Saturday, December 13, 2008

Pemenang FFI 2008

Daftar pemenang FFI 2008:
  1. Film Cerita Bioskop Terbaik: "Fiksi" produksi Surya Indrantara.
  2. Film Dokumenter Terbaik: "The Conductors" karya sutradara Andi Bachtiar Yusuf, produksi Bogalakon Pictures.
  3. Film Pendek Terbaik: "Cheng Cheng Po", BW Purbanegara, produksi Sahabat Gloria dan Lima Enam Films.
  4. Pemeran Utama Pria: Vino G Bastian, dalam film "Radit dan Jani", produksi Investasi Film Indonesia.
  5. Pemeran Utama Wanita: Fahrani, dalam film "Radit dan Jani", produksi Investasi Film Indonesia.
  6. Pemeran Pendukung Pria: Yoga Pratama, dalam film "3 Doa 3 Cinta", produksi Investasi Film Indonesia dan Triximage.
  7. Pemeran Pendukung Wanita: Aryani Kriegenburg, dalam film "Under The Tree", produksi SET Film/Credo Cine Art.
  8. Penyutradaraan Terbaik: Mouly Surya dalam film "Fiksi", produksi Surya Indrantara.
  9. Penulis Skenario Terbaik: Joko Anwar/Mouly Surya dalam film "Fiksi".
  10. Penata Musik Terbaik: Zeke Khaseli dalam film "Fiksi".
  11. Penata Gambar Terbaik: Yoga Krispratama, dalam film "Claudia/Jasmine".
  12. Penata Suara Terbaik: Satrio Budiono, dalam film "May".
  13. Penata Sinematografi Terbaik: Ical Tanjung, dalam film "May".
  14. Penata Artistik Terbaik: Budi Riyanto dalam film "Under The Tree".

Fiksi menang banyak sepertinya. Dari semua yang menang cuman Radit dan Jani yang pernah saya tonton. Kemudian, saya mempertanyakan kualitas aktor yang lain di filmnya masing-masing kalo sampai Vino dan Fahrani yang dapet penghargaan pemeran utama terbaik. Huh, gak bisa terlalu komen nih, belum nonton filmnya soalnya. Ada satu yang menyebalkan, judul kategorinya kayak gini "nominasi untuk film cerita BIOSKOP terbaik Festival Film Indonesia 2008 adalah..." padahal film-filmnya belum beredar di bioskop... hahahaha... kita liat bakal diputer di bioskop kagak ya???

Friday, December 12, 2008

Festival Film Indonesia 2008

Festival Film Indonesia 2008 akan segera digelar malam ini di depan Gedung Sate Bandung. Saya lewat Gasibu waktu pulang sore tadi, dan melihat tenda besar beserta beberapa layar raksasa sudah dipasang di depan Gedung Sate. Sayangnya saya kembali ketinggalan berita dan gak sempat ngajak siapa-siapa buat dateng ke sana. Tapi ada untungnya juga, soalnya saya baca di koran katanya warga umum cuman bisa nonton di pangung rakyat yang isinya band-band, ugh... yang begituan sih saya gak terlalu tertarik.

Saya baca Cinemags siang ini, dan tertarik dengan film Garin Nugroho yang diikutsertakan di FFI kali ini, Under the Tree. Walau sebenernya saya rada sebel ama film berbahasa indonesia yang pake judul Inggris, tapi saya gak bisa sebel ama filmnya Garin. Film ini dapet 8 nominasi untuk FFI 2008, termasuk diantaranya nominasi untuk sutradara terbaik dan film secara utuh (Best Picture mungkin kalo di Oscar mah). Saya senang karena Garin itu sutradara Indonesia favorit saya, tapi saya juga gak senang karena saya belum nonton film ini. Grrrr... kenapa yang masuk bioskop itu malahan film gak jelas sih?!?! Menyebalkan.

Dari sekian banyak nominasi di FFI 2008, banyak yang saya gak tonton karena memang gak dirilis secara komersil. Ini nih, gimana mau majuin perfilman Indonesia kalo film bagusnya malah diputer di festival luar negeri dan malah gak masuk bioskop sendiri, dasar aneh! Itu bukan majuin perfilman, tapi emang pengen beken sendiri aja. Ah... sebel saya. Banyak yang ngekritik saya karena kebanyakan nonton film barat doang, gak nonton film Indonesia. Helloooo... tema seperti janda centil, kawin-kawinan, horor murahan dan some stupid sex-ed movie are not worthed to watch. Meskipun tiket bioskop sekarang udah murah, tetep aja saya ngerasa rugi kalo harus ngeluarin satu rupiah pun buat film macam itu.

