday, July 10, 2007

Braga ,29 Februari 2004

Trotoar depan Caesar Palace, Braga.

Trem duduk disana, sendirian, dengan sebatang rokok menyala diselipkan di bibir dan earphone di telinga, terhubung dengan walkman yang sedang berputar. Dia melihat ke arah percikan api las yang bersinar tak jauh dari tempatnya, kompleks pembangunan Braga CitiWalk. Katanya tempat itu akan menjadi pusat perbelanjaan, bioskop dan hotel sekaligus apartemen. Ya, persetan akan jadi apa tempat itu, Trem punya impian lain. Dengan dibangunnya pencakar langit di tanah Braga, dia akan bisa mendekati angkasa tanpa harus meninggalkan Braga. Trem memang selalu menyukai ketinggian, dia sangat menikmati angin membuainya di atas sana. Bahkan dia pernah memikirkan untuk mati dengan melompat dari atap gedung tinggi. Bayangkan, kali akhir sebelum kau mati, kau melihat pemandangan yang paling kau cintai, kau melompat, semua menghilang menjadi gelap dan saat matamu terbuka kau melihat akhirat, tempat yang tak pernah kau pikirkan akan bagaimana bentuknya.

Aku memandang langit dan berharap kau ada disana
sedang terbang atau sekedar melayang
Lihatlah disini, di sampingku
ke tempat dimana mimpi kita akan berawal
tak usah pergi begitu cepat
aku pun menunda matiku agar bertemu denganmu

[pergelangan tanganku pernah teriris
sisi leherku pernah tertoreh
aku tak mati]

Tuhan masih membiarkanku melihatmu
berangan tentang masa depan yang tinggi dan menggoda
kembalilah kemari
duduk di sampingku
kita bangun menara ke nirwana
hanya untuk kau dan aku

Trem duduk disana. Menghabiskan batang rokok terakhir yang dimilikinya hari itu. Membuka walkman dan membalik kaset Stevie Ray Vaughn yang sedari tadi berputar disana. Kaset yang tak pernah dia tau judul albumnya, tak pernah dia tahu judul setiap lagu yang ada di dalamnya, dan tak pernah dia benar-benar sukai musiknya. Dia hanya tau dia harus mendengarkannya. Mendengarkan dan menunggu, sebuah tangan yang sangat dikenalnya muncul dan mengambil sebelah earphonenya, memasangkannya pada telinga yang juga sangat dia kenal. Si empunya tangan dan telinga akan duduk di sampingnya, sambil tersenyum dan berkata...

"ah...stevie ray...gw suka dia..."

Tuesday, July 3, 2007

Trem : she's my sister!!!

Pintar, berprestasi, cukup populer, masih muda dan ada di keluarga yang berkecukupan. Betapa hidup terlihat sempurna untuk Trem. Dia selalu mendapat beasiswa setiap tahun dari mulai SD sampai SMP, dia lulus seleksi masuk kelas akselerasi saat SMA dan berhasil lulus SMA dengan predikat memuaskan hanya dalam waktu 2 tahun, dia berhasil lolos SPMB dan diterima di jurusan yang ngedenger namanya aja bikin orang pada males sekolah, dia aktif di berbagai organisasi, dikenal vokal dan gak tanggung2 kalo nge-kritik orang, pengetahuan luas, background oke, apa yang kurang dari hidupnya???

Semua orang mungkin berpikir begitu saat pertama kali melihat Trem, dan Trem sendiri akan selalu berpikir seperti itu seandainya kakak perempuannya Isma gak pernah dilahirkan.

Isma kakak perempuan Trem, hanya terpaut 1.5 tahun dengannya, punya masalah keterbelakangan mental, IQ-nya dibawah orang normal pada umumnya, akibatnya Isma gak pernah bisa dewasa. Dari mulai sikap, sifat, tingkat intelegensia, emosi dan kedewasaan semua sama kayak anak kecil. Hanya tubuhnya yang tumbuh normal seperti orang pada umumnya, yang lainnya tumbuh lebih lambat atau mungkin tidak pernah mengalami perkembangan dari mulai usianya 10 tahun.

Dari kecil Trem selalu diingatkan oleh ayahnya untuk menjaga Isma, "jagain Isma, kalo bukan kamu yang jagain Isma siapa lagi yang bakal jaga?? orang lain mah gak akan ngerti Isma kayak apa!" Itulah kalimat yang selalu dilontarkan Ayahnya. Dan Trem selalu berpikir kebalikannya,"gak usah jauh2 ke orang lain, gw juga gak ngerti ama dia!! kenapa musti gw yang jagain dia?? yang adeknya kan gw, kenapa sih Allah ngasih gw kakak kayak Isma??".

