Friday, July 27, 2007

Stress Reduction



Sepertinya gw butuh nempel beginian di dinding kamar gw

NB : Foto diambil dari satu poster yang ditempel di dinding kantor Indosat, Wisma Antara lt.11 pake handphone punya ayu.

Monday, July 23, 2007

pemalas...pemalas...

Betapa sulitnya hidup ketika kemalasan melanda...dan itu yang terjadi saat ini...

KP beres 5 hari lagi...laporan belum beres...dan masih bingung cari bahan tambahan...

di tengah segala kemalasan yang melanda, tibalah email dari seorang teman berisi attachment dari format pdf Harry Potter and the Deathly Hallow...jadinya....membaca sajalah kita... ^____^

pesan buat Harry Potter : Pliss deh...nama Albus Severus Potter itu gak enak buat di pronounce

Jalan raya, pasar dan tempat parkir...

SEBAL!!! Jam sebelas malam dan saya baru sampai ke rumah. Badan pegal, kepala pening dan perut tidak enak. Baru saja saya terjebak kemacetan selama dua jam di jalan surapati depan lapangan gasibu bandung, HANYA DI DEPAN LAPANGAN GASIBU!! Ini kemacetan paling menjengkelkan sepanjang sejarah kemacetan yang saya alami. Bayangkan, bahkan motor yang biasanya bisa menyelip di celah antar mobil pun sekarang terpaksa mematikan mesinnya karena sudah lebih dari satu jam tak bergerak sama sekali. SAMA SEKALI, not even an inch, luar biasa.

Jalan Surapati memang termasuk jalan yang lebar jika dibandingkan dengan jalan lainnya di bandung. Tapi tetap saja tak cukup besar untuk menampung trafik ratusan kendaraan dari berbagai jurusan. Mungkin akan lebih bagus kalau jalan ini selebar jalan Thamrin di Jakarta, tapi sayangnya tak ada lahan lagi untuk melebarkan jalan.

Sewaktu saya kelas 2 SMP, pemkot Bandung telah berbaik hati melebarkan jalan surapati dengan membabad habis semua pohon besar sepanjang jalan dan mempersempit area trotoar untuk pejalan kaki. Ternyata mereka lebih suka memfasilitasi warganya untuk membuang polusi sebanyak mungkin lewat memadati jalan dengan kendaraan, daripada melestarikan pepohonan hijau besar yang bisa membuat polusi di kota berkurang atau menyuruh warganya untuk lebih mencintai berjalan kaki dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.

Dan ternyata, pelebaran jalan itu tak berarti sama sekali. Karena jalan semakin lebar, tetapi kendaraan yang memadatinya pun jauh bertambah banyak. Maka tak gunalah kau melebarkan jalan, macet itu tetap tercipta meski tak ada si komo yang lewat.

Belum lagi lapangan Gasibu. Saya selalu merasa keramaian yang dibuat di gasibu membawa malapetaka bagi trafik lalu lintas di jalan surapati. Tak sadarkah bahwa di ujung jalan surapati itu ada jembatan layang pasupati??? dan apa kabarnya jika ujung jalan layang itu diblokir oleh puluhan kendaraan yang sepertinya terpaksa "parkir" disana. Para pengguna jembatan pasupati pasti terjebak total di atas jembatan itu tanpa tahu kapan bisa keluar dari sana. Bagaimana jika tiba-tiba ada Ibu yang akan melahirkan terjebak disana? apakah dia harus melahirkan di tengah jalan raya yang macet? atau dia harus dilempar dari atas jalan layang ke jalan di bawahnya kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat??

Lapangan gasibu memang strategis sebagai arena pertunjukan hiburan untuk rakyat, tapi sama sekali tak ada sarana pendukung yang baik untuk para pengunjungnya. Menurut saya daripada pemkot menghabiskan banyak uang untuk membangun Monumen perjuangan Rakyat Jawa Barat dan beberapa taman indah di depan lapangan Gasibu, akan lebih baik jika mereka membuat lapangan parkir superluas dan arena khusus PKL disana. Karena setiap hari sabtu minggu, jalan surapati di depan gasibu mendadak berubah fungsi dari jalan raya utama menjadi pasar kaget sekaligus tempat parkir, alhasil seluruh trafik menuju jalan P.H.H Mustafa dan menuju jalan dago di arah sebaliknya terblokir. Dan monumen megah itu tak bisa melenyapkan kemacetan yang ada disana.

Jika Bandung memang sudah menentukan visi untuk menjadi kota wisata belanja seperti singapura, mungkin sudah saatnya pula pemkot bandung memikirkan untuk membuat sistem lalulintas yang efektif dan membangun infrastruktur penunjang yang bisa mengurangi efek negatif akibat lonjakan pengunjung pada hari libur. Karena titel 'Kota Belanja' saja tak lantas membuat kota ini menjadi lebih teratur. Sudah saatnya kita semua sadar akan konsekuensi dari sebuah keuntungan.

