Hari ini digelar Open House Unit di kampus ITB. Saya jujur sangat senang dengan keadaan ini. Sebagai warga kampus yang mungkin sejauh ini hanya menonton keberjalanan kampus, saya benar-benar bersyukur dengan geliat yang mulai terlihat dari kawan-kawan mahasiswa saat ini. Dari segi regional beberapa organisasi, memang sangat terasa degradasi nilai, pemikiran dan kesadaran di kalangan mahasiswa baru. Beberapa aktivis terdahulu yang masih tersisa berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan penurunan nilai, ada yang mulai menunjukkan keberhasilan ada yang masih stagnan.
Dari keberjalan kampus secara umum, Saya pribadi sempat pesimis ketika kepemimpinan Keluarga Mahasiswa yang baru, naik menggantikan yang lama. Karena gelagat awalnya saja sudah tidak terlalu bagus. Diawali dengan sedikit 'ricuh' di beberapa tempat, seperti forum umum ataupun forum online. Hawa pembaruan yang diusung muncul bersamaan dengan ketidakharmonisan dengan pemimpin yang lalu. Sebagai orang yang menonton, saya hanya dapat berkomentar, "ya, kayak gini lagi deh". Seperti komentar saya pada tulisan mbak Okky yang ini, saya sangat tidak menyukai gelagat pembaruan yang seolah-olah mementahkan apa yang sudah dibangun oleh masa pemerintahan sebelumnya. Apa yang salah dari meneruskan sesuatu yang baik? Tidak ada yang bisa membuat sesuatu dengan sangat sempurna, kita hanya bisa mendekati kesempurnaan, tapi tidak akan bisa menyentuh kesempurnaan itu sendiri, itu cuman milik Tuhan. Dan usaha medekati kesempurnaan itu akan maju lebih cepat kalau berupa satu proses kontinu, kalo semua hal balik lagi ke awal sama saja seperti kamu masuk ke kotak yang berisi ular yang langsung menuju kotak nomor 1 dalam permainan ular tangga, mementahkan segala usaha yang lalu.
Apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa kesengajaan, ternyata saya punya akses terhadap salah satu menteri kabinet yang baru, terutama yang banyak berhubungan dengan unit dimana saya berada, Seni dan Budaya. Dari beberapa obrolan dengan beliau, saya sedikit banyak tahu tentang visi kabinet tahun ini, dan penilaian saya pun membaik. Bisa saya ambil kesimpulan, beberapa gelintir teman-teman mahasiswa memang senang dengan keadaan ramai, entah dalam konflik atau bersenang-senang, sehingga mereka meluangkan sedikit waktunya untuk melemparkan beberapa isu kontroversial dalam forum online. Tak terlalu jelek, karena untuk beberapa orang, semangat pembaruan baru akan muncul kalau situasi mulai menegangkan.
Kembali pada keseharian kampus saat ini. Penerimaan Mahasiswa Baru sudah berjalan, meski saya tak mendengar beritanya sama sekali. OHU tadi siang sangat ramai pengunjung, satu angin segar bagi kegiatan kemahasiswaan ke depannya. Kaderisasi beberapa himpunan sedang berjalan. Tahun ajaran ini dimulai dengan cukup ramai, semoga akan semakin ramai lagi pada kelanjutannya. Sejujurnya, kalo misalnya lancar, tahun ini akan menjadi tahun terakhir saya di kampus, dan saya berharap tidak lewat dengan dingin-dingin saja.
"a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction" - Virginia Woolf
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts
Saturday, August 18, 2007
Friday, August 17, 2007
Ngerti karena rame
Ada yang aneh ketika saya pulang ke rumah malam ini. Kakak perempuan saya, Intan, sedang menonton film India di TV, malam-malam? semenjak kapan ada stasiun TV Indonesia yang menayangkan film India di malam hari? ternyata dia tidak menontonnya dari stasiun TV Indonesia, melainkan dari stasiun TV India internasional yang ada di jaringan Astro.
Apa yang mengherankan dari nonton India? bukannya Intan tiap hari nonton India?
Yang mengherankan adalah dia menonton film dengan bahasa yang tidak dia mengerti itu tanpa teks. Saya tahu Intan tidak mengerti bahasa India dan film itu berbahasa India, wajarnya dia tidak mengerti kan? tapi kenapa dia bisa menceritakan kembali cerita film yang ditontonnya itu? Aneh!