Dan semuanya gak pernah berjalan seperti yang diharapkan Ayah Trem. Dari kecil Trem gak pernah mau ngalah ama Isma, dia ngerasa dia lebih baik maka dia harus mendapat lebih pula. Dia malas untuk berpikir bahwa Isma gak mungkin bisa ngimbangin dia, bahwa dia lah yang seharusnya sadar tentang keadaan Isma lebih dari siapapun. Yang dia tahu dia lebih segalanya dari Isma, dan sebenarnya Isma cuman ganggu hidupnya yang sempurna!!!


Tapi Allah memang Mahaadil. Masuk kuliah Trem dikasih liat apa dunia itu sesungguhnya. Dunia ini gak sebatas apa yang ada di kepala, gak cuman sebatas sejauh mata melihat, ada hal-hal yang mungkin gak bisa dilihat atau dipikir tapi bisa dirasakan. Trem gak punya temen. Bukan karena dia menyebalkan, tapi karena dia memang tak bisa sosialisasi. Selama ini hubungan sosialnya dengan orang lain selalu tertolong dengan keberadaannya sebagai "yang terhebat" atau "yang lebih" daripada yang lain. Tapi tidak begitu di Universitas ini. Kalau digolongkan dengan mahasiswa lain, dia tak lebih dari orang biasa saja, gak terlalu istimewa, cuman sekedar mahasiswa pada umumnya.


Trem frustasi, belum pernah sekalipun dia ngerasain yang namanya dianggap biasa ama orang, dianggap gak terlalu istimewa. Dia belum pernah merasakan tidak menjadi pusat perhatian ketika ngobrol, atau menjadi orang yang tidak dimintai pertolongan ketika ada pelajaran yang susah dimengerti, dia belum pernah pernah berada dalam kondisi mendengarkan orang lain bukan didengarkan orang lain. Intinya dia setengah gila memikirkan bahwa sekarang ini dia bukan siapa-siapa.

Keadaan sebaliknya terjadi pada Isma. Isma mungkin gak bisa pinter, isma mungkin gak kuliah tinggi, tapi semua orang suka ama Isma. Dimana ada Isma pasti ada orang ketawa, dimana ada Isma pasti ada suasana ceria. Kalo di rumah gak ada Trem, ayahnya selalu bilang "kenapa gak ada yang marah-marah ini teh?" , tapi kalo di rumah gak ada Isma ayahnya bilang "sepi nya, kamarana barudak teh?"(bahasa sunda, red: sepi ya, pada kemana anak-anak teh?) padahal hanya satu anaknya yang menghilang.

Trem mungkin luarbiasa kalau dilihat dari isi kepalanya, tapi Isma sangat luar biasa kalau dilihat dari isi hatinya. Dia punya kepekaan sosial yang lebih besar kalau dibanding dengan Trem yang "dingin-dingin" aja. Kalo ada nenek yang jatuh di jalan pasti Isma duluan yang bantuin sebelum akhirnya Trem nyadar dan ikut bantuin, kalo ada yang meninggal pasti Isma duluan yang dateng ke keluarganya dan ngucapin belasungkawa (meskipun dengan nada dan sikap anak2) sebelum akhirnya Trem nyusul untuk bilang belasungkawa juga. Trem mungkin jadi anak kebanggaan karena prestasinya selama ini, tapi saat dia bukan apa-apa dia gak terlalu keliatan istimewa. Isma selalu jadi anak yang disayang karena ke-supel-annya, dia mungkin gak punya masa depan seperti gadis normal pada umumnya, tapi semua orang tetap sayang sama dia.

Trem terus sadar, kalo dia sama sekali gak lebih baik dari Isma. Dia mungkin lebih pinter, tapi dia gak supel kayak Isma. Trem gak punya temen deket, tapi temennya isma tersebar di berbagai tempat dengan berbagai usia, orang-orang yang mungkin bermula dari simpati kepadanya kemudian berubah menjadi sayang.

Trem jadi ingat hubungan kakak beradik Watti-Elektra dari buku supernova-petir yang kemarin dibacanya...

