Wednesday, January 7, 2009

Beberes CD+DVD

Saya sedang mengklasifikasi dan mendata ulang seluruh CD dan DVD yang saya punya, terutama CD dan DVD data yang isinya bisa macam-macam dengan judul yang kurang menjelaskan. Lewat satu setengah jam, baru selesai untuk kategori Film dan Drama. Tercatat ada 14 DVD berisi film, 15 drama dan 3 campuran antara film dan drama. Untuk drama biasanya 1 DVD berisi satu judul drama, dari episode awal sampai final, drama jepang biasanya terdiri dari 10-11 episode. Kalo DVD film isinya macem-macem, antara 3-6 film per DVD tergantung ukuran file filmnya. Hasil sortir umum adalah seperti ini:

14 DVD film
15 DVD drama
3 DVD film+drama
35 keping installer dan data penting (CD+DVD)
38 DVD musik, konser, video
35 CD musik
12 DVD rusak
5 CD rusak
5 CD kosong

Semua CD+DVD ini saya kumpulkan selama masa kuliah, berarti yang saya beli dan saya download selama kuliah. Setiap DVD biasanya dipake kurang lebih 4,2 GB, berarti saya sudah mendownload kurang lebih 58,8+63+12,6 = 134,4 GB untuk drama dan film saja. Ada 27 DVD data musik (isinya hasil download semua), berarti 113,4 GB data musik... taruhan, pasti lebih dari setengah isinya korea :D 11 DVD lainnya itu DVD punya teman dan yang saya beli di kota kembang, terdiri dari 4 DVD konsernya X-Japan (punya Ditha), 5 DVD konser Dreamtheater, 1 DVD 3G, dan 1 DVD konser Within Temptation. Fyuuuhhh... untung saya gak terlalu gila anime, kalo saya doyan anime mungkin bisa ampe beratus-ratus DVD (kayak si Edho).

Klasifikasi buat film dan drama masih cukup gampang, yang ribet adalah saat harus mensortir DVD yang isinya video-video musik, dari barat, jepang, dan korea, satu DVD pasti isinya bejibun. Secara satu video performance atau video clip paling gede itu 100 MB, belum kalo isinya hasil nge-Youtube, 1 DVD bisa sangat gado-gado. Hadoh... yang ini besok aja lah diberesinnya... nyerah, loba teuing!

Tuesday, January 6, 2009

warnet

LAMBAT SEKALIIIIII..........

Saya lagi online di warnet, pertama kali ke warnet diluar kampus setelah 3 tahun lalu (ini serius), dan bikin saya emosi! Lambat ternyata bo. Download 14 MB aja butuh 1 jam, dan saat mencoba file 100 MB... wow... 10 jam!!! Padahal kalo download di rumah atau kampus aja 10 menit udah bikin saya kesel. Ya ampun... ternyata saya sama sekali tidak sabaran ya... Musti banyak bersyukur...

Saturday, January 3, 2009

Kembang Api

Aku tak pernah tahu bahwa akan terlihat seindah ini. Setiap tahun, saat terompet-terompet murah berteriak dari ruang tengah tiap rumah, dari pinggir jalan, dari tempat manapun di seluruh dunia, aku tak ada di sana. Hanya meringkuk di dalam kamar, tidur jika bisa, baca buku kalau tak bisa tidur. Tak pernah ada yang istimewa pada pergantian 31 Desember ke 1 Januari.

Malam itu, entah apa yang membuatku berada disana, dikelilingi orang-orang, dikelilingi kemeriahan. Hanya saja aku tahu terkadang itu menyenangkan. Dan malam itu pula aku melihat bumi menggelegak. Kemilau kembang api aneka warna meluncur dari segala jurusan, seolah langsung terlontar dari permukaan tanah. Aku tak tahu bahwa bisa telihat seindah ini.

Dua puluh tahun berlalu, ternyata sudah duapuluh tahun. Renunganku mungkin setengah selesai saat perjalanan Lembang-Jayagiri-Tangkuban Parahu, dan malam itupun banyak yang bisa direnungkan. Langit malam terlalu kelam, itu membuat kembang api terlihat lebih indah, walau sesudahnya sebaris kabur awan berarak lambat ke timur. Kalau tak ada kegelapan, kau tak akan melihat bintang. Aku baru sadar bahwa kalimat itu berarti sangat luas.

credit: photo by Andriy Satriya

Friday, December 26, 2008

Berjalan-jalan

Natal kemaren, tepatnya tanggal 25 Desember 2008, yang juga ulang tahunnya Ditha, saya ikut hiking bareng LSS ke Tangkuban Parahu, ini beneran hiking karena kita ngambil jalur lewat Jayagiri (gak lewat jalan raya). Ini acara rutinnya LSS tiap natal, terakhir kali saya ikut itu waktu saya tingkat 2, sekarang setelah punya titel alumni saya baru ikut lagi.