Saya sendiri adalah penggemar dorama Jepang, saya tidak mengerti bahasa Jepang jadinya saya menonton jika-dan-hanya-jika ada subtitle-nya. Pernah saya mencoba menonton tanpa subtitle, rasanya aneh sekali, seperti menonton film untuk alien dan jadinya saya tak mengerti jalannya cerita dorama tersebut. Jadi kenapa Intan bisa ngerti cerita film India itu padahal dia gak ngerti bahasa India?
Penasaran saya tanya dia, "kok ngerti sih? kan intan gak bisa bahasa india". Dan dia menjawab, "biarin gak bisa juga, yang penting rame". Dan saya balik nanya, "terus kenapa bisa ngerti?". Intan hanya jawab, "soalnya rame".
Ada hubungan sebab-akibat yang aneh disini. Alur yang saya tahu itu adalah nonton film-tahu cerita-bisa menceritakan kembali-komentar, jadi komentar muncul karena sebelumnya telah ngerti dengan cerita filmnya. Tapi Intan mengatakan "rame" dulu sebelum dia "ngerti", jadinya dia mengerti film itu karena film itu rame?!?!?!?!
Mungkin perlu dibuat suatu riset khusus tentang "kesenangan yang berefek pada pemahaman". Jadi mungkin jika seseorang sudah setengah mati menyukai sesuatu, dia tanpa sadar dapat mengerti hal tersebut. Ya, saya sih tetap merasa ini aneh.
Apa yang mengherankan dari nonton India? bukannya Intan tiap hari nonton India?
Yang mengherankan adalah dia menonton film dengan bahasa yang tidak dia mengerti itu tanpa teks. Saya tahu Intan tidak mengerti bahasa India dan film itu berbahasa India, wajarnya dia tidak mengerti kan? tapi kenapa dia bisa menceritakan kembali cerita film yang ditontonnya itu? Aneh!
Saya sendiri adalah penggemar dorama Jepang, saya tidak mengerti bahasa Jepang jadinya saya menonton jika-dan-hanya-jika ada subtitle-nya. Pernah saya mencoba menonton tanpa subtitle, rasanya aneh sekali, seperti menonton film untuk alien dan jadinya saya tak mengerti jalannya cerita dorama tersebut. Jadi kenapa Intan bisa ngerti cerita film India itu padahal dia gak ngerti bahasa India?
Penasaran saya tanya dia, "kok ngerti sih? kan intan gak bisa bahasa india". Dan dia menjawab, "biarin gak bisa juga, yang penting rame". Dan saya balik nanya, "terus kenapa bisa ngerti?". Intan hanya jawab, "soalnya rame".
Ada hubungan sebab-akibat yang aneh disini. Alur yang saya tahu itu adalah nonton film-tahu cerita-bisa menceritakan kembali-komentar, jadi komentar muncul karena sebelumnya telah ngerti dengan cerita filmnya. Tapi Intan mengatakan "rame" dulu sebelum dia "ngerti", jadinya dia mengerti film itu karena film itu rame?!?!?!?!
Mungkin perlu dibuat suatu riset khusus tentang "kesenangan yang berefek pada pemahaman". Jadi mungkin jika seseorang sudah setengah mati menyukai sesuatu, dia tanpa sadar dapat mengerti hal tersebut. Ya, saya sih tetap merasa ini aneh.
Sunday, August 12, 2007
Musik untuk hidup
Saya tadi siang jalan-jalan dengan Alia dan beberapa anak LSS. Kami jalan-jalan ke BIP dan makan di food courtnya, cuman saya dan Alia yang pesen makanan, tapi yang makan ada 6 orang. Setelah makan saya buka laptop, niatnya buat akses email lewat hotspot gratis yang ada di BIP. Setelah saya membaca email dari pembimbing KP saya, saya iseng membuka blog dan seperti biasa memeriksa beberapa blog orang, salah satunya blog Ikram.
Agak kaget, karena ternyata postingan barunya adalah lirik lagu 'The Spirit Carries On' dari Dreamtheater. Saya sih langsung melonjak seneng karena saya suka setengah mati lagu itu. Terus Alia bilang, "udah liat postingan dia yang ada foto Batari gak?", saya jawab "gak". Dan kami pun mencari postingan itu, setelah menemukannya saya mau gak mau nyengir juga. Gile...ni orang gak cuman jago nulis aja rupanya ^^. Di foto itu ada sepenggal lirik lagu 'everything' dari Buble, yang banyak sekali disuka orang tapi gak pernah bisa saya sukai. Liriknya bagus sih, tapi saya tetap saja gak terlalu suka musik dengan irama begitu.