Acara FFI 2008 sendiri bakal ditayangin di satu TV swasta, saya nonton di situ aja. Nanti kita lihat siapa pemenangnya, dan berdoa semoga film-film itu masuk bioskop tanah air. Bukan sineas dan artis saja yang perlu pendidikan film, masyarakat Indonesia juga perlu dididik melalui film-film lokal bermutu.

Thursday, December 11, 2008

playlist...playlist...

Playlist baru-baru ini:
1. Iron and Wine - Flightless bird, American mouth
2. Linkin Park - Leave out all the rest
3. Rob Pattinson - Never think
--- Soundtrack Twilight, walau filmnya sucks (Edwardnya ganteng tapi), soundtracknya setelah didengerin ternyata oke :)

4. Lene Marlin - Sitting down here
5. Paramore - That's what you get
6. Plain White T's - Hey there Delilah
--- tiga lagu ini punyanya udah lama, dan baru benar-benar suka sekarang.

7. Fall Out Boy - I don't care
--- gw suka video klipnya, dan baru nyadar Pete Wentz itu lumayan juga... walau pendek :p

8. Beyonce - If I were a boy
9. Pure Saturday - Nyala
10. TVXQ - You're my melody
--- Bawaan dari lama, tapi tetap suka!!!

Ada yg punya usul lagu baru dan bagus???

Sunday, December 7, 2008

Mystically Myanmar

Kira-kira dua atau tiga bulan yang lalu, Zakki ditempatkan kerja di Myanmar, saat itu saya baru tahu kalau ibukota Myanmar sudah tidak di Yangon lagi. Oke, saya akui saya telat banget soal berita ini, dan saya pun gak peduli. Ketika mendengar kata Myanmar, yang terlintas di kepala saya adalah Junta militer, Aung San Suu Kyi, dan penyerangan biksu. Hal-hal yang mungkin saya bicarakan dengan ayah saya di depan TV. Saya tak terlalu tahu soal pemindahan ibukota ini.

Tadi malam, saya sedikit jalan-jalan malam ama Dita. Dari obrolan yang awalnya gak penting, tiba-tiba kami ngomongin Myanmar, spesifiknya adalah soal pemindahan ibukotanya. Dita cerita sama saya kalau alasan pemindahan ibukota itu tak lain tak bukan berhubungan dengan mistis atau takhayul. Kaget? saya juga. Sejauh ini saya selalu dengar isu atau teori konspirasi yang berhubungan dengan kebijakan suatu negara, baru kali ini saya dengar kebijakan pemerintahan diambil berdasarkan kepercayaan terhadap hal mistis atau takhayul, terutama dari negara yang dipimpin militer.

Naypyidaw, ibukota Myanmar yang baru, terletak kurang lebih 400 km di utara Yangon. Dibangun dari nol dengan membabat hutan menjadi area terbuka. Hampir semua fasilitas dibangun dari awal, menghabiskan dana pembangunan hampir 300 juta dolar AS. Seluruh fasilitas pemerintahan, pegawai negeri, dan aparat pemerintahan lain dipindahkan secara serempak dari Yangon, dan alasan pemindahan, pembangunan dan pengeluaran sebesar itu adalah karena Yangon dipercaya tidak baik untuk menjadi ibukota berdasarkan para ahli nujum... ugh, saya masih cukup sulit untuk mencerna alasan itu. Ada beberapa sumber lain yang menyebutkan bahwa pemindahan itu adalah sebagai simbol otoriterisme Junta dan juga untuk mengisolasi pusat pemerintahan dari pengaruh luar, atau mungkin agar Junta terbebas dari segala keributan yang terjadi di Yangon, saya pikir alasan-alasan itu jauh lebih masuk akal (buat saya).

Selain itu saya menemukan satu keterangan unik dari wikipedia terkait pemindahan pemerintahan ke Naypyidaw. Waktu pemindahan pemerintahan tanggal 6 November 2005 jam 6.37 a.m dipilih berdasarkan peruntungan astrologi. Lima hari setelahnya, pada tanggal 11 November (11/11), jam 11 a.m, konvoy kedua yang terdiri dari 1.100 truk militer, mengangkut 11 batalyon tentara dan 11 kementrian pindah serentak dari Yangon... ada berapa angka 11 disana???