Sepanjang jalan saya banyak berpikir, tentang diri saya dan lingkungan, tentang setahun kemarin dan rencana tahun depan. Tentang apa yang sudah saya lakukan dan yang belum saya lakukan. Tentang Orang tua, saudara, teman, orang yang saya suka. Tiga jam perjalanan di tengah hutan benar-benar media yang tepat untuk memikirkan semua itu tanpa diganggu. Dan selewat itu semua, saya pun jadi tahu bagaimana karakter saya sekarang, perkembangan apa yang sudah saya capai selama setahun, penurunan apa saja yang sudah saya derita, dan sungguh melegakan bisa menyadari itu semua. Tahun depan mungkin akan jadi tahun yang sulit, jauh lebih sulit dari tahun-tahun yang sudah saya lewati. Banyak ketidakpastian disana, dan anehnya itu yang menjadikannya menarik. Kita lihat saja nanti.

Selain itu saya juga jadi banyak merhatiin orang-orang teman seperjalanan saya. Banyak sekali anak muda yang saya gak terlalu kenal, sehingga saya iseng merhatiin mereka dari jauh. Juga teman-teman dan para senior saya, bagaimana mereka sekarang?!? Saya ingat satu perkataan dari seorang trainer SSG DT yang jadi trainer acara pelantikan kaderisasi HME 2004:

"kalau kamu pengen tahu karakter orang, bawa dia jalan jauh"

Dan setelah melewati berbagai kesempatan dan bertemu banyak orang, saya tahu bahwa hal itu umumnya benar :D

Sunday, December 21, 2008

3 hari, 3 Doa 3 Cinta

SAYA KEMBALI!!!

3 hari terjebak di belantara Jakarta, dengan HP yang akhirnya mati karena lowbatt dan tidak menyentuh internet sedikitpun... ugh... neraka! (kayak gini aja udah neraka, gak kebayang neraka beneran kayak apa...). Jadi apa yang membuat saya terjebak di Jakarta? tak lain adalah pekerjaan sebagai jobseeker. Ada tes di salah satu perusahaan penyedia layanan internet yang kantornya di Jakarta Selatan, di mana salah satu produknya itu punya nama 'sapu', hehehe...

Bagaimana tesnya?

Menarik! ada urutan yang agak terbalik. Pertama kali saya diinterview oleh beberapa bapak dari divisi dimana saya melamar dan juga mbak-mbak baik dari HRDnya. Interviewnya menarik, dan salah satunya saya menceritakan soal blog saya ini panjang lebar. Selain itu saya juga ditanyain soal TA, yang anehnya bikin saya agak seneng, berhubung beberapa pertanyaan yang saya harapkan bakal keluar di sidang sarjana saya dulu malah keluarnya pas interview ini... jadi kayak dikasih jalan memuntahkan apa yang sudah diujung lidah. Abis interiew, saya disuruh mengikuti psikotes dan interview psikologi dari konsultan HR yang digunakan perusahaan. Jadi agak jiper, masalahnya konsultan inilah yang tidak meloloskan saya di tahap interview psikologis waktu saya daftar Indosat dulu, tapi Alhamdulillah... saya merasa saya sekarang melakukannya dengan lebih baik. Yup, usaha udah, tinggal berdoa dan menunggu hasil tes kemarin... semoga saya dapet ni kerjaan. Berhubung setelah Ayu ditetapkan ditempatkan di Jakarta, saya pun jadi kabita pengen gawe di Jakarta.

Selain tes ngapain lagi?

Nonton film tentu saja :D. Kosan Ditha yang baik hati, yang dengan senang hati saya tumpangin, berada di daerah genteng ijo, belakang kuningan dan deket banget ama Setiabudi One. Jadinya, saat sabtu kemaren saya selesai tes saya mutusin buat nonton. Film apa? tadaaa... 3 Doa 3 Cinta! Kenapa? karena dari 4 film yang ditayangkan, 2 saya udah nonton, 1 udah ada di rileks, jadi yang tersisa cuman film ini, lagian saya udah lama gak nonton film Indonesia di bioskop.