Watti selalu butuh elektra, karena kalau ada elektra dia punya pembanding kalau dia lebih cantik. Dan meskipun elektra gak cantik, dia akan tetap terlihat luarbiasa karena apa yang telah dia lakukan.

mungkin itu juga yang terjadi pada Trem dan Isma. Trem butuh Isma karena keberadaan Isma membuatnya merasa bahwa dia punya harga lebih. Tapi Allah menempatkan Isma disisi Trem, karena Isma bisa mengingatkannya pada satu hal berharga yang tidak dia punyai. Sesuatu yang membuat harga manusia lebih dari sekedar kelihatannya, sesuatu yang terbungkus jauh di dalam jiwa manusia, segumpal darah yang hidup karena ruh, sesuatu bernama hati.


-- Terinspirasi karena tulisan menyegarkan Sitta Karina, thanx berat, tidak menyesal nyasar kesana ^^ --

Saturday, June 16, 2007

Kesendirian Trem...

Di tengah hiruk pikuknya Jakarta. Di pojok satu cafe dengan AC yang begitu dingin, dengan begitu banyak orang yang sibuk dengan begitu banyak urusan, Trem duduk sendiri di depan laptopnya, kedinginan, kesepian. Dia sedang marah dan sangat terluka.

ah...cafe latte-nya datang, ditemani dengan sepiring croissant. Waiter itu hanya menaruhnya begitu saja di atas meja dan tidak mengatakan apa-apa. Trem sedikit kesal, apa karena dia sendirian atau karena dia hanya memakai jeans belel di tengah orang-orang penting yang memakai jas Armani dan orang-orang yang menenteng tas Gucci, makanya dia diperlakukan seperti itu??? Geez...money...it's not just give value to a thing, it's also value a human...

Dia kembali teringat tentang percakapan teleponnya kemarin lusa, dengan seorang teman, yang sampai 2 bulan yang lalu masih dia anggap teman baik, dan sekarang statusnya turun menjadi "hanya sekedar kenal". Percakapan itu sebenarnya sangat dia harapkan, berhubung sudah berbulan-bulan dia berusaha menghubungi orang itu, tetap saja tidak bisa dihubungi, tetapi ternyata sekalinya dia dapat dihubungi, Trem hanya sanggup mengatakan satu kalimat singkat...

"kenapa gw nelpon gak pernah diangkat???" dan dijawab dengan sangat tidak singkat.
"maafin gw, kemarin gw sibuk jadinya...bla...bla...bla...", Trem tak ingat lanjutannya, telinganya berdengung saat itu. Dia menolak semua informasi yang masuk ke otaknya, dia menutup semua indranya, yang dia pikirkan hanya satu hal..."kalau ni manusia bisa ngomong segini banyaknya saat gw telpon, kenapa dia gak pernah mau ngangat telpon gw??? gw pikir dia gak mau ngangkat karena dia gak bisa ngomong..."

dia tak mau memperpanjang percakapan, dia hanya memotong omongan temannya dengan-- kembali-- satu kalimat singkat...
"sorry, gw gak punya duit, mahal nelpon dari jakarta ke bandung..."

dan dia memutus hubungan telpon. Marah, itulah yang dia rasakan. Seorang teman yang dia anggap berharga, seorang teman yang begitu dia percaya, dan seorang teman yang akhirnya membuatnya kecewa...

"ternyata uang begitu menakutkan..." itulah yang kemudian dipikirkannya. Hanya dengan 700ribu rupiah, seorang teman rela meninggalkannya, seorang teman tidak percaya lagi padanya dan seorang teman telah dibuang jauh dari hatinya...hanya karena 700 ribu rupiah...

Teman itu adalah seorang teman lama, teman yang dikenal dari SMP terus bersama sampai SMA. Teman yang kemudian menjadi mitra bisnis untuk sekedar senang-senang dan sok ber-"interpreneurship". Dan betapa Trem menyesali keputusannya untuk membuat usaha itu.

Mungkin awalnya dia bahagia, bisa beli MP3 player baru, sepatu baru, baju baru dan selusin J.Co untuk satu keluarga setiap bulan dari uang hasil jerih payahnya sendiri. Huh...she's start to love money. Tapi dia menyesal, karena ternyata dia kehilangan seorang teman karenanya.

Hanya karena seorang pelanggan yang lari tanpa membayar, seorang pelanggan yang dibawa temannya. Seorang pelanggan yang berhutang 700ribu rupiah dan temannya jadi takut untuk bertemu dengannya, takut untuk menerima telponnya dan takut untuk sekedar memberinya kabar.

Trem hanya bisa tersenyum. "jadi harga pertemanannya dengan gw cuman 700rebu??? ....murah amat, kenapa gak gw mahalin jadi 1 milyar aja ya...biar setidaknya sedikit keliatan berharga...keliatan mahal..."