Kemudian pikiran saya melayang pada judul postingan ini, musik untuk hidup. Untuk beberapa orang, musik memang berpengaruh kuat. Entah dijadiin ajang mehe-mehe (melow-red), untuk jadi penenang hati, penyimpan kenangan, penginfeksi otak macamnya di training ESQ dsb. Gimanapun setiap orang pasti pernah merasakan satu hubungan intim dengan musik yang berpengaruh langsung pada dirinya.
Seperti lagu yang liriknya ada di postingan terbaru Ikram. Album scenes from a memory adalah album yang akan selalu saya dengar ketika saya pengen menenangkan diri. Karena lagu-lagu yang ada di album itu membuat saya berkhayal, berpikir, merasakan semua emosi dan akhirnya menenangkan diri sendiri, semuanya terjadi secara alami dan tanpa sadar saya jadi sangat sering ngedengerin album itu. 'The spirit carries on' dan 'home' adalah dua lagu yang selalu diputar ulang setiap kali saya mendengar album ini. 'Home' karena lagu itu bisa membuat saya mengeluarkan kemarahan saya yang paling dalam, tanpa ada efek destruktif ke lingkungan dan diri sendiri. 'The spirit carries on' karena setiap ngedenger lagu itu saya selalu merasa tenang, memberi kesempatan pada rasio saya untuk bangun. Dreamtheater memang luar biasa!!!
Terus ada satu lagi yang saya suka, Coldplay, 'fix you'. Lagu ini ngasih semangat banget, enggak dari nada dan irama seperti Dreamtheater (lirik DT juga keren banget sih), tapi dari lirik yang dalem dan ngena banget. Setiap kali saya berpikir untuk menyerah, saya akan dengar lagu ini dan otak saya akan menutup rapat-rapat kesempatan pada lidah saya untuk berkata 'nyerah'.
Musik itu memang luarbiasa, bisa ngasih semangat, membangun optimisme tapi di lain pihak bisa bikin destruktif. Makanya, yang namanya hati-hati itu berlaku juga buat denger musik. Mengartikan setiap nada dan kata itu dengan kolaborasi antara telinga, pikiran dan hati. Agar sadar akan makna, gak cuman sekedar 'kiasan'nya saja. Agar sadar akan fungsi gak cuman akan 'rasa'nya saja.
Beberapa orang mungkin mikir, "ya kalo suka musik denger aja, gak usah ribet-ribet". Mungkin itu sebabnya ada orang yang bisa suka ama lagu Ratu dan Dewi-Dewi, yang sulit sekali saya cerna 'keindahan'nya, saya cukup kagum pada orang yang bisa suka mereka, karena saya gak bisa. Mungkin seperti kata si Putri, buat saya "semua aja dianalisis", jadi denger musik pun dianalisis dari irama ampe lirik. Sesuatu yang bikin hidup saya terkadang lebih susah, tapi jauh lebih mengasikkan.
Jadi, apa musik berefek pada hidupmu???
Agak kaget, karena ternyata postingan barunya adalah lirik lagu 'The Spirit Carries On' dari Dreamtheater. Saya sih langsung melonjak seneng karena saya suka setengah mati lagu itu. Terus Alia bilang, "udah liat postingan dia yang ada foto Batari gak?", saya jawab "gak". Dan kami pun mencari postingan itu, setelah menemukannya saya mau gak mau nyengir juga. Gile...ni orang gak cuman jago nulis aja rupanya ^^. Di foto itu ada sepenggal lirik lagu 'everything' dari Buble, yang banyak sekali disuka orang tapi gak pernah bisa saya sukai. Liriknya bagus sih, tapi saya tetap saja gak terlalu suka musik dengan irama begitu.
Kemudian pikiran saya melayang pada judul postingan ini, musik untuk hidup. Untuk beberapa orang, musik memang berpengaruh kuat. Entah dijadiin ajang mehe-mehe (melow-red), untuk jadi penenang hati, penyimpan kenangan, penginfeksi otak macamnya di training ESQ dsb. Gimanapun setiap orang pasti pernah merasakan satu hubungan intim dengan musik yang berpengaruh langsung pada dirinya.
Seperti lagu yang liriknya ada di postingan terbaru Ikram. Album scenes from a memory adalah album yang akan selalu saya dengar ketika saya pengen menenangkan diri. Karena lagu-lagu yang ada di album itu membuat saya berkhayal, berpikir, merasakan semua emosi dan akhirnya menenangkan diri sendiri, semuanya terjadi secara alami dan tanpa sadar saya jadi sangat sering ngedengerin album itu. 'The spirit carries on' dan 'home' adalah dua lagu yang selalu diputar ulang setiap kali saya mendengar album ini. 'Home' karena lagu itu bisa membuat saya mengeluarkan kemarahan saya yang paling dalam, tanpa ada efek destruktif ke lingkungan dan diri sendiri. 'The spirit carries on' karena setiap ngedenger lagu itu saya selalu merasa tenang, memberi kesempatan pada rasio saya untuk bangun. Dreamtheater memang luar biasa!!!