Wow... saya terkesan. Ternyata di negara yang untuk beberapa pihak di cap kejam karena pemerintahan militernya, dapat dengan konsisten berpegang pada hal yang oleh orang dianggap mistis atau takhayul. Saya memang dapat tambahan keterangan kalau pemindahan ibukota merupakan satu bagian tradisi dari sejarah Myanmar, jauh sebelum jaman pendudukan Inggris. Dita bilang sama saya, di koran yang dia baca disebutkan, kalau Malaysia menyebut dirinya 'Truly Asia', Singapore dengan 'Uniquely Singapore', maka Myanmar dapat maju dengan 'Mystically Myanmar'.

Friday, December 5, 2008

Dulu saya pernah cerita bahwa saya kepengen banget nonton Drupadi, filmnya Dian Sastro yang akan diputer di Jiffest entar. Hmmm... dan saya rupanya tidak menyiapkannya dengan baik, karena ternyata Jiffest sudah di depan mata. Haduh, apa kabarnya ini?!?! Saya gak punya info apakah film ini akan diputar secara komersil atau tidak. Sial! Kenapa saya gak ngecek situs Jiffest dari kemaren-kemaren?!?!

Wednesday, December 3, 2008

Twilight Vs Bolt

Hari ini adalah hari menonton film. Pagi-pagi saya bangun dan setelah beres-beres langsung melahap 5 episode Avatar Book 1 (sorry, yang ini saya bener-bener telat). Siangnya saya berangkat buat nonton Twilight bareng Alia. Di loket tiket, kita menyadari bahwa Bolt pun sudah rilis, akhirnya setelah nonton Twilight di Ciwalk XXI, kita meluncur ke Blitz Megaplex buat nonton Bolt. Karena dua film ini ditonton pada hari yang sama, mau gak mau saya membandingkannya (padahal genre-nya beda jauh). Walau saya agak sentimen pada Miley Cyrus, dengan berat hati Bolt harus menjadi pemenang untuk pertandingan hari ini. Sekarang kita bahas satu-satu...

Twilight, seperti umumnya film adaptasi dari novel fantasi, film ini termasuk mengecewakan. Yup, maaf kawan-kawan twilighters, Twilight the movie definitely not as great as the novel.

Ada dua alasan yang bikin saya tetap bertahan di kursi saya saat menonton film ini, pertama... saya sudah bayar tiketnya, kedua... Rob Pattinson as Edward Cullen. Cast dan setting adalah dua hal yang bisa saya kasih pujian untuk film ini. Jejeran pemain yang awalnya saya curigai karena KKN dengan si sutradara (kecuali Rob yang lewat audisi), ternyata jadi satu hiburan di tengah jalannya cerita yang diubah dari novelnya dengan sangat maksa dan teu nyambung! Visualisasi Forks sebagai kota miskin cahaya matahari dan selalu hujan serta ijo dimana-mana, jelas bikin saya jatuh cinta (gw mau deh tinggal di kota kayak gitu).

Kalau hukuman dapat diberikan, jelas hukuman terberat harus dijatuhkan pada si sutradara, Catherine Hardwicke. Editing yang gak mulus, banyak scene gak penting dan gak jelas, perombakan alur yang kadang bikin kesel. Memang cerita dari novelnya sedikit banyak diubah untuk lebih menyesuaikan dengan durasi film, tapi bridge yang dibuat untuk tiap bahasan malah bikin ceritanya gak ngalir, kerasa kepotong-potong dan gak natural. Inti ceritanya sendiri bahkan gak jelas. Awalnya saya (dan beberapa twilighters yang lain) menyangka bahwa genre film ini akan diperberat di bagian romance, ketimbang petualangannya. Tapi nyatanya saat filmnya jadi, ni film gak dua-duanya. Kalo romance mau ditonjolkan, jelas scene-scene soal penggambaran karakter Edward dan penggambaran pikiran Bella musti diperkuat, yang dalam kenyataannya tidak seperti itu. Kalo petualangannya mau diperberat, jelas bagian kejar-kejaran James dengan The Cullen perlu ditekankan, yang sayangnya juga tidak seperti itu. Ada satu hal pasti yang keangkat di film ini, rasa frustasi Edward. Frustasinya dia gara-gara fakta bahwa dia berbahaya bagi Bella, dan finalnya ketika dia harus berhenti dari menyedot darah Bella ampe habis saat harus ngeluarin venomnya james dari tubuh Bella. Aktingnya Rob jelas oke banget untuk menggambarkan ini. Sayangnya sisi protektif dan dominan Edward gak terlalu bisa digambarkan, dan Bella... hmmm... sepertinya saya tidak menyukai akting Kristen Stewart, terlalu monoton dan kurang variasi, lempeng.