Jadi bagaimana filmnya?

Percaya atau enggak, saya suka ni film. "Wow... akhirnya, Puput bisa suka ama film dimana di dalamnya ada Nicholas Saputra dan Dian sastro sekaligus, mereka sendiri-sendiri aja udah bikin kesel, sekarang mereka berdua dan Puput bisa suka, luar biasa." Itu yang saya pikirkan saat pertama kali berpikir tentang hal yang akan saya tuliskan mengenai film ini (saya terkadang memang menyebut diri sendiri sebagai orang ketiga tunggal di luar diri sendiri, hahaha...).

Film ini pantes masuk nominasi FFI 2008, akhirnya saya menonton salah satu film yang dinominasikan jadi film bioskop terbaik (FYI, dari kelima nominasi baru film ini yang saya tonton, sisanya entah bisa ditonton atau enggak). Saya pingin muji penulis skenario dan tentu saja sutradaranya (dua-duanya dijerhaian Nurman Hakim). Walau terdapat 3 cerita di film ini, plot keseluruhan film dapat terjalin rapi dan mengalir. Penggambaran suasana pesantren tradisionalnya benar-benar pas. Mungkin beberapa penonton akan merasa geli dan heran dengan keseharian santri-santri itu, tapi saya sendiri sudah sering mendengar cerita mengenai pesantren seperti ini, karena Ayah saya dibesarkan di lingkungan pesantren begini dan sepupu-sepupu cowok saya dulu dikirim ke pesantren tiap libur panjang (mirip summer camp buat orang bule mah). Dimulai dari bangun subuh buat shalat bareng, pembahasan kitab arab gundul pake bahasa jawa (kalo di Garut mah pake bahasa sunda), ampe gaya hidup yang super sederhana dari para santrinya (tidur beralas tiker, pake sarung doang dan buku dijadikan bantal). Saya agak curiga bahwa tokoh Rian (Yoga Pratama) di film ini sebenernya representasi sutradaranya sendiri, dilihat dari footnote yang ditampilkan di akhir film.

Jajaran pemerannya sempet bikin saya sangsi, eh salah... keberadaan Nicholas Saputra dan Dian Sastro yang bikin saya sangsi. Bukan karena saya menyangsikan keahlian akting mereka, ya... saya gak pernah bener-bener suka sih ama akting mereka, tapi ketidaksukaan terbesar saya adalah adanya kesan bahwa film ini adalah film reunian Rangga dan Cinta, yang dengan begonya ditegaskan oleh poster filmnya. Pliss deh... bahkan tokoh Dona Satelit (Dian Sastro), walaupun memegang peran penting, jelas gak segitu pentingnya ampe bisa dipajang di poster. Lebih layak ketiga sahabat Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama) dan Syahid (Yoga Bagus) yang dipajang di poster, karena film ini memang film tentang mereka, bukan cerita Dona dan Huda! Saya mendapat kesan bahwa pemajangan Dian di poster memang disengajakan untuk menarik minat para fans AADC, murni taktik marketing, tapi jelas mengecewakan... seolah mereka tidak begitu percaya diri dengan kualitas filmnya sampai harus memasarkannya dengan cara begitu.

Bagaimana aktingnya? Nico...oh nico... saya ingin ngasih selamat karena akhirnya saya merasa terkesan dengan akting kamu, tapi komen dikit deh... kenapa gak ngurusin badan sih??? Huda jelas keliatan terlalu terurus dibandingkan teman-temannya yang lain, membuat saya bertanya-tanya apakah Romo Kyai sang pemimpin pesantren segitu sayangnya ama dia sampai dia diurus lebih baik dibanding yang lain??? Akan sangat pas kalo Nico ngebalikin posturnya saat film GIE untuk film ini, kurus dan kuleuheu. Walau begitu, saya jelas mempertanyakan mengapa dia gak menang Citra untuk aktingnya disini??? ugh... aneh, mungkin saya gak akan terlalu protes kalo yang menangnya bukan si cempreng Vino Bastian... tapi pliss deh... dibandingin ama akting Nico di sini aja Vino jelas kalah, entah bagaimana akting para nominasi yang lain.