Terus ada satu lagi yang saya suka, Coldplay, 'fix you'. Lagu ini ngasih semangat banget, enggak dari nada dan irama seperti Dreamtheater (lirik DT juga keren banget sih), tapi dari lirik yang dalem dan ngena banget. Setiap kali saya berpikir untuk menyerah, saya akan dengar lagu ini dan otak saya akan menutup rapat-rapat kesempatan pada lidah saya untuk berkata 'nyerah'.
Musik itu memang luarbiasa, bisa ngasih semangat, membangun optimisme tapi di lain pihak bisa bikin destruktif. Makanya, yang namanya hati-hati itu berlaku juga buat denger musik. Mengartikan setiap nada dan kata itu dengan kolaborasi antara telinga, pikiran dan hati. Agar sadar akan makna, gak cuman sekedar 'kiasan'nya saja. Agar sadar akan fungsi gak cuman akan 'rasa'nya saja.
Beberapa orang mungkin mikir, "ya kalo suka musik denger aja, gak usah ribet-ribet". Mungkin itu sebabnya ada orang yang bisa suka ama lagu Ratu dan Dewi-Dewi, yang sulit sekali saya cerna 'keindahan'nya, saya cukup kagum pada orang yang bisa suka mereka, karena saya gak bisa. Mungkin seperti kata si Putri, buat saya "semua aja dianalisis", jadi denger musik pun dianalisis dari irama ampe lirik. Sesuatu yang bikin hidup saya terkadang lebih susah, tapi jauh lebih mengasikkan.
Jadi, apa musik berefek pada hidupmu???
Monday, July 23, 2007
Jalan raya, pasar dan tempat parkir...
SEBAL!!! Jam sebelas malam dan saya baru sampai ke rumah. Badan pegal, kepala pening dan perut tidak enak. Baru saja saya terjebak kemacetan selama dua jam di jalan surapati depan lapangan gasibu bandung, HANYA DI DEPAN LAPANGAN GASIBU!! Ini kemacetan paling menjengkelkan sepanjang sejarah kemacetan yang saya alami. Bayangkan, bahkan motor yang biasanya bisa menyelip di celah antar mobil pun sekarang terpaksa mematikan mesinnya karena sudah lebih dari satu jam tak bergerak sama sekali. SAMA SEKALI, not even an inch, luar biasa.
Jalan Surapati memang termasuk jalan yang lebar jika dibandingkan dengan jalan lainnya di bandung. Tapi tetap saja tak cukup besar untuk menampung trafik ratusan kendaraan dari berbagai jurusan. Mungkin akan lebih bagus kalau jalan ini selebar jalan Thamrin di Jakarta, tapi sayangnya tak ada lahan lagi untuk melebarkan jalan.
Sewaktu saya kelas 2 SMP, pemkot Bandung telah berbaik hati melebarkan jalan surapati dengan membabad habis semua pohon besar sepanjang jalan dan mempersempit area trotoar untuk pejalan kaki. Ternyata mereka lebih suka memfasilitasi warganya untuk membuang polusi sebanyak mungkin lewat memadati jalan dengan kendaraan, daripada melestarikan pepohonan hijau besar yang bisa membuat polusi di kota berkurang atau menyuruh warganya untuk lebih mencintai berjalan kaki dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.
Dan ternyata, pelebaran jalan itu tak berarti sama sekali. Karena jalan semakin lebar, tetapi kendaraan yang memadatinya pun jauh bertambah banyak. Maka tak gunalah kau melebarkan jalan, macet itu tetap tercipta meski tak ada si komo yang lewat.
Belum lagi lapangan Gasibu. Saya selalu merasa keramaian yang dibuat di gasibu membawa malapetaka bagi trafik lalu lintas di jalan surapati. Tak sadarkah bahwa di ujung jalan surapati itu ada jembatan layang pasupati??? dan apa kabarnya jika ujung jalan layang itu diblokir oleh puluhan kendaraan yang sepertinya terpaksa "parkir" disana. Para pengguna jembatan pasupati pasti terjebak total di atas jembatan itu tanpa tahu kapan bisa keluar dari sana. Bagaimana jika tiba-tiba ada Ibu yang akan melahirkan terjebak disana? apakah dia harus melahirkan di tengah jalan raya yang macet? atau dia harus dilempar dari atas jalan layang ke jalan di bawahnya kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat??