Ada satu hal lagi yang sebenernya mengganggu (walau cukup menghibur) adalah kebanyakan shot close-up ke muka Rob. Okelah kalau dia mau menjual tampang Rob yang ganteng, yang dengan senyum dikit aja udah bikin jantung berhenti dan bisa bikin cewe satu bioskop sadar gak sadar teriak atau nahan nafas, tapi tetep aja kalo keseringan itu ngeganggu!

Ugh, saya gak pernah tau sutradara ini sebelumnya, dan saya jadi penasaran kayak gimana film dia sebelumnya. Yang saya tahu dia pernah kerja bareng Nikki Reed di Thirteen (yang gak masuk Indonesia) dan bareng Emil Hirsch di Lords of Dogtown (yang juga gak masuk Indonesia). Buat saya kerjanya di Twilight benar-benar mengecewakan. Saya dapat berita kalau Twilight movie udah masuk produksi saat novelnya belum begitu booming di US sana (makanya yang ngerjainnya studio menengah macam Summit), mungkin itu pula yang menjelaskan pemilihan pemain yang gak terlalu populer dan budget film yang rendah. Tapi ya sekali lagi bukan pemain, atau dana, atau setting yang mengganggu saya, tapi plot dan penyutradaraan. Bah... bikin emosi aja, untung Rob ganteng, jadi saya gak terlalu merasa rugi membeli tiket.

Bolt, gimana jadinya Miley Cyrus ketemu John Travolta? bersyukurlah mereka dipertemukan di film animasi, gak kebayang deh kalo adu akting. Miley jelas punya suara yang menarik, jadi suara Penny sang pemilik Bolt pun jatuhnya lucu. Dan John? hehe... gw mau deh punya peliharaan selucu Bolt yang suaranya John Travolta :D STOP...STOP... yang begituan gak usah dibahas, karena menurut gw kelebihan Bolt terletak di ide cerita dan teknik animasinya.

Ini film soal binatang pastinya, tipe yang saya suka dan mungkin akan disukain ama temen saya Ayu si pecinta binatang. Ayu pernah cerita sama saya kalau dia gak suka cerita binatang yang di manusia-manusia-in, macam Shark's Tale atau Finding Nemo mungkin. Film ini jelas mengetengahkan binatang sebagai binatang, repotnya itu kalo tu binatang menyangka dirinya binatang super.

Bolt itu bintang film, hidup di setting film dan kesehariannya diisi dengan menyelamatkan Penny dari si jahat bermata hijau, yang tidak disadarinya hanya sebuah syuting film. Salahnya kalo dia sudah terlalu jauh menyangka dirinya superhero. Sisa ceritanya silakan nonton sendiri. Bukan tipe cerita yang sulit ditebak, tapi saya suka dialog dan penempatan tiap karakter di cerita film ini. Standar Disney, ini tentang keluar dari rutinitas yang ternyata gak bener dan kemudian menyadari bahwa dunia itu tidak berjalan sebagaimana kita berpikir dunia berjalan. Soal menyadari siapa sebenarnya diri kita, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan akhirnya hidup bahagia, happily ever after... so fairy tale.

Yang saya gak suka, tokoh sidekick yang selalu diketengahkan 'ingin menjadi orang lain' muncul disini, dengan kedok untuk menyadarkan si tokoh utama kalau dia orang yang hebat. Percayalah, jangan merasa bangga saat ada orang bilang sama kamu : "saya sebenernya ingin menjadi seperti kamu", itu sama saja kamu menginspirasi orang untuk merendahkan dirinya sendiri dan ingin jadi orang lain. "mawar adalah mawar, azalea adalah azalea... setiapnya punya cara masing-masing untuk tumbuh", gak perlu banding-bandingin ama orang lain. Terinspirasi untuk menjadi lebih semangat boleh, untuk membangun mimpi boleh, tapi tidak untuk menjadi orang lain, gak ada yang keren di situ. Dan Disney sepertinya punya kebiasaan untuk menaruh tokoh sidekick seperti itu dalam ceritanya. Seolah pengen bilang : "kalo kamu bukan tokoh utama, berusahalah jadi seperti tokoh utama". Huh, racun banget deh. Ya... sekali lagi perlu diingatkan (mengingatkan diri sendiri juga), kita boleh terinspirasi oleh film, tapi jangan mau terpengaruh oleh film. Sebagus apapun satu film, itu tetap gak nyata, walau diangkat dari kisah nyata sekalipun.