Untuk pemeran pendukung, Yoga Pratama akhirnya menandai kembalinya dia ke kancah hiburan dengan film ini dan Citra di tangan. Anak yang dulu selalu saya ingat sebagai 'Kak Yoga' yang bawain acara musik anak-anak di Indosiar, ternyata gak bertambah gede dari kali terakhir saya melihatnya di TV. Bedanya, dia menunjukkan bakat lain selain jadi pembawa acara musik anak-anak. Duo Yoga (Yoga Pratama dan Yoga Bagus) di film ini sangat keren. Yoga Pratama pantes dapet Citra dan saya sangat terbeli oleh akting Yoga Bagus sebagai Syahid. Saya seneng ketika akhirnya ada orang yang digambarin soleh di film dan dia beneran bisa ngaji (kalo di sinetron ramadhan biasanya ngaji Al Ikhlas atau Al Fatihah, itupun dengan pelafalan yang bisa bikin mentor tahsin saya negur beberapa kali). Adegan dan suara ngaji di sini kedengeran fasih dan mulus, saya berdoa semoga itu bukan lipsync. Selain itu si Yoga Bagus ini bisa memperlihatkan keluguan pemuda kampung soleh yang masih gampang keombang-ambing. Gimana dia sayang banget ama Bapaknya, kebawa pengajian ekstrem, benci banget ama orang bule, sampai akhirnya nyadar bahwa orang bule gak selalu jahat. Saya pikir dia pun pantas diganjar nominasi Citra disini, walau saya gak terlalu bisa bandingin ama pesaingnya yang lain.

Tata suara dan musiknya keren banget. Lipsync lagu dangdutnya Dona Satelit, sampai permainan tagonian (rebana) para santri bisa masuk dengan mulus ke dialog sehari-hari, gak timpang kayak sinetron-sinetron 'musikal' di Indosiar, bahkan lebih bagus dari lipsyncnya Camp Rock punya Disney (pliss deh...). Dari editing sendiri, jujur saya salut dengan ide memasukkan keberadaan handycam Rian sebagai pengubah jalan cerita. Awalnya saya kira tu handycam cuman berfungsi menggambarkan keinginan Rian aja yang suka video dan pengen bikin film. Adanya beberapa adegan fast-forward video di handycamnya itu juga ngasih satu momen unik, seolah kita melihat kibasan masa depan (macam Alice Cullen aje...).

Film ini pantas masuk jajaran film terbaik di FFI. Dan saya jadi semakin penasaran dengan sang pemenang Fiksi. 3 Doa 3 Cinta sendiri gak terlalu bersinar di malam anugerah, hanya Yoga Pratama yang berhasil naik podium. Tapi dengan begitu saya semakin penasaran bagaimana film-film nominasi lainnya. Semoga mereka akan segera merilisnya di bioskop (sekali lagi, kategorinya itu film bioskop, jadi tolong diputer di biokop ya...). Masih ada May, Claudia/Jasmine, Under the Tree dan tentu saja Fiksi yang harus diburu.

3 hari di Jakarta, dengan 1 pekerjaan yang dilamar, 1 film yang ditonton dan 1 potong roti isi ham dan keju gulung yang luar biasa nikmat. Makasih lagi buat Pradita Saraswati yang mau menampung saya selama 3 hari kemaren, buat Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang menyelenggarakan tes saya semoga Anda-Anda sudi memberi saya pekerjaan, buat 21 Setiabudi yang walau leutik tapi lumayan juga, dan tentu saja buat Imperial Cakery dengan roti isi ham dan keju gulungnya yang nikmat. Semoga saya masih berjodoh dengan Jakarta, yang artinya saya dapet kerja di sana... hehehe... :D

Wednesday, December 17, 2008

Yang lain bisa menunggu

Gadis itu memandang kosong ke layar monitor komputernya yang berkedip-kedip. Beberapa file excel dan data dalam pdf terbuka di sana, tapi pikirannya sama sekali tak di situ. Beberapa saat kemudian ada telapak tangan yang muncul di antara matanya dan layar komputer, bergoyang-goyang semangat dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Dia melirik pada si pemilik tangan, sahabatnya yang ada di cubicle sebelah sekarang berdiri di samping mejanya, memandanganya antara tertarik dan bingung.

"apa?" tanya gadis itu. Sahabatnya itu melirik jam dinding.
"ini baru jam 10 pagi dan lu udah ngelamun?!?! Hello... apa yang terjadi dengan dunia? lu dapet vision soal perang dunia?" sindirnya sambil terkekeh. Gadis itu hanya memberengut kesal.
"nope, I just had an out of body experience" balasnya.
"ada apa sih bu?" tanya sahabatnya itu lagi.