Lapangan gasibu memang strategis sebagai arena pertunjukan hiburan untuk rakyat, tapi sama sekali tak ada sarana pendukung yang baik untuk para pengunjungnya. Menurut saya daripada pemkot menghabiskan banyak uang untuk membangun Monumen perjuangan Rakyat Jawa Barat dan beberapa taman indah di depan lapangan Gasibu, akan lebih baik jika mereka membuat lapangan parkir superluas dan arena khusus PKL disana. Karena setiap hari sabtu minggu, jalan surapati di depan gasibu mendadak berubah fungsi dari jalan raya utama menjadi pasar kaget sekaligus tempat parkir, alhasil seluruh trafik menuju jalan P.H.H Mustafa dan menuju jalan dago di arah sebaliknya terblokir. Dan monumen megah itu tak bisa melenyapkan kemacetan yang ada disana.
Jika Bandung memang sudah menentukan visi untuk menjadi kota wisata belanja seperti singapura, mungkin sudah saatnya pula pemkot bandung memikirkan untuk membuat sistem lalulintas yang efektif dan membangun infrastruktur penunjang yang bisa mengurangi efek negatif akibat lonjakan pengunjung pada hari libur. Karena titel 'Kota Belanja' saja tak lantas membuat kota ini menjadi lebih teratur. Sudah saatnya kita semua sadar akan konsekuensi dari sebuah keuntungan.
Bandung, 21 Juli 2007
nb : ini postingan pertama dimana kata 'gw' diganti menjadi 'saya', usulan dari seorang teman via japri, yup mari kita coba.
Jalan Surapati memang termasuk jalan yang lebar jika dibandingkan dengan jalan lainnya di bandung. Tapi tetap saja tak cukup besar untuk menampung trafik ratusan kendaraan dari berbagai jurusan. Mungkin akan lebih bagus kalau jalan ini selebar jalan Thamrin di Jakarta, tapi sayangnya tak ada lahan lagi untuk melebarkan jalan.
Sewaktu saya kelas 2 SMP, pemkot Bandung telah berbaik hati melebarkan jalan surapati dengan membabad habis semua pohon besar sepanjang jalan dan mempersempit area trotoar untuk pejalan kaki. Ternyata mereka lebih suka memfasilitasi warganya untuk membuang polusi sebanyak mungkin lewat memadati jalan dengan kendaraan, daripada melestarikan pepohonan hijau besar yang bisa membuat polusi di kota berkurang atau menyuruh warganya untuk lebih mencintai berjalan kaki dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.
Dan ternyata, pelebaran jalan itu tak berarti sama sekali. Karena jalan semakin lebar, tetapi kendaraan yang memadatinya pun jauh bertambah banyak. Maka tak gunalah kau melebarkan jalan, macet itu tetap tercipta meski tak ada si komo yang lewat.
Belum lagi lapangan Gasibu. Saya selalu merasa keramaian yang dibuat di gasibu membawa malapetaka bagi trafik lalu lintas di jalan surapati. Tak sadarkah bahwa di ujung jalan surapati itu ada jembatan layang pasupati??? dan apa kabarnya jika ujung jalan layang itu diblokir oleh puluhan kendaraan yang sepertinya terpaksa "parkir" disana. Para pengguna jembatan pasupati pasti terjebak total di atas jembatan itu tanpa tahu kapan bisa keluar dari sana. Bagaimana jika tiba-tiba ada Ibu yang akan melahirkan terjebak disana? apakah dia harus melahirkan di tengah jalan raya yang macet? atau dia harus dilempar dari atas jalan layang ke jalan di bawahnya kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat??
Lapangan gasibu memang strategis sebagai arena pertunjukan hiburan untuk rakyat, tapi sama sekali tak ada sarana pendukung yang baik untuk para pengunjungnya. Menurut saya daripada pemkot menghabiskan banyak uang untuk membangun Monumen perjuangan Rakyat Jawa Barat dan beberapa taman indah di depan lapangan Gasibu, akan lebih baik jika mereka membuat lapangan parkir superluas dan arena khusus PKL disana. Karena setiap hari sabtu minggu, jalan surapati di depan gasibu mendadak berubah fungsi dari jalan raya utama menjadi pasar kaget sekaligus tempat parkir, alhasil seluruh trafik menuju jalan P.H.H Mustafa dan menuju jalan dago di arah sebaliknya terblokir. Dan monumen megah itu tak bisa melenyapkan kemacetan yang ada disana.