Dia tak menangis. Tidak ada air mata...hanya hati yang terluka dan semakin beku. Dan prasangka buruk yang kembali muncul di kepalanya...
"temen yang gw kenal lama, kenal deket, tau banget gw aja bisa kayak gitu ama gw...bisa segitu ngecewain gw gara-gara hal gak penting, gimana ama orang yang langsung ngaku temen gw cuman gara-gara tau nama gw doang??? mungkin mereka bakal lebih ngecewain gw lagi..."

Dia kembali tersenyum, dan ingat kesendiriannya selama beberapa minggu terakhir.
"ya, mereka juga sangat mengecewakan..."

Trem pun kembali menghirup cafe latte nya...dia mengambil satu kesimpulan...

"gw emang gak boleh percaya sama siapa-siapa!!"

Trem menghirup cafe latte nya untuk terakhir kali, menutup laptopnya dan berjalan keluar dari cafe tersebut. Langsung menuju halte busway terdekat yang akan membawanya kembali pulang, kembali pada kesendiriannya.

Sunday, May 20, 2007

A medium cup of starbucks regular cafe latte

Sabtu malam, trem jalan-jalan di BIP. Awalnya makan di A&W terus pas balik dia disuruh beli obat buat papahnya. Oke, akhirnya dia berpisah dengan teman makannya dan berjalan ke pintu depan BIP. Setelah mengisi ulang dompetnya di ATM BNI terdekat dia udah siap naik angkot apapun yang bisa membawanya ke jalan wastukencana, tapi dia masih belum tau angkot apa itu. Trem lagi mikir dan mengingat2 semua jalur angkot yang lewat depan BIP dan masih belum inget angkot apa yang kira2 lewat wastukencana. Frustasi, dia berbalik bermaksud nanya satpam. Tapi yang pertama kali dia liat bukan satpam malahan sesosok cewek mirip kuntilanak yang rambutnya panjang dengan bintang di atas kepalanya. Lambang starbucks. Mendadak dia lupa kalo dia musti nanya satpam.

Trem kembali masuk ke lobi depan BIP dan sempet nubruk ibu2 dulu sebelum akhirnya melangkah masuk ke kedai kopi yang majang gambar kuntilanak itu. Tempatnya enak ya...
Di konter, Trem sedikit kecewa karena barista yang lagi tugas itu cewek. Padahal dia inget banget ada satu barista cowok di starbucks BIP yang lumayan keren buat diliat (entah kalo dikenal atau diajak ngobrol mah!!!), ya tapi tak apalah, toh dia mau pesen kopi.

"reguler cafe latte panas satu!!" dia nyebutin pesanan standarnya yang bakal sama bunyinya meski dia dateng ke kedai kopi manapun di seluruh dunia. Persetan meskipun ada yang namanya hazelnut cafe latte, vanilla latte atau caramel latte, buat Trem kopi itu adalah reguler cafe latte panas, titik!!

Dan...jawaban dari barista manapun pasti sama: "gak nyoba yang lain mbak, kita ada hazelnut latte atau caramel latte?"

dan Trem akan menggeleng dan mengulang kembali pesanannya : "reguler cafe latte panas mbak!!"

Dan si mbak barista pun akhirnya mengerti bahwa Trem cuman pengen reguler cafe latte. Dia senyum dan akhirnya bilang "oke, reguler cafe latte panas satu, ukuran apa?"

Nah lho??? Trem bingung, dia lupa gelas paling kecil itu disebutnya apa ya?? dia ngelirik menu dan terkutuklah menu itu ditulis pake kapur , penerangan tu starbucks remang2 dan matanya trem lagi dalam keadaan kabur gak bisa liat jelas. Ah Tuhan, mau minum kopi kok repot.

"yang medium aja mbak", dia mengasumsikan bahwa cup mediumnya starbucks itu sama gedenya ama cup medium rootbeernya A&W.

"janjian ama orang?" tanya si mbak barista sambil nakar kopi.
"oh gak, lagi nunggu dijemput!" jawab trem.

Lalu dia sadar, kalo dia lagi gak nunggu jemput, cuman akhir2 ini dia suka latah ngomong kata "dijemput" kalo hari udah malem dan dia mau pulang dan ada orang yang nanya dia lagi ngapain atau pulang ama siapa, kayaknya orang2 bahagia banget kalo tau dia pulangnya di jemput. Trem juga seneng pulang dijemput, soalnya abangnya yang meskipun gak sebagus temen2 cowoknya yang lain tetep keliatan sebagai cowok yang paling bertanggung jawab sedunia karena mau ngejemput adeknya ini meski semalem apapun dia pulang.

