Tidak kawan, ternyata saya tidak apa-apa. Masih ada yang lebih capek lagi, masih ada yang lebih banyak kerjaan lagi. Masih banyak yang lebih desperado lagi :) Tidak seharusnya saya mengeluh, tidak seharusnya saya bersusah hati. Insya Allah saya tahu resikonya dari awal, mungkin hanya kurang diikhlaskan saja.
Bismillahirrahmaanirrahiim...
"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Friday, April 25, 2008
Vivato HME!!!

Setelah pertandingan final cewek, dilanjutkan dengan pertandingan final cowok. Kali ini lawannya adalah Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG). Pertandingan ini saya nonton setengahnya, karena praktikum labdas nya udah beres. Pas saya datang, HME sudah menang 2-0, dalam hati berdoa kuat-kuat supaya sekarang bisa menang dengan langsung 3 set. Dan setelah pertarungan set terakhir yang sengit, HME akhirnya menang!!! Suporter HME yang emang sejak pertandingan cewek gak pergi-pergi dari lapangan CC langsung bersorak dan turun ke lapangan. Rame banget deh... udah lama kita gak ngeliat pertandingan seseru dan serame ini. Gak cuman permainannya yang seru, tapi suporter kedua belah pihak yang bertanding pun sudah sangat luarbiasa.