Jika Bandung memang sudah menentukan visi untuk menjadi kota wisata belanja seperti singapura, mungkin sudah saatnya pula pemkot bandung memikirkan untuk membuat sistem lalulintas yang efektif dan membangun infrastruktur penunjang yang bisa mengurangi efek negatif akibat lonjakan pengunjung pada hari libur. Karena titel 'Kota Belanja' saja tak lantas membuat kota ini menjadi lebih teratur. Sudah saatnya kita semua sadar akan konsekuensi dari sebuah keuntungan.
Bandung, 21 Juli 2007
nb : ini postingan pertama dimana kata 'gw' diganti menjadi 'saya', usulan dari seorang teman via japri, yup mari kita coba.
Friday, July 13, 2007
Bahasan susah (?)
Beberapa waktu yang lalu gw ngunjungin salah satu blog senior gw di kantor sekaligus temen ngobrol yang asik banget (^^), mbak Hani. Disitu ada tulisan yang judulnya "about a friend", membuat gw berpikir kembali masalah tersebut. "friend" disini punya arti yang beda ama "friend" yang didefinisikan dari komik 20th Century Boy, "friend" disini artinya teman hidup sepanjang hayat, alias manusia yang entar jadi suami atau istri kita.
Setiap cewek seumuran gw atau lebih tua dari gw yang belum nikah, mungkin udah standarnya ngomongin masalah nikah sekarang-sekarang ini. Entah karena udah kepengen, entah karena lagi kasmaran-kasmarannya banget ama pacarnya, entah karena baru baca Diorama Sepasang Al-Banna atau Di atas Sajadah Cinta -yang konon bikin orang pengen nikah sehabis bacanya- atau karena orang tuanya udah ngajak ngobrol soal kemungkinan dia nikah. Untuk kondisi yang terakhir ini gw termasuk mengalami, nyokap gw udah mulai interogasi soal 'gw punya cowok gak?' atau 'kenapa belum ada yang dateng kalo malem minggu?' ...Ah...pliss deh, masih jaman ya malem mingguan???
Ya begitulah, gw bingung musti jawab apa karena pasti ujungnya debat panjang ama nyokap gw, jadinya gw jawab:
"put gak akan mikirin itu sebelum aa guna nikah dan sebelum kerjaan put mapan, titik!"
jawaban gak kuat sebenernya, tapi bisa bikin nyokap gw diem untuk sementara, minimal ampe kakak gw nikah.
Soal "the one"-nya, "a friend" kalo istilah mbak Hani-nya. Selama ini gw ngerasa paling males setiap kali harus berurusan ama "mencintai seseorang", karena apa? karena gw ngerasa gw terlalu cinta ama diri gw sendiri. Ada beberapa orang ,seperti keluarga, yang gw cintai. Itu karena gw ngerasa mereka mencintai gw lebih dari diri gw sendiri. Karena itu gw bisa bener-bener cinta ama mereka, gak ada pamrih sama sekali dan selalu jadi orang yang bisa gw andalkan. Nah terus, gimana cara orang lain yang notabene bisa dibilang "total stranger" buat gw, bisa dateng ke hidup gw dan bilang "aku cinta kamu, mari kita menikah" dan gw ngejawab "aku juga cinta kamu, ya, mari kita menikah", tidak segampang itu.
Gw pernah ngasih komen di blog-nya Batari, "Mungkin memang harus disimpen sesuatu yang menjanjikan di ujung jalan sana supaya lu seneng buat lewat jalan itu. Tapi bisa juga milih temen yang enak untuk jalan supaya tetep seneng buat lewatin jalan itu". Itu konteksnya luas, bisa urusannya soal hidup dan pernikahan, bisa juga soal KP dan tempat kopi ^^ Dan itulah yang gw pake dalam kaitannya untuk membuat hidup gw lebih enak.
Berkaitan dengan urusan nikah itu sendiri, "temen yang enak untuk jalan" ini belum bisa gw definisikan. Dan kalo belum ada definisinya, gimana gw bisa tau masalahnya dan terus nyari solusinya??? Mungkin kriteria "orang yang mencintai gw lebih dari diri gw sendiri" itu bisa dijadiin satu definisi buat "temen yang enak untuk jalan". Tapi gimana caranya gw nyadar tentang hal itu?? gw sendiri butuh kurang lebih 13 tahun hidup bareng sampai akhirnya gw ngerasa kalo keluarga gw luarbiasa cinta ama gw. Terus apa gw musti 13 tahun dulu pacaran ama orang sampai gw sadar "ok, he's the one, let's get married", oh pliss deh put, gak lucu banget.
