Tuesday, August 24, 2010

Kembali ke pojok: Kisah Kita

[This one inspired by the song Kisah Kita by Vidi Aldiano. I repeated this song over and over in my iPod this past few days, and still not over it :) Nice song and nice voice Vidi]

Terminal 2 bandara Soekarno-Hatta tetap padat seperti biasa, walau di petang hari seperti ini. Aku duduk di depan booth makanan siap saji yang ada di lorong depan bandara, menunggu. Sesekali memandang ke arah kiri dan kanan, mereka bisa datang dari keduanya tergantung dimana mereka berhenti, dan sampai saat ini tanda-tanda kehadiran mereka belum juga muncul. Aku melirik lagi arlojiku, masih sekitar dua setengah jam sampai keberangkatan, tapi aku belum check in. Mungkin aku salah mengambil jadwal pesawat, jam pulang kantor seperti ini jalanan pasti super macet, terkutuklah Jakarta dan kemacetannya.

"hah... limabelas menit lagi gak dateng, gw cabut deh..." gumamku, cukup keras ternyata, karena ada yang membalas.

"cabut apaan? cabut bulu?" suara yang kukenal. Aku menoleh dan menemukan empat orang yang sudah sedari tadi kutunggu-tunggu.


"HAAAIIIII..." tanpa sadar aku melompat dan memeluk mereka satu-per satu.

"woi, lebay lu ah..." Rudi mendorongku sejauh tangannya bisa terentang.

"huaaa... kalian datang juga... gw kira gw harus pergi sendirian tanpa dilepas... huuu.. sedih banget kan tuh" balasku.

"lho, gak dianter ortu?" Andin melirik ke sekelilingku, hanya ada satu koper besar di sampingku dan ransel yang kusampirkan ke bahu, tak ada manusia lain.

"enggak, gw tadi naek travel sendirian langsung dari bandung, biar gak ribet lah..." jawabku.

"eh, lu tuh mau cabut ke negeri antah berantah buat tahunan dan cuman Tuhan yang tahu kapan lu balik, masih mikirin soal ribet beribet, emang nyokap lu gak mau nganter?" sambar Prita.

"mau sih, tapi ya udahlah... santai aja lah... toh doa mereka semua nyampe kok ke gw Insya Allah" jawabku sambil nyengir.

"ni bocah gak sembuh-sembuh dah... lu yakin lu gak bakalan kenapa-napa di London sendirian?" tanya Miko.

"Insya Allah... makanya doain gw, lagian santai lah... banyak temen kita yang disana juga kan? banyak lah yang bakal bantuin gw"

"jangan keluyuran sendirian, kalo mau euro trip whatsoever ajakin yang lain, nyasar di sana, mampus lu" tambah Miko.

"iya"

"lu dah nyatet nomer telepon ama alamat sepupu gw kan? kalo ada apa-apa hubungin dia aja, gw dah nitipin lu ama dia" Andin menambahkan.

"iya udah"

"hati-hati makan daging, liat dulu di webnya konsorsium muslim eropa, ada daftar makanan halal disono, jangan mabok-mabokan" Prita melanjutkan.

"siap bu!"

"kalo lu dah punya temen bule cakep jangan lupa kenalin ama gw, facebook deh facebook cukup, entar gw lanjutin" Rudi berkomentar yang tak perlu. Aku hanya menyikutnya sekenanya. Kami semua tertawa. Aku tertawa keras sekali, ah... aku pasti merindukan masa-masa ini, pembicaraan tak penting ini, dan wajah-wajah familiar ini. Meski hanya untuk dua tahun, tapi tetap saja, akan ada yang kurang.

Kami terus mengobrol dan tertawa, sampai akhirnya mereka mengantarku ke depan antrian keamanan menuju area check in. Aku sudah berpamitan pada satu-per-satu sahabatku itu, memeluk mereka semua, mengusap air mata Prita dan Andin, dan siap mendorong koperku masuk ke area check in ketika aku menangkap sepasang mata yang memandangku, mata cokelat yang hangat dan sangat kukenal - langkahku terhenti.

Aku memandangnya sekali lagi, benarkah dia yang berdiri disana, atau hanya bayanganku saja. Tapi perkataan Prita membuatku yakin aku tak berhalusinasi.

"ngapain dia disini? jangan bilang ama gw lu masih hubungan... eh dia suami orang sekarang!"
Aku berbalik memandang Prita dengan tatapan jengkel, "lu pikir gw cewek apaan?! lagian gw dah mau berangkat juga"

"eh, selingkuh itu mau long distance juga tetep selingkuh" balas Prita lagi.