-foto lebih banyak bisa diliat di sini-
Thursday, April 24, 2008
I am burned out!!!
You Are 100% Burned Out |
![]() You are extremely burned out. You work too hard, and you're not getting the results you deserve. It's time for a life change, as soon as you can manage it. You're giving away most of your energy to something you don't even enjoy. |
Wednesday, April 23, 2008
ocehan aneh
Sehari ini mendung...
Aku bahkan tak sempat menemukan sepatuku dalam keadaan kering. Setelah lewat pekarangan aku menengadah ke langit, awan hitam masih nongkrong santai disana. Aku hanya dapat menghela nafas, mengapa harus hujan lagi?
Beberapa waktu lalu aku ngoceh soal rasa rindu. Tapi apalah yang kan keluar kalau sudah nyaris lewat bertahun tak ada kabar? Ini bukan hanya satu saat dimana aku berharap bertemu dengannya. Ini lebih dari itu, tentang satu rasa menggebu untuk menampar pipinya kuat-kuat kelak. Marah? ya, aku marah. Tapi tak lagi karena hal bodoh di masa lalu itu. Aku marah karena begitu tak pedulinya ia padaku. Hhhaaahhh... Tuhan... apakah sudah penyakitku karena tampaknya orang-orang begitu mudah untuk tak peduli padaku? atau ini hanya 'nasib'?
Sudahlah. Masa ini kulewati dengan mengeluh soal cuaca, menekuk-nekuk tulang sembarangan (walau ternyata tak bisa patah smeudah itu), dan kemudian kudapati diriku terpekur di pojokan dengan secangkir penuh kafein pekat. Kafein... mungkin hanya itulah teman penenangku lebih dari apapun... walau ada godaan untuk menggantinya menjadi nikotin.
Masa ke depan ini, apa yang harus kuperbuat. Kembali menekuk-nekuk tulang dengan terpaksa, menahan sakit saat puluhan 'teman' yang lain dengan santainya bersandar di sofa dan tersenyum-senyum pada tugas sarjananya, tak peduli aku hidup atau mati. Setelah kupikir, tak apalah mereka begitu, daripada mereka berkeliling membawa masalah di sekitarku, memaksa kerja otakku meningkat beberapa persen.
Nah... tiba-tiba ada hiburan baru. Manusia ini sedang kasmaran rupanya. Dari tadi dia terus tersenyum, entah apakah karena dia senang menyumpahiku untuk turut kasmaran dengannya atau memang begitulah jadinya manusia yang sedang kasmaran. Aku tak tahu rasanya kasmaran. Mungkin aku memang butuh sumpah serapahnya agar bisa merasakan kasmaran.
Terlalu banyak bicara. Kafeinku mulai kehilangan asapnya sekarang, harus cepat-cepat kuminum sebelum rasanya seperti air comberan pakai gula. Tapi kafein satu ini terlalu enak untuk sampai disebut air comberan. Biarlah... yang penting kawanku itu masih ada sekarang.
- dari surat cinta si Trem, mungkin baginya surat cinta itu keluhan serta merta-
Aku bahkan tak sempat menemukan sepatuku dalam keadaan kering. Setelah lewat pekarangan aku menengadah ke langit, awan hitam masih nongkrong santai disana. Aku hanya dapat menghela nafas, mengapa harus hujan lagi?
Beberapa waktu lalu aku ngoceh soal rasa rindu. Tapi apalah yang kan keluar kalau sudah nyaris lewat bertahun tak ada kabar? Ini bukan hanya satu saat dimana aku berharap bertemu dengannya. Ini lebih dari itu, tentang satu rasa menggebu untuk menampar pipinya kuat-kuat kelak. Marah? ya, aku marah. Tapi tak lagi karena hal bodoh di masa lalu itu. Aku marah karena begitu tak pedulinya ia padaku. Hhhaaahhh... Tuhan... apakah sudah penyakitku karena tampaknya orang-orang begitu mudah untuk tak peduli padaku? atau ini hanya 'nasib'?
Sudahlah. Masa ini kulewati dengan mengeluh soal cuaca, menekuk-nekuk tulang sembarangan (walau ternyata tak bisa patah smeudah itu), dan kemudian kudapati diriku terpekur di pojokan dengan secangkir penuh kafein pekat. Kafein... mungkin hanya itulah teman penenangku lebih dari apapun... walau ada godaan untuk menggantinya menjadi nikotin.
Masa ke depan ini, apa yang harus kuperbuat. Kembali menekuk-nekuk tulang dengan terpaksa, menahan sakit saat puluhan 'teman' yang lain dengan santainya bersandar di sofa dan tersenyum-senyum pada tugas sarjananya, tak peduli aku hidup atau mati. Setelah kupikir, tak apalah mereka begitu, daripada mereka berkeliling membawa masalah di sekitarku, memaksa kerja otakku meningkat beberapa persen.
Nah... tiba-tiba ada hiburan baru. Manusia ini sedang kasmaran rupanya. Dari tadi dia terus tersenyum, entah apakah karena dia senang menyumpahiku untuk turut kasmaran dengannya atau memang begitulah jadinya manusia yang sedang kasmaran. Aku tak tahu rasanya kasmaran. Mungkin aku memang butuh sumpah serapahnya agar bisa merasakan kasmaran.
Terlalu banyak bicara. Kafeinku mulai kehilangan asapnya sekarang, harus cepat-cepat kuminum sebelum rasanya seperti air comberan pakai gula. Tapi kafein satu ini terlalu enak untuk sampai disebut air comberan. Biarlah... yang penting kawanku itu masih ada sekarang.
- dari surat cinta si Trem, mungkin baginya surat cinta itu keluhan serta merta-
Monday, April 21, 2008
Kopi, Sunda, JRock
Weekend kemaren agenda saya benar-benar penuh acara. Dan kebeneran semuanya berhubungan ama hobi saya di luar kuliah. Kopi-sunda-Jrock.


Jumat, 18 April kemaren, Starbucks BIP ngadain acara gathering summer promo. Karena saya cukup sering dateng kesana, saya dikasih undangan buat dateng untuk dua orang. Akhirnya saya ngajak Ditha. Acaranya cukup seru, dimulai dari nyobain beberapa produk yang dijadiin ciri buat persiapan summer promo. Itu kopi Muan Jai, Ice Hazelnut latte, dan Ice Hazelnut Mocha Frappuccino. Saya juga kena nyobain ketiga kopi itu. Sayang ketiganya saya gak suka, karena Muan Jai itu ada rasa-rasa kacang ama cokelatnya, dan saya gak suka Hazelnut, walau begitu saya gak keberatan dikasih gratisan.
Sabtu, 19 April 2008, LSS ngadain syukuran Dies Natalis LSS ke 37. Acaranya diadain di Aula Barat ITB. Saya gak ngambil foto terlalu banyak di acara ini, soalnya saya cukup merhatiin jalannya acara. Bagian yang saya suka itu adalah saat konsolidasi Pagelaran 2008. Saat itu diputer film LSS yang nyeritain perkembangan LSS dari masa ke masa. Ditutup dengan orasi singkat dari ketua Pagelaran 2008. Cukup kena deh momennya, walau saya tahu evaluasi detilnya. Heu...heu...heu... kita ketemu di evaluasi ya...