Belum lagi urusan sosial ama kehidupan "dia"-nya. Ketika hal udah menyangkut ama orang lain, variabel yang terlibat di dalamnya pun semakin kompleks, hubungannya gak lagi "apa yang gw mau" atau "apa yang gw butuhin" atau "ah gw begini..."atau "ah gw begitu...", ini udah bergantung ama kata "kita" dimana ada dua individu, yang masing-masing berhubungan dengan individu-individu lainnya yang akan terus belanjut dengan individu-individu lainnya dan seterusnya. Dan semakin gw pikirin, semakin gw gak ngerasa nyaman dengan hal itu.
Gw bukan tipe manusia yang bisa berpikir sederhana, makanya hal yang nampak sederhana pun mungkin bisa jadi berpuluh kali lebih rumit kalo gw yang mikirin, apalagi kalo urusannya udah ama diri gw sendiri. Bahasan soal pernikahan ini udah cukup menghantui gw selama 3 tahun terakhir, semenjak gw masuk ke dunia kampus yang entah kenapa cewek-cewek nya kayaknya semangat banget buat ngomongin hal ini. Tapi seperti yang gw bilang di komen yang ada di artikel mbak hani, gw gak mau capek.
Katanya "jodoh itu ada di tangah Tuhan", dalam catatan takdir kita sudah tertulis entar kita ama siapa, kapan nikahnya, dimana nikahnya dan kehidupannya bakal kayak apa. Berdasar hal ini gw termasuk cukup "cari aman" banget soal masalah pernikahan. Gw berkeyakinan bahwa jodoh gw itu udah ada, jadi gak perlu gw pikirin ribet-ribet, entar kalo udah waktunya dia juga datang. Gw gak mau nyapein diri sama urusan sakit hati karena suka ama orang terus ditolak, atau jadian ama orang terus putus, atau pacar yang terlalu sayang, atau apapun tetek bengek masalah "percintaan" itu.
Gw nikah atau gak, bukan gw yang nentuin, sama kayak sekarang gw masih idup atau gak bukan gw yang nentuin. Gw gak mau terburu-buru, saat ini gw ngerasa gw sangat tidak siap dengan hal itu. Entah nanti. Sekarang mungkin saatnya belajar, bukan sekedar soal pernikahan, soal ngedidik anak, atau soal mencintai seseorang, tapi juga belajar untuk terus hidup sebagai manusia progresif yang semakin baik hari-ke-harinya.
Seperti judul postingan ini, mungkin ini bahasan susah. Gw bisa berdebat panjang lebar ama temen gw Uti lewat YM kalo udah nyangkut hal ini. Tapi mungkin buat beberapa orang ini adalah hal yang sangat sederhana. Setiap orang pasti ada waktu dan cara masing-masing. Ya, gw mah, cari aman aja, gak capek asal selamat, amien...^^
Setiap cewek seumuran gw atau lebih tua dari gw yang belum nikah, mungkin udah standarnya ngomongin masalah nikah sekarang-sekarang ini. Entah karena udah kepengen, entah karena lagi kasmaran-kasmarannya banget ama pacarnya, entah karena baru baca Diorama Sepasang Al-Banna atau Di atas Sajadah Cinta -yang konon bikin orang pengen nikah sehabis bacanya- atau karena orang tuanya udah ngajak ngobrol soal kemungkinan dia nikah. Untuk kondisi yang terakhir ini gw termasuk mengalami, nyokap gw udah mulai interogasi soal 'gw punya cowok gak?' atau 'kenapa belum ada yang dateng kalo malem minggu?' ...Ah...pliss deh, masih jaman ya malem mingguan???
Ya begitulah, gw bingung musti jawab apa karena pasti ujungnya debat panjang ama nyokap gw, jadinya gw jawab:
"put gak akan mikirin itu sebelum aa guna nikah dan sebelum kerjaan put mapan, titik!"
jawaban gak kuat sebenernya, tapi bisa bikin nyokap gw diem untuk sementara, minimal ampe kakak gw nikah.
Soal "the one"-nya, "a friend" kalo istilah mbak Hani-nya. Selama ini gw ngerasa paling males setiap kali harus berurusan ama "mencintai seseorang", karena apa? karena gw ngerasa gw terlalu cinta ama diri gw sendiri. Ada beberapa orang ,seperti keluarga, yang gw cintai. Itu karena gw ngerasa mereka mencintai gw lebih dari diri gw sendiri. Karena itu gw bisa bener-bener cinta ama mereka, gak ada pamrih sama sekali dan selalu jadi orang yang bisa gw andalkan. Nah terus, gimana cara orang lain yang notabene bisa dibilang "total stranger" buat gw, bisa dateng ke hidup gw dan bilang "aku cinta kamu, mari kita menikah" dan gw ngejawab "aku juga cinta kamu, ya, mari kita menikah", tidak segampang itu.