"LDA dong... Long Distance Affair" sambar Rudi.

"ih berisik deh kalian, bentar..." Aku sudah mengambil langkah untuk mendekatinya, tapi tidak sebuah melainkan dua buah tangan menarik lenganku, aku berbalik... Andin dan Miko.

"dia suami orang!" Andin berkata padaku dengan wajah serius.

"seriously guys, it's not like i'm gonna commited an affair with him ok? it's just goodbye, dadahhh... dan selesai gitu" kataku.

"yes, but we know for sure how much you love him, and I know that it's present tense not past!" Miko menegaskan. Aku memandangnya sebentar, kemudian bergilir memandang sahabatku yang lain, semuanya menunjukkan ekpresi persetujuan yang sama. Aku menghela nafas, mereka lebih mengenalku bahkan mungkin lebih dari yang aku sadari.

Aku melirik kembali kepadanya, dia masih berdiri disana. Memandang ke lantai dan menunggu. Aku menggigit bibirku, menghela nafas dan memandang keempat sahabatku.

"ini cuman ucapan goodbye oke... gw janji ama kalian, it's just saying goodbye, he's already here... konyol banget kalo gw cuekin"

Bibir Prita sudah berdenyut, sepertinya dia ingin membalas tapi akhirnya dia menahan diri. Andin dan Miko melepaskan tanganku, dan aku pun melangkah mendekatinya.

Saat aku mendekat, dia mengangkat kepalanya dan memandang tepat ke mataku. Oh Tuhan, betapa aku selalu luluh pada pandangan itu. Aku megerjap beberapa kali dan menahan diri kuat-kuat untuk tidak memeluknya, itu akan menjadi sangat salah, dia sudah bukan pacarku lagi, dia sekarang suami orang lain. Dan seolah Tuhan ingin menegaskan pernyataan itu, pandanganku tertumbuk pada jari manis tangan kirinya, cincin platina polos mengkilat melingkar disana. 'Haduh Tuhan... jangan ikut-ikutan gak percaya ama gw deh', batinku.

Aku berhenti sekitar semeter dari tempatnya berdiri. Dan terkikik pelan.

"kenapa ketawa? ada yang lucu?" tanyanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk ke arah tangan kirinya. Dia mengangkat tangannya dan memandang cincinnya, memainkan logam melingkar itu dengan ibu jarinya.

"how's the wedding?" tanyaku ringan, semoga terdengar sesantai yang aku inginkan. Dia tidak langsung menjawab, dia memandangku sebentar sebelum menjawab.

"lumayan, bikin capek pastinya..." jawabnya sambil menghela nafas.

"adat jawa?" tanyaku. Dia mengangguk. "hehehe... gw yakin tante Wien akhirnya bisa tenang nih, akhirnya mantu juga" lanjutku sambil tersenyum lebar. Dalam kepala, aku membayangkan ada orang yang sedang menyayat-nyayat jantungku tipis-tipis, karena tiba-tiba dadaku terasa sakit sekali. Kalau aku actress, harusnya aku bisa dapat oscar... minimal nominasi lah, sulit sekali memasang tampang tersenyum dengan rasa sakit sehebat ini.

Kisah kami tidaklah dramatis, bukan soal adat atau agama yang berbeda, bukan soal orangtua yang tidak setuju, bukan soal ada orang lain di antara kami. Ini sangat sederhana, hanya masalah timing.

Dia (dan keluarganya) ingin menikah sekarang, membangun keluarga-beli rumah, punya anak dan segala hal sesudahnya- settle down. Aku, sudah berjanji dari jauh-jauh hari bahwa aku ingin sekolah, bahwa apapun yang terjadi aku ingin sekolah ke eropa, menimba ilmu yang lebih tinggi... membuatku lebih bernilai, membuat orang tuaku bangga. Dan kedua keinginan itu bertubrukan dalam jangka waktu yang sama.

Ini hanya masalah timing... bahwa dia tidak bisa menunggu sampai dua tahun studiku selesai, dan aku pun tak mau menikah sebelum gelar S2 berhasil kuraih. Ini hanya masalah timing, bahwa akhirnya kami harus menyadari bahwa kalender kehidupan kami tidak beririsan lagi.