Minggu, 20 April 2008, gathering JRF di acara Japanzuki UPI. Acara ini jelas ditunggu-tunggu, setelah beberapa minggu kita miskin acara rame, acara ini mungkin bisa dijadiin satu momen kumpul lagi buat kita semua. Band yang tampil sih banyak yang gak kenal, tapi ada tiga band yang saya tunggu-tunggu : Pochi Monchi, Himezo ama Kabuki Clash, dan ketiganya dapet saya tonton. Pochi Monchi nutup performnya ama lagu 3rd Empire, lagu Diru favorit saya, gila... mainnya keren banget, skill nya ok dan beneran bikin kita headbang edan-edanan, udah lama nih gak headbang di acara Bandung. Himezo tampil keren banget, dengan perform yang oke banget seperti biasanya. Plus, ada tontonan gratisan (hahaha). Terakhir adalah band yang udah saya tungguin tampilnya dari minggu-minggu kemaren, Kabuki Clash. Akhirnya, setelah kemaren di STBA, saya dan temen-temen telat nonton, sekarang kita ketinggalan satu lagu. Tapi tetep memuaskan, apalagi waktu bawain Kanivalism. Hehehe... puas banget deh. Next event : Gelar Jepang 2008 UI Depok!!!







Thursday, April 17, 2008
Knut




Keluarga Hidayat

Nama Hidayat memang sudah nempel dibelakang saya semenjak saya lahir, tapi baru benar-benar saya gunakan saat SMA. Waktu SD saya males banget nulis nama keluarga saya ini. Alasannya simpel buat anak SD, 'masa nama papa ada di nama puput sih'. Dan waktu itu gak ada seorang pun temen saya yang punya nama ayahnya di belakang namanya. Ayah saya kadang protes, tapi ya namanya anak SD, seenaknya sendiri aja, gak ngerti apa-apa.
Ayah saya sendiri bilang, dia gak sengaja nempelin nama Hidayat di nama istri ama anaknya. Orang pertama di keluarga yang dapet nama Hidayat itu bukan mama, tapi kakak saya Guna. Alesannya karena si kakak saya itu dikasih namanya ama babeh (kakek saya), dan papa gak mau kalo nama anaknya full dikasih ama orang, meskipun itu kakek saya, jadinya dia nempelin namanya disitu. Ujung-ujungnya dia ngerasa kayaknya nama belakang ini dibutuhin, pas dia tahu kalo ternyata di paspor itu butuh nama keluarga, jadinya diterusin deh kebiasaan itu ampe anak bungsunya, saya. Katanya siapa tahu entar anaknya ada yang ke luar negeri.
Saya menyadari pentingnya nama ini pas SMA, setelah kakak saya diterima SPMB. Nama 'Gun Gun Gunawan' itu ternyata pasaran banget. Apalagi di kalangan orang sunda, karena struktur fonemnya yang berulang, kayak 'ice juice' (baca: i-ce ju-i-ce). Jadi sulit mencari 'Gun Gun Gunawan' mana yang kakak saya, diantara ratusan 'Gun Gun Gunawan' yang juga keterima SPMB. Ketemunya tidak lain karena nama Hidayat ini. Sejak saat itu saya tahu pentingnya nama belakang ini. Semenjak saat itu saya jadi lebih sering pake nama belakang saya ketimbang nama tengah. Dan ternyata kakak saya juga gitu. Sayangnya, karena saya cewek, entar kalo saya nikah nama belakang saya ganti jadi nama suami. Orang sunda patrilineal sih... atau saya nikah ama orang minang aja biar yang nanti garis keturunannya diambil dari ibu, jadi anak saya pake nama Hidayat juga. Hehehe....


Subscribe to:
Posts (Atom)