Gadis itu diam sebentar, kembali memandang monitor komputernya dan tak menjawab.
"bumi pada mars, bumi pada mars... helloooo!" sahabatnya itu setengah berteriak di telinganya.
"ihh... pliss deh" gadis itu melempar pandangan kesal pada sahabatnya.
"habis, ditanya malahan ngelamun lagi, ada apa sih? hei... ada apa?" tanyanya lagi.

Gadis itu memperhatikan wajah sahabatnya bentar, membuka mulut tapi kemudian menutupnya lagi seakan tidak yakin, akhirnya dia mengatakan sesuatu,
"apa fokus hidup lu sekarang?" tanyanya. Sahabatnya menaikkan sebelah alisnya bingung.
"heh?"
"uhh... jawab aja deh, apa fokus hidup lu sekarang?" tanya gadis itu lagi. Sahabatnya mengerutkan kening sebentar, memandang menyelidik pada gadis itu sebelum menjawab.
"well... gw udah lulus, dapet kerjaan enak, nikah udah berarti... punya anak kali" jawabnya sambil nyengir.
"ugh... as I thought!" Gadis itu menjatuhkan kepalanya ke atas meja, sahabatnya itu mengerutkan keningnya lagi.
"apa jawaban gw salah?" tanyanya.
"enggak lah... cuman... gw yang salah nanyanya ama lu" jawab gadis itu.

Sahabatnya semakin tak mengerti, dia memperhatikan kepala gadis itu yang tertunduk di atas meja, kemudian matanya tertumbuk pada satu benda yang tergeletak di samping monitor komputer. Kotak kecil berlapis beludru hitam dengan pinggiran dari metal berwarna emas. Dia tak harus membuka kotak itu untuk tahu apa yang ada di dalamnya, dan dia melongo tak percaya.
"WOW..." katanya kemudian. Gadis itu mengangkat kepalanya dan melirik sahabatnya, agak bingung dengan wajah terkesima sahabatnya.
"apa?"
"itu... apa?" kata sahabatnya sambil mengedikkan kepala pada kotak beludru di atas meja.

Gadis itu melirik pada kotak itu dan langsung mengambilnya melemparkannya ke dalam laci. Selanjutnya dia diam, berusaha tak berekspresi walau semburat merah mulai muncul di wajahnya. Sahabatnya semakin melongo tak percaya.
"wow..." katanya lagi.
"ugh, pliss deh, gak segitunya kali" balas gadis itu terdengar kesal.
"tadi gw bilang lu punya vision soal perang dunia, gw salah, lu baru saja menyebabkan perang dunia" jawab sahabatnya itu, si gadis memukul tangan sahabatnya itu pelan melempar pandangan kesal.
"cowok??? lu ngelamun pagi-pagi di kantor gara-gara cowok?? itu baru perang dunia... siapa?" Sahabatnya itu bertanya menyelidik.

Gadis itu terlihat agak tak yakin tapi akhirnya dia menunjuk pada satu foto yang tertempel di dinding cubiclenya, fotonya dengan seorang pria, sahabat dekatnya semenjak kuliah dulu. Senyum yang awalnya terpajang di wajah sabatnya mendadak hilang dan berubah menjadi ekspresi serius.
"seriously?" tanyanya, dan gadis itu mengangguk lemas.
"wow... sobat sendiri, oke... itu sulit" katanya kemudian.
"masalahnya bukan itu" gadis itu berkata pelan. Sahabatnya memandangnya heran.
"lalu?" katnaya.

Gadis itu diam sebentar, kemudian menjawab.
"awalnya gw pikir juga gw bingung gara-gara dia sobat gw, gak pernah kepikiran sama sekali buat nganggap dia berbeda... tapi ternyata bukan itu..." dia diam sebentar, sahabatnya masih memperhatikannya dengan serius.
"fokus hidup gw sekarang bukan ni... bukan itu" dia tak sampai hati menyebut kata 'nikah'.
"hah?" sahabatnya menimpali.
"ayolah... kerjaan gw baru settle, gw baru memulai hidup gw... saat ini gak ada yang pengen gw pikirin selain naik ampe posisi manager, mungkin gw bakalan mikirin... itu...well... 5 tahun lagi" gadis itu menjawab. Sahabatnya sekarang melempar pandangan tak setuju.