Bandung, 21 Juli 2007

nb : ini postingan pertama dimana kata 'gw' diganti menjadi 'saya', usulan dari seorang teman via japri, yup mari kita coba.

Thursday, July 19, 2007

Miyavi...oh...Miyavi...

Baru dapet 3 album Miyavi yang gak baru...Gagaku,miyavizm, Miyaviuta~Dokusou~. Emang gak pernah punya album Miyavi dan sebelumnya gak pernah tertarik. Gara-gara first impession gw ama miyavi gak terlalu bagus.

Pertama liat dia di video Beautyfools (lupa tahun berapa)...dimana dia maen ama Daigo*Stardust dan solo sendiri. Masalahnya, setiap kemunculan cowok bengal satu ini selalu diiringi ama teriakan fangirls yang memekakkan telinga, padahal mah suaranya biasa aja, siapa yang gak ilfil???

Tapi dengan segala kelebihan koneksi internet yang dianugerahkan padaku selama masa KP ini, dengan iseng mendonlotlah aku tiga album di atas. Dan entah kenapa gw jadi suka...suaranya biasa aja sih, gak ada istimewanya, tapi maen gitarnya itu, jago!!! Dan musiknya lucu-lucu...waduh bahaya nih...gw emang selalu gak tahan ama cowok keren, rada bengal, yang jago maen gitar...kayak kasusnya Die-Diru lah...

Wednesday, July 18, 2007

Kangen 4 peniti

Lagi iseng browsing, di multiply akhirnya menemukan beberapa lagu Pure Saturday yang sempat hilang bersamaan dengan rusaknya CPU komputer di rumah. Mampus!!! Gak cuman ratusan mp3, ber-giga-giga data pun hilang gak tentu arah. Masih belum jelas kabarnya, untung pas beli laptop, data-data kuliah langsung di back up ke laptop. Jadi inget kalimat di novel Supernova-Petir nya Dee.

"...kehilangan dokumen merupakan mimpi paling buruk yang bisa dibayangkan Dhimas. Seperti kehilangan kepala rasanya..."

Yup. Untung udah di back up jadi rasanya kayak dicekek doang, gak langsung kayak gak punya kepala ^^. Tapi mp3 tetap saja raib dari peredaran. Setelah dapet Pure Saturday, langsung inget ama 4 Peniti. Satu band yang ceunah (katanya, red) mah genre-nya blues, gw mah gak bisa bedain. Tapi yang pasti gw suka banget ama lagu-lagu mereka.

Inget, lebaran tahun lalu gw mudik ke Sumedang naek motor ama aa Guna, kakak gw. Sepanjang 1 1/2 jam di jalan ngedengerin lagu-lagunya mereka di mp3 player, terus diulang-ulang sampai gw apal. Dan saat yang paling gw inget adalah saat gw lewat cadas pangeran dan lagu yang lagi diputer adalah Indah damai. Buset dah...kerasanya damai banget. Kayak ada satu orang yang luar biasa sayang ama lu, lagi lu sandarin dan dia ngelus kepala lu dengan sayang...*halah...mulai deh...*

Tapi beneran, saat itu bener-bener luarbiasa buat gw. Ngeliatin pepohonan hijau yang ada di sepanjang jalan cadas pangeran, angin yang nyapu wajah gara-gara kecepatan motor, cahaya matahari yang hangat, sambil ngedengerin lagu dengan tempo tenang dan suara vokalisnya yang menenangkan jiwa sekali, ah...pokonya kerasanya luar biasa banget. Saat itu mendadak wajah nenek kandung gw, nenek & kakek angkat gw, mama, papa ama intan yang udah disana duluan, tante & Om gw, sepupu-sepupu, tetangga rumah nenek, ampe tukang tahu depan rumah. Semua pemandangan kampung halaman gw yang damai dan jauh dari macet dan polusi terpeta di pikiran gw. Gw bukan manusia yang deket ama keluarga, bukan juga orang yang seneng ngumpul-ngumpul, tapi saat itu mendadak gw jadi kangen banget ama keluarga gw dan pengen ada di tengah-tengah mereka.

Nostalgia banget deh. Gw jarang suka lagu melow yang bukan dinyanyiin ama Dreamtheater atau band kesukaan gw lainnya, kecuali kalo lagu itu meninggalkan satu pemikiran atau satu pengalaman yang gak bisa gw lupain. Seperti halnya Pure Saturday dengan kosong dan desire-nya, begitu pula dengan 4 Peniti dengan Indah damai dan lagu lainnya, bener-bener ngasih gw pengalaman luarbiasa. Bukan pengalaman berlebihan macamnya soundtrack lu suka ama orang atau apalah...tapi sesuatu yang sederhana tapi kerasa, pulang ke tempat manusia-manusia yang sayang ama lu berkumpul (a.k.a mudik ke kampung halaman). Mudah-mudahan gw bisa nemu mp3nya lagi dan bisa denger lagi.