Dia tak membalas, ekspresinya tak berubah sedikitpun. Dia memandang ke dalam area check-in, kemudian kembali memandangku.

"take off jam berapa?" tanyanya ringan.

"masih dua jam lagi, tapi harus check in dari sekarang" kataku. Dia hanya mengangguk, kemudian menunduk. Kami terdiam, dan aku benci keadaan seperti ini, di manapun dan dengan siapapun itu. Aku memandangnya sebentar, menimbang-nimbang seberapa kuatnya aku untuk mengucapkan kalimat yang akan kuucapkan ini dan berdoa semoga Tuhan berbaik hati untuk tidak membuatku pingsan.

"hei... lu tahu kan kalau gw cinta ama lu?" tanyaku, kalau mereka berempat mendengar ini aku yakin mereka akan langsung menyeretku menjauh, tapi aku harus mengatakannya, kapan lagi kalau tidak sekarang. Anehnya, dia terkekeh mendengarnya.

"tiga tahun... dan kamu baru bilang itu sama aku sekarang?!" katanya sambil menggeleng, "what a girl you are!"

"itu gak menjawab..." kataku. Dia memandangku lagi, kali ini pandangannya lembut sekali. Ugh... tak adil. Aku mengepal tangan kuat-kuat, menahan diri agar tak menangis.

"yes I know... I know it for long time" jawabnya, aku menunduk-sebisa mungkin mengatur nafasku agar tetap tenang, "but I also know that you love your dream even more... more than you love me, more than you love everything, and that's the reason why it's so difficult for you to spit out those words this past three years, right?"

Aku kembali menatap wajahnya, ekspresinya selembut sebelumnya, suaranya setenang biasanya, dia benar-benar memahami semuanya.

"maaf, maafin gw" kataku.

"ya... dimaafin lah... udah lewat juga kan" katanya sambil tersenyum, "dan aku pun harus minta maaf sama kamu... maaf karena aku gak bisa jadi 'orang itu', orang yang kamu harapin untuk nemenin kamu ngeraih cita-cita kamu sampai akhir... maaf karena ternyata aku hanya lelaki konvensional... yang bahkan gak punya keberanian untuk nunggu kamu... maafkan aku"

Aku memandangnya lekat-lekat, kemudian aku menutup mata rapat, memblokir wajahnya dari mataku. Oh Tuhan, kalau Kau mau hukum aku karena menyakiti orang ini, gak usah segininya kenapa?!?! akan lebih mudah kalo dia menghinaku dengan sekuat tenaga, akan lebih mudah kalau dia tidak segini pengertiannya. Bagaimana aku bisa ikhlas kalau dalam hatiku yang paling dalam aku masih merasa salah dengan meninggalkan manusia seluarbiasa dia.

Aku membuka mataku pelan-pelan, memandangnya dan tersenyum.

"gw inget kenapa gw bisa segitu jatuh cintanya ama lu" kataku. Dia hanya terkekeh. Dia memandangku lagi dan kemudian mengangkat tangannya mengusap kepalaku, brotherly.

"take care of yourself, please don't be as reckless as you are here... there're not your teritory anymore, behave yourself!" katanya.

"why everybody keeps telling me to behave?! i'll be just fine" balasku sebal, dia tersenyum.

"i hope so". Kemudian aku ingat sesuatu, aku tersenyum.

"hei... gw liat foto nikahan lu, 'your girl is lovely Hubbel'" kataku sambil nyengir. Dia tertawa.

"The Way We Were!" katanya sambil menunjukku, aku tersenyum.

"your favourite movie... but trust me, you're not Katie, you're not that complicated... " dan dia berhenti sebentar, mengerutkan kening, "...and she's not that simple you know", katanya sambil tersenyum.

"I hope so..." balasku, 'because I don't want to lose another you, and I don't want you to regret anything in the rest of your life, a person like you doesn't deserve regret'.

"goodbye..." kataku akhirnya.

"goodbye..." balasnya. Aku melemparkan satu senyum untuk terakhir kalinya dan berbalik melangkah pergi.

Aku kembali kepada sahabat-sahabatku, mengucapkan kalimat perpisahan sekali lagi dan kemudian tanpa ragu melewati keamanan menuju area check in. Satu langkah lagi menuju cita-cita itu... satu hal lagi yang harus diusahakan dalam dua tahun ke depan, untuk mencoret satu lagi item dalam rencana masa depan... Sekolah S2 ke Eropa.

1 comment:

Alris said...

Posting menarik. Salam kenal.