Gw pernah ngasih komen di blog-nya Batari, "Mungkin memang harus disimpen sesuatu yang menjanjikan di ujung jalan sana supaya lu seneng buat lewat jalan itu. Tapi bisa juga milih temen yang enak untuk jalan supaya tetep seneng buat lewatin jalan itu". Itu konteksnya luas, bisa urusannya soal hidup dan pernikahan, bisa juga soal KP dan tempat kopi ^^ Dan itulah yang gw pake dalam kaitannya untuk membuat hidup gw lebih enak.
Berkaitan dengan urusan nikah itu sendiri, "temen yang enak untuk jalan" ini belum bisa gw definisikan. Dan kalo belum ada definisinya, gimana gw bisa tau masalahnya dan terus nyari solusinya??? Mungkin kriteria "orang yang mencintai gw lebih dari diri gw sendiri" itu bisa dijadiin satu definisi buat "temen yang enak untuk jalan". Tapi gimana caranya gw nyadar tentang hal itu?? gw sendiri butuh kurang lebih 13 tahun hidup bareng sampai akhirnya gw ngerasa kalo keluarga gw luarbiasa cinta ama gw. Terus apa gw musti 13 tahun dulu pacaran ama orang sampai gw sadar "ok, he's the one, let's get married", oh pliss deh put, gak lucu banget.
Belum lagi urusan sosial ama kehidupan "dia"-nya. Ketika hal udah menyangkut ama orang lain, variabel yang terlibat di dalamnya pun semakin kompleks, hubungannya gak lagi "apa yang gw mau" atau "apa yang gw butuhin" atau "ah gw begini..."atau "ah gw begitu...", ini udah bergantung ama kata "kita" dimana ada dua individu, yang masing-masing berhubungan dengan individu-individu lainnya yang akan terus belanjut dengan individu-individu lainnya dan seterusnya. Dan semakin gw pikirin, semakin gw gak ngerasa nyaman dengan hal itu.
Gw bukan tipe manusia yang bisa berpikir sederhana, makanya hal yang nampak sederhana pun mungkin bisa jadi berpuluh kali lebih rumit kalo gw yang mikirin, apalagi kalo urusannya udah ama diri gw sendiri. Bahasan soal pernikahan ini udah cukup menghantui gw selama 3 tahun terakhir, semenjak gw masuk ke dunia kampus yang entah kenapa cewek-cewek nya kayaknya semangat banget buat ngomongin hal ini. Tapi seperti yang gw bilang di komen yang ada di artikel mbak hani, gw gak mau capek.
Katanya "jodoh itu ada di tangah Tuhan", dalam catatan takdir kita sudah tertulis entar kita ama siapa, kapan nikahnya, dimana nikahnya dan kehidupannya bakal kayak apa. Berdasar hal ini gw termasuk cukup "cari aman" banget soal masalah pernikahan. Gw berkeyakinan bahwa jodoh gw itu udah ada, jadi gak perlu gw pikirin ribet-ribet, entar kalo udah waktunya dia juga datang. Gw gak mau nyapein diri sama urusan sakit hati karena suka ama orang terus ditolak, atau jadian ama orang terus putus, atau pacar yang terlalu sayang, atau apapun tetek bengek masalah "percintaan" itu.
Gw nikah atau gak, bukan gw yang nentuin, sama kayak sekarang gw masih idup atau gak bukan gw yang nentuin. Gw gak mau terburu-buru, saat ini gw ngerasa gw sangat tidak siap dengan hal itu. Entah nanti. Sekarang mungkin saatnya belajar, bukan sekedar soal pernikahan, soal ngedidik anak, atau soal mencintai seseorang, tapi juga belajar untuk terus hidup sebagai manusia progresif yang semakin baik hari-ke-harinya.
Seperti judul postingan ini, mungkin ini bahasan susah. Gw bisa berdebat panjang lebar ama temen gw Uti lewat YM kalo udah nyangkut hal ini. Tapi mungkin buat beberapa orang ini adalah hal yang sangat sederhana. Setiap orang pasti ada waktu dan cara masing-masing. Ya, gw mah, cari aman aja, gak capek asal selamat, amien...^^
Subscribe to:
Posts (Atom)