Desire

Aku masih ingat kali pertama kita bertemu. Saat tempat ini masih berupa reruntuhan masa lalu. Saat orang-orang melihatku sebagai bagian dari lonte pinggiran jalan sana dan saat mereka berusaha membuatmu menjauh.
Yesterday I found my self alone
In the dark and no one else
Then you came to me at night
And said "don't worry it's alright"
Dari sekian banyak manusia yang ada, entah kenapa kau muncul begitu saja. Tak ada kata pengantar atau mungkin sekedar komentar kedatangan pendek. Hanya satu kemunculan, pasti dan tak bisa kutolak. Aku tahu, puluhan penghuni tempat ini tak menyukaimu saat kau datang, tapi seperti hal nya aku, mereka terhisap auramu. Entah bagaimana, kau melebur begitu saja.

Kali kemarin aku datang, melihatmu sendirian di pojok teater sana, merokok dan memainkan lagu tua dari gitar usangmu, tak tau lagu apa. Kali berikutnya saat kudatang, kau tetap di pojok teater sana, dengan gitarmu tapi tidak sendirian. Segerombol manusia, yang kutahu pernah mengusirmu, yang kutahu tidak suka padamu, sekarang duduk sama rendahnya denganmu. Sama seperti halnya aku, mereka mendengar setiap katamu. Tanpa protes, tanpa komentar. Hanya mendengar dan berpikir, seolah setiap kata yang kau ucap adalah fakta pasti yang tidak dapat dibantah. Aku melihatnya, dan aku cemburu.
I want you to hold me in your soul
It makes me easy
Makes me fine
But how that dream will be come true
Will it be tomorrow, I don't know
Kau menghilang secepat kau datang. Aku datang kembali ke tempat itu, berharap melihatmu di pojok teater sana, sendiri atau mungkin dengan orang lain, tapi kau tak disana. Hanya gitar usangmu yang tertinggal, dan setumpuk kaset tua tak kukenal bertuliskan Stevie Ray Vaughn.

Siapa yang peduli dengan gitar usang itu, siapa yang peduli dengan kaset belasan tahun lalu itu. Aku hanya peduli denganmu. Muncullah kembali disana, di pojok teater itu. Agar aku bisa mendengarmu bernyanyi atau hanya sekedar melihatmu tertidur, sampai aku mati.
I can't say anything
or bring you something
I hope you can feel this
My desire...
[Pure Saturday-desire]

Friday, July 13, 2007

Bahasan susah (?)

Beberapa waktu yang lalu gw ngunjungin salah satu blog senior gw di kantor sekaligus temen ngobrol yang asik banget (^^), mbak Hani. Disitu ada tulisan yang judulnya "about a friend", membuat gw berpikir kembali masalah tersebut. "friend" disini punya arti yang beda ama "friend" yang didefinisikan dari komik 20th Century Boy, "friend" disini artinya teman hidup sepanjang hayat, alias manusia yang entar jadi suami atau istri kita.

Setiap cewek seumuran gw atau lebih tua dari gw yang belum nikah, mungkin udah standarnya ngomongin masalah nikah sekarang-sekarang ini. Entah karena udah kepengen, entah karena lagi kasmaran-kasmarannya banget ama pacarnya, entah karena baru baca Diorama Sepasang Al-Banna atau Di atas Sajadah Cinta -yang konon bikin orang pengen nikah sehabis bacanya- atau karena orang tuanya udah ngajak ngobrol soal kemungkinan dia nikah. Untuk kondisi yang terakhir ini gw termasuk mengalami, nyokap gw udah mulai interogasi soal 'gw punya cowok gak?' atau 'kenapa belum ada yang dateng kalo malem minggu?' ...Ah...pliss deh, masih jaman ya malem mingguan???

Ya begitulah, gw bingung musti jawab apa karena pasti ujungnya debat panjang ama nyokap gw, jadinya gw jawab:

"put gak akan mikirin itu sebelum aa guna nikah dan sebelum kerjaan put mapan, titik!"

jawaban gak kuat sebenernya, tapi bisa bikin nyokap gw diem untuk sementara, minimal ampe kakak gw nikah.