"honey, you're 24, and you still talking about marriage like you're 18... pliss deh, cewek lain tuh udah ngerasa perawan tua kalo belum nikah di umur lu sekarang, dan lu berpikir buat baru mulai 'memikirkan'nya 5 tahun lagi, which means at the time you're 29, only God knows when you will marry!" sahabatnya itu membalas.
"ya terus kenapa? orang bule banyak yang nikah umur 40 kok, setidaknya gw merencanakan 10 tahun lebih cepat dari mereka" balas gadis itu.
"mereka bisa nikah umur 40 karena mereka bisa have sex kapan aja, dan lu berpikir buat hidup kayak gitu?!?!" sahabatnya itu memberikan pandangan mengancam.
"ya enggak lah... bisa mati mendadak orang tua gw... tapi pliss deh... nikah? apa yang lebih buruk dari itu?!?!" kata gadis itu.
"jadi perawan tua!" balas sahabatnya.
"lu tau banget itu bukan masalah buat gw" balas gadis itu.
"yup, gw tau banget bahwa satu-satunya masalah lu adalah lu gak pengen diperbudak, dimana pernikahan buat lu sama menyedihkannya dengan rantai tahanan" balas sahabatnya.

Gadis itu diam, bagaimana pun dia tahu bahwa sahabatnya itu benar. Sahabatnya hanya menghela nafas panjang, dia kemudian berjalan balik ke cubiclenya. Gadis itu menyangka sahabatnya menyerah untuk membicarakan masalah itu lagi, seperti yang biasanya terjadi kalau mereka berdua membicarakan pernikahan. Tapi kemudian sahabatnya itu kembali dan menaruh satu buku di mejanya, gadis itu membaca judul buku itu beberapa kali... Kado pernikahan untuk isteriku. Dan dia melempar pandangan tak percaya pada sahabatnya.

"what the..." tapi kata-katanya terpotong.
"diem, baca ini, udahnya kita ngobrol-ngobrol lagi, gw males ngomongin beginian ama lu selama lu masih keras kepala dan nutup diri, pelajari dulu entar kita ngomongin lagi... titik" setelah itu sahabatnya itu kembali ke cubiclenya. Gadis itu masih memandangnya tak percaya. Dia kemudian balik memandang buku itu, dan dengan helaan nafas panjang dia memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Liat entar aja deh. Pikirnya menyerah, dan dia berusaha kembali fokus pada monitornya, pada sheet excel dan file pdfnya, yang lain bisa menunggu.

Monday, December 15, 2008

Saya baru pulang dari Jababeka. Ugh... saya jatuh cinta mendadak ama tempat ini. Fasilitas lengkap, jalannya gede, kalo keterima ngantor disana berarti dari kos ke kantor deket dan bis yang ke bandungnya juga gampang. Buat orang gunung yang tinggal di kompleks yang jauh ke mana-mana, tempat kayak gini bener-bener bikin saya kabita. Kalo misalnya saya jodoh ama ni kerjaan, dah ngebayangin ke kantor jalan kaki dan tiap pagi bisa jogging keliling kompleks, weekend kalo gak pulang ke bandung yang nongkrong di kedai kopi... aaahhhh... cinta!!! Mudah-mudahan saya jodoh ama kerjaannya :) *amin...*

Sunday, December 14, 2008

The day the earth stood still

Film ini mungkin film yang dapat menyediakan selusin lebih kata-kata mutiara yang bisa di 'quote' oleh banyak orang. Dan sayangnya keberadaan Keanu Reeves dan Jennifer Connelly tidak bisa merubah kenyataan bahwa hanya itulah kelebihan film ini.

Jalan cerita yang ketebak, monoton dan nyaris tanpa klimaks. Sepanjang film saya bertanya-tanya sebenernya intinya itu apa? ni alien tuh apa? dan tidak ada jawaban memuaskan sampai akhir. Secara umum kesimpulan dari film ini adalah pemerintah Amerika itu gak punya solusi kedamaian lain selain konfrontasi militer, para scientist yang pantes jadi pemimpin dunia, manusia itu makhluk tata surya yang selalu punya peradaban yang lebih rendah, dan Klaatu adalah solusi untuk semua permasalahan teknologi.

Alia nampaknya berharap bisa punya Klaatu sebagai suami, bukan gara-gara muka Keanu Reeves yang ganteng (itu juga sih...), tapi kalo microwave atau telepon rusak bisa diperbaiki dengan mudah... atau seperti idenya si Ida, gak usah bayar telepon tapi telepon bisa diakalin biar jalan terus... :D