Dari segi animasi, jelas saya jatuh cinta. Nampaknya Disney berusaha ngalahin teknik animasinya Dreamworks yang terakhir keluar lewat Kung Fu Panda. Visualisasi bulu dan gerak karakternya hampir mirip dengan Kung Fu Panda, yang lebih oke adalah efek visualisasi cahaya dan kerennya... lensa, seolah ketika ada cahaya yang langsung kesorot kamera ada efek pendar yang kayak di lensa kalo di dunia nyata. Satu lagi kelebihannya adalah sound effect. Detil suaranya jelas lebih oke dari Kung Fu Panda, hal sesimpel merpati jalan atau hamster ngegeser badan pun dikasih suara yang lucunya pas banget, gak terlalu mencolok tapi ada dan kerasa natural... oke banget deh. Gimanapun juga Disney kayaknya belum mau tunduk di peperangan film animasi, dan saya mengakui gimanapun Disney masih lebih oke, Dreamworks dan Pixar (masih bagian Walt Disney company) harus berusaha lebih keras.

Alasan kenapa saya memilih Bolt sebagai pemenang adalah karena Bolt jelas lebih punya cerita dibandingkan Twilight. Awal dan akhirnya jelas, plot nya jelas, ceritanya bisa dinikmati. Dan sebuah film selayaknya memiliki cerita yang dapat dinikmati, bukan sekedar nampangin pemain ganteng aja, makanya Bolt yang menang. Tapi kalau ditanya film mana yang pengen saya tonton lagi, jawabannya adalah Twilight. Alasannya, hehehe... gak penting sih, tapi saya pengen ngeliat Rob lagi, ganteng kan dia :p

*woops...panjang ternyata*

Tuesday, December 2, 2008

Wuthering Heights is a hate story

"I don't understand why you like it. The characters are ghastly people who ruin each others lives. I don't know how Heathcliff and Cathy ended up being ranked with couples like Romeo and Juliet or Elizabeth Bennet and Mr. Darcy. It isn't a love story, it's a hate story."

That's what Edward said when he found out that Bella re-read Wuthering Heights. So far, I just read 10 chapters of the book and I agree with Edward. The story is annoying... no... Cathy is annoying. I hate her. She's such a shame for women. How can there's such an egoistic woman as she was?!?! I thought that most of the bad evaluation of women comes from her alone. Ugh... she's an evil.

I can't bear it anymore. I stop read it. I think it's not right to read such a hate-story like this, when i'm in the middle of my period with all bad temper I had. Maybe, when I'm in a little happier condition than this time, I will consider to continue read it. But really... this book is absolutely not my cup of tea.

Monday, December 1, 2008

Acara Akhir LSS 2008

Sudah lumayan lama saya gak update blog ini, soalnya kemaren quota speedy saya sudah diambang batas, jadinya terpaksa mengurangi pemakaian internet (kalo enggak si papah bakal ngamuk!).

Acara Akhir LSS baru aja dilaksanain hari sabtu-minggu, 29-30 November kemaren. Saya pergi ke sana pastinya, jadi sukarelawan buat marah-marahin anak orang. Walau ada beberapa hal yang bikin saya gak puas ama acaranya, tapi yah... lumayan deh. Ada beberapa foto dari Panaruban, tempat acara akhir sekarang, tak lupa juga foto-foto tambahan ala boyband :D Saya gak tau bagaimana peraturan kampus sekarang, tapi saya agak curiga bahwa LSS mungkin satu-satunya organisasi yang tersisa yang dibolehkan ngadain pelantikan di alam dimana pesertanya diangkut pake truk tentara, yang saya tahu biro kemahasiswaan agak sensi ama kata 'pelantikan', 'truk', 'alam' dll. Tapi rupanya saat saya nyampe ke Panaruban jam setengah 12 malam, sudah ada kunjungan dari bapak kepala biro kemahasiswaan, dan rupanya beliau sudah ada disana dari pukul 10.

Di acara akhir ini saya gak terlalu banyak ambil bagian. Bukan bagian saya lagi lah, lagian beda ama 2007 kemaren, 2008 mungkin gak akan terlalu kenal sama saya setelah acara ini. Gak enak kan kalo misalnya sekarang saya marah-marahin mereka dan sesudahnya saya gak kenal lebih deket ama mereka, entar satu-satunya hal yang mereka tahu soal saya adalah saya adalah orang yang galak. Kalo 2007 kemaren, sesudah saya marah-marah ama mereka pas acara akhir, saya dapet kesempatan buat kenal lebih jauh ama mereka, buat minta maaf juga gara-gara saya nyebelin pas acara akhir jadinya mereka gak akan nyimpan dendam ama saya hehehe...

Ya, acara akhir LSS selalu menyenangkan, walau saya sendiri gak pernah ikutan acara akhir sebagai peserta, dan saya lumayan tidak menyesal karenanya :p