Soal "the one"-nya, "a friend" kalo istilah mbak Hani-nya. Selama ini gw ngerasa paling males setiap kali harus berurusan ama "mencintai seseorang", karena apa? karena gw ngerasa gw terlalu cinta ama diri gw sendiri. Ada beberapa orang ,seperti keluarga, yang gw cintai. Itu karena gw ngerasa mereka mencintai gw lebih dari diri gw sendiri. Karena itu gw bisa bener-bener cinta ama mereka, gak ada pamrih sama sekali dan selalu jadi orang yang bisa gw andalkan. Nah terus, gimana cara orang lain yang notabene bisa dibilang "total stranger" buat gw, bisa dateng ke hidup gw dan bilang "aku cinta kamu, mari kita menikah" dan gw ngejawab "aku juga cinta kamu, ya, mari kita menikah", tidak segampang itu.

Gw pernah ngasih komen di blog-nya Batari, "Mungkin memang harus disimpen sesuatu yang menjanjikan di ujung jalan sana supaya lu seneng buat lewat jalan itu. Tapi bisa juga milih temen yang enak untuk jalan supaya tetep seneng buat lewatin jalan itu". Itu konteksnya luas, bisa urusannya soal hidup dan pernikahan, bisa juga soal KP dan tempat kopi ^^ Dan itulah yang gw pake dalam kaitannya untuk membuat hidup gw lebih enak.

Berkaitan dengan urusan nikah itu sendiri, "temen yang enak untuk jalan" ini belum bisa gw definisikan. Dan kalo belum ada definisinya, gimana gw bisa tau masalahnya dan terus nyari solusinya??? Mungkin kriteria "orang yang mencintai gw lebih dari diri gw sendiri" itu bisa dijadiin satu definisi buat "temen yang enak untuk jalan". Tapi gimana caranya gw nyadar tentang hal itu?? gw sendiri butuh kurang lebih 13 tahun hidup bareng sampai akhirnya gw ngerasa kalo keluarga gw luarbiasa cinta ama gw. Terus apa gw musti 13 tahun dulu pacaran ama orang sampai gw sadar "ok, he's the one, let's get married", oh pliss deh put, gak lucu banget.

Belum lagi urusan sosial ama kehidupan "dia"-nya. Ketika hal udah menyangkut ama orang lain, variabel yang terlibat di dalamnya pun semakin kompleks, hubungannya gak lagi "apa yang gw mau" atau "apa yang gw butuhin" atau "ah gw begini..."atau "ah gw begitu...", ini udah bergantung ama kata "kita" dimana ada dua individu, yang masing-masing berhubungan dengan individu-individu lainnya yang akan terus belanjut dengan individu-individu lainnya dan seterusnya. Dan semakin gw pikirin, semakin gw gak ngerasa nyaman dengan hal itu.

Gw bukan tipe manusia yang bisa berpikir sederhana, makanya hal yang nampak sederhana pun mungkin bisa jadi berpuluh kali lebih rumit kalo gw yang mikirin, apalagi kalo urusannya udah ama diri gw sendiri. Bahasan soal pernikahan ini udah cukup menghantui gw selama 3 tahun terakhir, semenjak gw masuk ke dunia kampus yang entah kenapa cewek-cewek nya kayaknya semangat banget buat ngomongin hal ini. Tapi seperti yang gw bilang di komen yang ada di artikel mbak hani, gw gak mau capek.

Katanya "jodoh itu ada di tangah Tuhan", dalam catatan takdir kita sudah tertulis entar kita ama siapa, kapan nikahnya, dimana nikahnya dan kehidupannya bakal kayak apa. Berdasar hal ini gw termasuk cukup "cari aman" banget soal masalah pernikahan. Gw berkeyakinan bahwa jodoh gw itu udah ada, jadi gak perlu gw pikirin ribet-ribet, entar kalo udah waktunya dia juga datang. Gw gak mau nyapein diri sama urusan sakit hati karena suka ama orang terus ditolak, atau jadian ama orang terus putus, atau pacar yang terlalu sayang, atau apapun tetek bengek masalah "percintaan" itu.

Gw nikah atau gak, bukan gw yang nentuin, sama kayak sekarang gw masih idup atau gak bukan gw yang nentuin. Gw gak mau terburu-buru, saat ini gw ngerasa gw sangat tidak siap dengan hal itu. Entah nanti. Sekarang mungkin saatnya belajar, bukan sekedar soal pernikahan, soal ngedidik anak, atau soal mencintai seseorang, tapi juga belajar untuk terus hidup sebagai manusia progresif yang semakin baik hari-ke-harinya.

Seperti judul postingan ini, mungkin ini bahasan susah. Gw bisa berdebat panjang lebar ama temen gw Uti lewat YM kalo udah nyangkut hal ini. Tapi mungkin buat beberapa orang ini adalah hal yang sangat sederhana. Setiap orang pasti ada waktu dan cara masing-masing. Ya, gw mah, cari aman aja, gak capek asal selamat, amien...^^