Back to the conversation with mbak barista....
"abis nonton?" katanya.
"gak abis makan di atas" jawab trem.
"sendiri?" katanya bingung.
"gak lah, ama temen, udah balik duluan temennya" jawab trem, emang kalo sendiri kenapa?.
"kok temennya gak bareng pulangnya?" tanyanya.
"ya soalnya aku dijemput", LAGI?? taruhan berapa kali dia ngomong kata itu malem ini!!
"dijemput pacar?" tanyanya lagi.
"gak, kakak!!", pliss deh trem lu kan gak dijemput.
"pacarnya kemana?" tanyanya lagi sambil nuang cafe latte itu ke cup. Trem sedikit freeze, cup medium itu gede rupanya, dasar goblok.
"udah mati" dia ngomong reflek.
"hah?" si mbak barista kaget tuh.
"eh gak, gak ada pacar maksudnya" trem buru2 ngeralat.
"putusnya gak baek ya?" tanyanya lagi. Buset deh ni barista, cerewet banget sih.
"gak, belum jadian aja udah selingkuh apalagi kalo jadian" jawab trem.
"mana bisa dibilang selingkuh kalo belum jadian?" tanya si mbak lagi. Trem cuman senyum,
"bukan gitu, maksudnya gw suka ama cowok yang kayaknya gampang banget suka ama cewek lain padahal di mulutnya ngomong udah komitmen ama cewek lain, nah selingkuh bukan tuh?!" kata Trem.
"komitmennya ma kamu?" dia nyodorin cup kopi itu ke trem. Trem nyengir,
"thank god, that's not me, gak jadi orang itu aja gw udah nyaris mati gara2 sakit hati apalagi kalo gw jadi orang itu". Trem ngambil dua sachet gula putih dan pengaduk terus balik ke konter.
Starbucks lagi sepi, jadi dia nyantei aja ngobrol ama si mbak barista. "tapi kayaknya masih suka ya???" katanya lagi. Ni orang suka nebak yang gak-gak deh.
"iya gitu?" jawab Trem. Si mbak barista terus senyum.
"masalahnya ada orang yang meskipun di dunia ini ada hazelnut latte atau caramel latte dan ada latte manapun yang menurut orang lebih enak, dia tetep aja keukeuh pesen cafe latte reguler", si mbak barista itu senyum sabil nopang dagu ngeliatin Trem. Trem pengen ngakak ngedengernya, ni barista sok tau atau emang tau sih.
"emang salah ya??" tanya Trem lagi. Si mbak barista ngegeleng,
"gak sih, cuman menarik aja kan? kalo di sekeliling kamu ada ribuan manusia yang lebih baik tapi kamu gak bisa ngeliat mereka cuman gara2 keukeuh ama satu orang" katanya.

Trem nyengir sambil ngangkat alisnya. "ya gw juga mikir gitu mbak, tapi... ternyata yang gw mau itu dia gimana dong?" Trem menyeruput sedikit cafe latte panasnya.
"terus, apa dia yang kamu butuh?" tanyanya.
"gw gak tau yang gw butuh tuh..." balas Trem.
"kalo gitu mendingan kamu cari dulu apa yang kamu butuh, karena siapa tau ternyata kamu butuhnya itu susu bukan cafe latte" katanya.
Trem ketawa sekarang, "plis deh mbak, mbak kan kerja di kedai kopi kok nyuruh orang gak minum kopi??".
"aku gak nyuruh supaya gak minum kopi kok, kopi itu tetep minuman paling menyenagkan buat diminum, tapi aku cuman bilang, mungkin aja kamu butuh susu bukan kopi meskipun kamu pengennya kopi" katanya lagi sambil senyum.

Trem ngeliat si mbak barista itu lagi, menyeruput kopinya sedikit dan senyum. "enak nih mbak, makasih ya" dia terus melangkah pergi.
"hey!" si mbak barista itu manggil lagi, trem berbalik. "jangan takut minum kopi kalo kamu emang pengen kopi, tapi mendingan kamu minum susu kalo kamu emang butuh susu, yang kamu pengen belum tentu bagus buat kamu kan?!" katanya lagi.

Trem cuman ketawa, "makasih deh mbak".
"kesini lagi ya..." katanya.

Trem hanya tersenyum...

...entar deh, kalo gw emang lagi butuh kopi dan emang pengen kopi...

...juga kalo dompet gw lagi cukup buat masuk starbucks.


Dan kemudian Trem teringat sesuatu...
...jadi ke wastukencana naik angkot apa???